Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 29


__ADS_3

Wilson Hovers, ia merasa bahagia karena kemarin bisa menghabiskan waktu di pulau xxx bersama dengan Maureen. Mereka mengunjungi beberapa tempat wisata dan berakhir melihat matahari tenggelam. Mereka menghabiskan waktu bersama sejak pagi hingga sore, tetapi tidak ada satu kata 'lelah' pun yang keluar dari belah bibirnya.


Sejauh apa pun kakimu melangkah, jika orang tercinta di sampingmu saat itu, mana mungkin kau bisa menampakkan sirat dan mengeluarkan kata lelah? Yang ada kau akan tersenyum senang dan terus ingin menghabiskan hari bersama. Itu yang Wilson alami, rasanya delapan jam waktu yang ia habiskan bersama Maureen benar-benar kurang, jika bisa ia ingin berkeliling pulau xxx selama dua puluh empat jam penuh.


Wilson berdiri di depan pekarangan vila, menarik dan mengembuskan napas dalam, serta menghapus keringat yang sudah membasahi wajah menggunakan handuk kecil yang terkalung di leher. Untuk Wilson yang gila sekali olahraga, lari pagi adalah hal yang harus dilakukan jika tengah libur.


Ia lebih tambah bersemangat untuk lari pagi karena pemandangan laut yang biru serta celetukan Maureen yang berjanji akan membuatkannya segelas kopi hangat untuk diseduh. Ia sangat menyukai rasa dari kopi buatan Maureen, benar-benar mempunyai ciri khas sendiri dan sukses membuat Wilson merasa candu akan rasanya.


Saat ia memasuki halaman luas vila milik keluarganya—hendak masuk ke dalam—netranya tak sengaja menangkap sosok Veila yang kini tengah duduk di bangku, dekat balkon kamarnya yang menghadap langsung ke arah lautan luas. Angin laut menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya serta pandangan kosong yang wanita itu berikan membuat Wilson penasaran.


Apa yang tengah wanita itu pikiran? Wilson membatin.


Penasaran, tetapi tidak ingin tahu banyak, itu yang tengah Wilson rasakan. Sebenarnya, jika boleh jujur, wajah polos, wajah polos Veila tidak menggambarkan jika dia bukanlah seorang kupu-kupu malam. Namun, Wilson juga tidak bisa menghilangkan stereotipe tentang wanita yang sering keluar masuk kelab malam dengan mudah. Veila Amor, wanita itu pantas untuk dihancurkan. Lagipula, Veila Amor bisa diperbaiki dengan uang, 'kan?


Pria itu berharap jika ia benar-benar menghancurkan seorang wanita yang tepat. Namun, sekelebat bayangan tentang kekerasan fisik yang wanita itu dapatkan dari seorang pria berbadan tambun, ia menjadi sedikit ragu.


"Untuk apa aku memikirkannya? Jelas-jelas dia adalah wanita yang tepat. Leo dan aku sudah memastikan hal itu," tuturnya dengan kepala yang tergeleng. Tak mau memusingkan hal itu, ia pun segera melangkahkan kaki masuk ke dalam vilanya.


Senyumannya terpatri jelas, perasaan tak sabar untuk mencecap rasa manis dari teh buatan sang istri pertama pun benar-benar membuat langkahnya menjadi bersemangat.


"Sa—"

__ADS_1


Panggilan cinta terhadap sang istri pun terhenti di ujung lidah saat pandangan pria itu menangkap sebuah pemandangan yang tidak terduga.


Ia memundurkan langkahnya dalam diam, menyembunyikan tubuhnya di balik dinding yang dingin. Di balik tempat persembunyiannya, ia melihat Leo yang tengah memeluk istrinya dari belakang dengan bibir yang tak henti mengecup pipi Maureen. Apa yang sebenarnya tidak ia ketahui?


Wilson tahu menguping adalah perbuatan yang tidak baik. Namun, dalam kasus hal ini ia pantas untuk membuka telinganya lebar-lebar, mendengar dengan rinci setiap kalimat yang lolos dari bibir kedua orang tersebut.


"Leo, jangan seperti ini. Bagaimana jika Wilson melihat kita yang tengah berpelukan seperti ini?" keluhnya, berhenti sejenak untuk mengaduk kopi yang telah siapkan untuk Wilson. Tangannya segera meraih puncak tangan Leo yang kini tengah melingkar manis pada perutnya, berusaha untuk menyingkirkannya dengan segera. Ia takut jika Wilson tiba-tiba pulang dan melihat semuanya ini.


"Wilson belum pulang, aku yakin dia masih betah untuk lari pagi. Setidaknya beri aku waktu sebentar untuk memelukmu seperti ini. Lewat pelukan ini, aku hanya ingin bilang jika aku merindukanmu dan merasa cemburu saat kau berbagai ciuman dengan Wilson di depan gereja," ujar Leo, mengeluhkan semua kegundahannya. Apa Maureen tidak bisa merasakan rasa sakit hatinya? Padahal jelas-jelas Maureen menyadari keberadaan Leo saat itu dan keberadaan Veila tentunya.


"Leo, apa yang perlu kau takutkan dariku? Sudah jelas aku mencintaimu, menjanjikanmu sebuah perasaan cinta yang besar. Memberikan Wilson kasih sayang yang tidak sebanding dengan cintaku padamu, haruskah itu dipermasalahkan dan dijadikan alasan sebuah kecemburuan?" jelas Maureen, membuat Leo cemberut lalu meletakkan dagunya di atas pundak kekasihnya. Helaan napas Leo dapat Maureen rasakan, cukup menggelitik karena udaranya menyapa kulit leher.


Pria itu membuka bibirnya, dan sedetik kemudian berkata, "Kapan kau akan meninggalkan Wilson?"


Ia benar-benar tidak menyangka jika Maureen mengkhianatinya.


Jika seperti ini, cinta yang ia berikan sungguh hanya sebuah kesia-siaan, 'kan?


***


Matahari terlalu cepat berganti posisi dengan bulan. Tak terasa jika langit sudah mulai menggelap, bintang-bintang pun sudah bertaburan menghiasi langit malam. Setelah mendengar percakapan Maureen dan Leo pagi tadi, Wilson menghabiskan tehnya dengan cepat, menanggapi semua perkataan Maureen dengan kata-kata singkat lalu pamit untuk segera pergi ke kamar. Wanita itu mungkin tidak akan mengetahui perubahan sikapnya karena Wilson masih bisa tersenyum manis. Saat itu, Wilson benar-benar butuh waktu untuk menormalkan emosinya, tidak ingin terlihat sebagai pria yang menyedihkan karena telah diselingkuhi.

__ADS_1


"Leo Zhang sialan!" Umpatan yang selalu ia layangkan di dalam hati. Padahal selama ini ia sudah mempercayai Leo, menganggap jika pria itu adalah teman terbaiknya. Namun, ucapan tak terduga Leo lontarkan berhasil menghancurkan kepercayaan yang telah Wilson bangun. Ia kecewa, dengan Maureen maupun Leo.


Pria itu meremas tangannya, membuat sebuah kepalan yang membuat urat tangannya timbul. Dengan langkah yang sengaja dilambatkan, ia pun segera berjalan menuju sofa—tempat Maureen berada.


"Oh, Wilson—" kagetnya. Pahanya yang dijadikan bantal oleh Wilson sukses membuat Maureen dirinya terkejut.


Saat itu Maureen tengah membaca majalah, melihat-lihat pakaian bagus nan cantik yang hendak ia beli, pantas ia kaget saat Wilson tiba-tiba langsung membaringkan diri dengan pahanya sebagai bantalan kepala. Lagipula, tak biasanya Wilson melakukan hal ini, katakan saja ini adalah pertama kalinya.


"Kenapa kau terkejut, hmm?" tanya Wilson seraya memperhatikan wajah Maureen, segaris senyum pun terukir pada bibirnya.


Sang istri menggeleng, lalu menyahut seadanya. "Tidak, hanya saja kau membuatku sedikit kaget." Maureen juga tersenyum manis, membuat Wilson menjadi tambah sedih. Diam-diam ia masih berharap untuk tidak mempercayai pendengarannya pagi tadi.


Setelah kalimat yang Maureen keluarkan beberapa menit lalu, mereka berdua pun terdiam, seperti kehabisan bahan pembicaraan. Hal itu tentu membuat Maureen merasa heran, tetapi tidak berani untuk bertanya.


Tak berapa lama setelahnya, kedua sudut bibir Wilson tertarik, membuat sebuah senyum terpatri. "Maureen, kau tahu, aku sangat mencintaimu. Besarnya cintaku padamu mungkin tidak akan pernah bisa terhitung dengan jari ataupun kalkulator. Aku sungguh sudah tergila-gila padamu, dan berjanji untuk tidak menyakitimu sebanyak apa pun itu. Lalu, kau juga mencintaiku, 'kan?" Wilson bertanya, menatap wajah istrinya dari arah bawah, menemukan ketidak nyamanan pada raut wajahnya.


"Tentu, kau tahu, aku memberikanmu kasih sayang karena aku sangat menyayangimu, Wil," jawab Maureen, membuat Wilson buru-buru mengangkat kepalanya dari paha sang istri. Ternyata benar, selama ini Maureen tidak pernah mencintainya dan hanya Wilson lah yang memberikan seluruh hatinya pada sang istri, tanpa balasan setimpal tentunya.


Dan juga, Wilson merasa bodoh karena ia baru sadar jika sejak pertama kali mereka menjalin hubungan sampai dengan menikah, tidak ada kata 'aku mencintaimu' yang keluar dari bibir Maureen.


Yang selalu Wilson dengar adalah 'aku menyayangimu'.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2