
"Mama—"
"Diam Maureen Cruz! Kau pikir ibu akan tinggal diam saja? Lepaskan tanganmu dari pakaianku!" bentak Nyonya Cruz seraya menepis tangan Maureen yang sejak tadi menarik baju mahalnya.
Saat ini mereka berdua tengah berada di pekarangan depan rumah keluarga Hovers dengan kondisi Nyonya Cruz yang terus membentak Maureen, menyuruhnya untuk berbicara langsung dengan nyonya Hovers agar bisa mendapatkan keadilan.
Maureen menggelengkan kepalanya, tak berhenti untuk meraih pakaian sang ibu, menggenggamnya tanpa henti sembari berharap agar ibunya mau berbalik arah untuk pulang. Namun, Nyonya Cruz adalah orang yang sangat keras kepala, tidak akan pulang dengan tangan kosong karena ia sudah membuang tenaga untuk menyambangi hunian mewah ini.
Tak peduli dengan mata jelalatan para pelayan yang menyambut kedatangan ia dan ibunya, Maureen tetap memohon kecil tanpa lelah, membujuk ibunya agar segera pulang karena menemui orang tua Wilson tidak akan menyelesaikan semuanya.
Mendengar keributan yang berasal dari luar serta disambangi langsung oleh salah satu pelayan, Nyonya Hovers pun segera turun dan menghampiri besannya yang saat ini tengah memarahi anaknya tersebut.
Melihat pemandangan di depannya, sungguh membuat Nyonya Hovers merasa risih. Bagaimana ia tidak merasa terganggu saat mendengar besannya tersebut mengatai anaknya sendiri—Maureen dengan panggilan 'goblok'? Terkesan rendahan untuk ukuran seorang anak di mata orang tua.
Beruntung sekali selama ini ia tidak pernah berkata kasar pada anak lelakinya.
__ADS_1
"Sudahlah, apa yang kalian debatkan? Apa tidak malu menjadi perbincangan para pelayan yang melihat?" sungut Nyonya Hovers, berusaha melerai karena ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
Jujur saja, Nyonya Cruz berasal dari keluarga kaya, tetapi kenapa mulutnya seperti seseorang yang tidak menamatkan pendidikan sekolah dasar? Apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Maureen yang mendapat julukan 'goblok' dari ibunya sendiri?
Mendengar suara leraian Nyonya Hovers, kedua ibu dan anak tersebut pun langsung berhenti berdebat, saling menatap sejenak dan kemudian serempak membungkukkan badan.
Walaupun sedikit berat, tetapi Nyonya Hovers tetap harus tersenyum dan tidak memarahi Nyonya Cruz atas tingkahnya barusan. Ia begitu mengenal tempramen Nyonya Cruz seperti apa, dan tak mau ikut perdebatan kecil yang campur dalam sewaktu-waktu bisa membesar dengan sendirinya karena ego tak pernah mau mengalah.
Tak mau menyapa lebih atau sekedar berbasa-basi, Nyonya Cruz pun mulai berucap, "Kenapa Maureen-ku seperti dianak tirikan? Kenapa Wilson lebih memerhatikan istri barunya daripada Maureen yang sudah lebih dulu dipersunting? Jangan mentang-mentang anakku tidak bisa hamil, jadi kalian sekeluarga mengabaikannya dan tidak memperhatikannya!" sentak Nyonya Cruz, kali ini ia tidak mau berbicara dengan lemah lembut seperti biasanya.
"Mama, berhentilah—"
"Asal kau tahu, Nyonya Hovers! Apa maksudnya Wilson dan Veila pergi ke Paris tanpa mengajak Maureen? Meninggalkan anakku sendiri di rumah besar dengan para pelayan! Pokoknya, aku tidak terima jika anakku diperlakukan seperti ini oleh Wilson!" la melanjutkan seraya mengatur napasnya kembali agar bisa kembali normal.
"Mereka hanya pergi dua hari...," gumam Maureen, tetapi bisa ditangkap oleh pendengaran Nyonya Hovers yang masih tajam.
__ADS_1
Sekarang ini Nyonya Cruz boleh berbicara dengan nada keras padanya, dan bukan berarti nyonya Hovers harus menyikapinya dengan keras juga. Jika seperti itu, kapan masalah sepele ini akan menemukan titik terang? Nyonya Cruz, wanita paruh baya itu hanya harus ditenangkan saja.
Hal pertama yang nyonya Hovers lakukan adalah berdehem pelan, membuat perhatian tertuju padanya. Sekilas ia tersenyum, berjalan mendekat sebelum akhirnya berhenti di depan nyonya Cruz dan mulai mengelus bahu besannya lembut.
"Aku bahkan tidak tahu jika Wilson dan Veila pergi berdua ke Paris. Dan masalah anakmu, kami sama sekali tidak menganak tirikannya. Wilson tak pernah mencampakkan Maureen, dan informasi itu aku dapatkan langsung dari curahan hati menantuku. Menyinggung masalah kehamilan, bukankah Wilson selaku suami harus berada di sebelah Veila? Bahkan dulu sewaktu aku hamil, suamiku selalu berada dua puluh empat jam di sampingku. Dan seperti yang kita semua tahu, hal itu adalah sebuah kewajaran." Nyonya Hovers menanggapinya dengan tenang, sementara saat ini ibu Maureen masih belum bisa meredakan kekesalannya.
"Cih-" Tangan nyonya Hovers yang berada pada bahu Nyonya Cruz pun tertepis sempurna, membuat mata Maureen membelalak karena sifat asli sang ibu mulai nampak.
"Jika Wilson masih mempedulikan istri keduanya dan mulai mencampakkan anakku, lebih baik ceraikan saja Maureen—"
"Mama!" pekik Maureen, merasa tidak tahan lagi dengan perkataan ibunya. Ia hampir menangis karena perkataan terakhir sang ibu. Ini masalah sepele, hanya ditinggal pergi selama dua hari dan itupun tidak membuat Maureen merasa terbebani atau merasa dinomorduakan.
Namun, ditangan ibunya, masalah kecil ini terlihat dibesar-besarkan, berlakon seakan Maureen lah yang paling menderita karena kehadiran Veila.
Nyonya Cruz menatap Maureen dengan tajam, seakan memberitahu sang anak agar tidak menyudutkannya dan justru membela suami sahnya. Lalu, selang beberapa detik, Nyonya Cruz kembali menatap Nyonya Hovers dengan tak kalah tajamnya.
__ADS_1
"Nasehati Wilson atau aku akan memaksa Maureen untuk menggugat cerai anakmu!" ucapnya, membuat Nyonya Hovers sedikit kaget dan menatap miris saat melihat Maureen yang ditarik paksa oleh Nyonya Cruz. la tidak menyangka jika sifat asli besannya seperti ini, karena selama ini, Nyonya Cruz dikenal sebagai wanita yang sopan dan baik hatinya.
Bersambung ....