Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 26


__ADS_3

Bagi Maureen, menjadi bagian hidup dari keluarga Cruz itu sangat memberatkan. Memang, selama hampir tiga puluh tahun hidupnya, ia selalu hidup dengan materi yang melimpah ruah, setiap keinginannya selalu dipenuhi, ia juga selalu menempuh pendidikan di sekolah terbaik dan diberi makanan sehat setiap harinya.


Awalnya Maureen pikir hidupnya sangat menyenangkan, menganggap jika dirinya adalah seorang anak perempuan yang beruntung karena telah dilahirkan sebagai anak dari pebisnis unggul. Namun, semakin bertambahnya usia, Maureen rasa kehidupannya benar-benar menyedihkan. Sekali saja, ia iri dengan teman SMA nya, lahir dari keluarga sederhana, tetapi bisa tersenyum lebar, seakan tak punya beban hidup.


Ia ingin mempunyai orang tua seperti orang tua temannya. Jika diberi kesempatan, bolehkah ia bertukar hidup sehari saja dengan temannya? Sekali saja ia tak mendengar ungkitan ibunya atas biaya yang sudah dia keluarkan untuk dirinya? Nyatanya, menjadi anak orang kaya bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan dan dikagumi. Ia tertekan, sungguh.


Namun, beruntung sekali, rasa sakit akibat ungkitan ibunya sirna begitu saja saat ia mulai membina rumah tangga bersama Wilson. Dari sana, Maureen mendapatkan sebuah cinta yang besar, lebih besar dari yang orang tuanya berikan. Sebuah cinta yang tulus tanpa pamrih.


Jujur, Maureen terharu akan benih cinta yang Wilson taburkan padanya. Namun sayang, saat itu dan mungkin hingga sekarang, tidak ada kata 'tumbuh' pada benih tersebut. Selamanya, benih tersebut tetap akan menjadi benih, tidak bisa dituai karena tak memiliki hasil. Maureen sangat menyangkan karena selama ini ia hanya membutuhkan Wilson untuk menghisap segala luka hati.


"Maureen." Wilson menyerukan namanya sembari menahan kepergian Maureen.


Diremasnya pelan lengan sang istri, lalu dibalikkan tubuhnya. Hati Wilson turut menangis saat melihat netra wanita kekasihnya sudah dibanjiri oleh air mata.


"Maafkan aku, aku sudah menyakitimu," ujar Wilson, tangannya bergerak perlahan, mendekat, dan kemudian menangkup wajah Maureen. Dihapusnya air mata yang sudah membasahi pipi.


Sedangkan Maureen masih terus menangis, membuat Wilson terus-terusan menghapus air mata tanpa lelah. Ia tidak akan berhenti untuk menghapus jejak luka sang istri, sampai nanti jika wanitanya sudah berhenti mengeluarkan segala kepedihan, barulah ia berhenti.


Wilson mengira jika Maureen menangis karena kecewa saat melihat Wilson berdiri dengan wanita lain di atas altar, mengucapkan janji suci sekali lagi dan mengikat diri dengan wanita lain. Namun, kenyataannya, perkiraan Wilson tak sepenuhnya benar.


Memang, Maureen merasa sedikit sakit hati saat mendengar bibir Wilson menyerukan janji pernikahan tersebut, tetapi yang membuatnya menangis bukanlah hal itu, melainkan ia merasa terluka dengan desakan ibunya. Dan sekarang, ibunya pasti tersenyum senang dan bisa bernapas lega karena Wilson mengejarnya, meninggalkan Veila Amor di depan mimbar sendirian.


Maureen menggelengkan kepalanya, menandakan jika Wilson tidak perlu meminta maaf padanya. Selang beberapa detik, netra mereka berdua pun terkunci. Wilson yang memulai semua itu, tangannya yang menangkup perlahan mulai mengangkat wajah Maureen, membuat manik saling bertemu, saling beradu tatap selama beberapa saat. Mata bulat kepunyaan sang istri bagaikan memiliki sebuah sihir yang mampu membuat bibir Wilson menggumamkan sebuah pujaan. Dan Wilson paling benci jika mata cantik sang istri harus dibanjiri dengan air mata kesedihan.


"Bertahanlah sedikit lagi, Reen. Semua ini akan berakhir jika aku sudah memiliki keturunan. Seperti janjiku, beri aku waktu setahun, kau bisa menahan lukamu selama setahun, kan?" tanya Wilson dengan ibu jari yang mulai mengusap lembut pipi sang istri, membuat Maureen merasa benar-benar nyaman dengan perlakuan manis yang Wilson berikan.

__ADS_1


"Hatimu, apakah itu akan terbagi, Wil?" tanya Maureen, menempelkan telapak tangannya di area jantung Wilson. Tidak ada debaran abnormal, jantung suaminya berdetak normal.


Sempat terdiam sesaat, akhirnya Wilson pun menganggukkan kepalanya. "Tidak akan pernah, Maureen. Hatiku hanya untukmu, cinta dan kasih sayangku hanya milikmu. Tidak akan kubiarkan orang lain mencecapnya, sungguh," jawab Wilson, membuat sisi terdalam Maureen jadi tenang.


Maureen memaksakan senyumnya, jika seperti ini, bukankah ia menyakiti dua orang sekaligus? Wilson dan Leo, ia menyakiti dua pria yang telah memberinya banyak cinta. Dua sisi dalam dirinya, ia ingin memiliki dua pria itu di waktu yang bersamaan, sebab yang ia perlukan adalah cinta yang sesungguhnya.


Ia mencintai Leo, tetapi tak mau kehilangan kasih sayang Wilson.


"Maureen, percaya padaku. Aku hanya mencintaimu seorang," tutur Wilson, sirat kesungguhan terpancar jelas dari sorot matanya.


Ia menatap Maureen dengan dalam dan penuh rasa cinta. Mendapati jika wanitanya hanya tersenyum, Wilson pun kembali melayangkan pertanyaan, "Kau juga mencintaiku, kan Ren?" Pertanyaan yang sukses membuat bibir Maureen mengatup rapat. Ia memandangi Wilson, afeksi suaminya dapat ia rasakan, kemudian kepalanya terangguk.


Walau ia tak mendengar kalimat balasan cinta dari Maureen, Wilson tetap merasa senang. Anggukan sudah cukup membuktikannya, ya kan? Maureen mencintainya, Wilson yakin akan hal itu.


"Aku akan memberimu cinta yang lebih dan lebih banyak lagi, aku janji, Maureen," ujarnya, terlampau bahagia. Ya, itu yang Maureen inginkan, sambutan cinta.


Mereka berdua terlalu larut dalam romantisme, sampai tak sadar jika Leo mengintip dari balik pintu. Rasa sakit menyeruak di dada, menyerang pertahanan seorang Leo Zhang. Ia runtuh saat melihat wanita yang ia cintai berciuman dengan prianya—bukan pria asing karena Wilson adalah suaminya.


Namun, sedetik kemudian perhatian Leo teralihkan saat melihat sebuah cincin yang menggelinding, menabrak pentofelnya dan akhirnya berhenti tepat di depan sepatunya. Pria itu membungkuk, meraih cincin perak yang sempat menyita perhatiannya dan kemudian langsung berbalik. Didapatinya sosok Veila yang tengah berjalan ke arahnya, agak kesusahan karena dia mengenakan gaun pengantin.


Ia sempat disuruh oleh nyonya Hovers untuk membawa Wilson kembali ke gereja lagi. Karena memang pernikahan itu belum selesai, cincin juga belum terpasang di jari manisnya. Sedangkan Wilson dengan seenaknya pergi dan tidak kunjung kembali. Dengan cerobohnya, ia tak sengaja menjatuhkan cincin perak mahal tersebut, dan untungnya itu berhenti di depan sepatunya Leo, membuat ia tak harus kesusahan mencari benda kecil tersebut.


"Cincinnya—"


Tanpa mengatakan apa pun, Leo segera meraih tangan Veila, menyematkan cincin perak tersebut pada jari manis kecil istri sah Wilson Alexander Hovers. Sedetik kemudian pria itu tersenyum. "Cincinnya cantik. Asal kau tahu, aku yang membelinya, bukan Wilson."

__ADS_1


"A-ah, begitu." Veila bingung menghadapinya, membuat kata-kata itu keluar sendiri sebagai ucapan refleksnya. Ia menyukai cincin itu, bentuknya bagus dan desainnya simpel. Hanya tak menyangka saja, jika yang memilih cincin ini adalah Leo, bukan Wilson.


Saat Veila hendak menolehkan kepalanya ke arah luar, tiba-tiba saja pandangannya tertutupi oleh telapak tangan Leo.


"Jika kau melihat keluar, nanti kau akan melihat adegan ciuman secara live," sahut Leo, wajahnya sempat tertoleh ke arah luar sebentar, dan di saat ia masih mendapati jika ciuman antara Maureen dan Wilson belum berakhir, ia pun cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Terlalu sakit untuk melihatnya.


"Aku sudah pernah melihatnya, jadi kau tidak perlu menghalangi pandanganku," celetuk Veila seraya menurunkan telapak tangan Leo secara perlahan. Kemudian, secara tidak sengaja, pandangan mereka saling bertemu, sesaat.


***


Negara mana yang menjadi destinasi bulan madu terbaik? Jepang, Australia, Prancis, Italia, atau bahkan Finlandia? Lima tahun lalu, Wilson dan Maureen menyambangi negara Prancis sebagai tempat bulan madu. Negara yang indah, dengan lampu yang kelap-kelip menghiasi pusat kota. Bulan madu yang tak akan pernah Wilson lupakan sampai mati, dan sekarang, ia harus mencari tempat bulan madu, untuk yang kedua kalinya.


Sebenarnya ia ingin menolak perintah mamanya untuk berbulan madu. Bayangkan saja, menghabiskan waktu berdua dengan orang yang tak dicintai? Bukankah itu membosankan dan jatuhnya hanya membuang-buang waktu saja? Jika hanya untuk memproduksi anak, Wilson bisa melakukannya di kamar Veila ataupun di dalam kamar mandi, senyaman dirinya saja. Tidak perlu jauh-jauh untuk menyambangi negeri orang hanya untuk membuat anak. Namun, sang ibu tetap memaksa, membuat Wilson berdecak pelan dan terjebak lama di ruang tamu kediaman orang tuanya.


"Kau ingin pergi ke mana?" tanya Wilson seraya menyenggol lengan Veila. Gemas karena wanita itu hanya diam saja dan membebankan semua pikiran ini pada Wilson. Ck, sangat tidak aktif sekali. Wanita itu menggeleng pelan, tak mau menanggapi Wilson karena masih sakit hati dengan ucapan pria tersebut beberapa hari lalu.


"Wil, ayo putuskan. Hari sudah semakin malam, istrimu sudah terlihat lelah," desak sang ibu, membuat Wilson menggeram kesal, memaki Veila dalam hati karena wanita itu tak mau buka suara sedari tadi.


Pria itu menyenderkan kepalanya di sandaran sofa, memandang langit-langit seraya berpikir tentang tempat yang akan mereka kunjungi. Tidak perlu di tempat yang bagus dan berkesan jika hanya berdua bersama wanita seratus ribu dolarnya ini.


"Di Queen's saja," kata Wilson. Setidaknya tak banyak biaya yang dikeluarkan untuk pergi ke sana. Pria itu sudah punya rencana sendiri, bahwasanya, ia akan mengajak Maureen untuk turut ikut ke sana.


Mendapati jawaban itu, dahi nyonya Hovers berkerut, tanda tak setuju. "Queen's? Yang benar saja! Dulu kau dan Maureen pergi ke Prancis untuk berbulan madu. Kenapa levelmu menurun?" Tak terima, nyonya Hovers malah protes berkepanjangan. Selera anaknya ini terlalu rendahan karena Queen's masih berada di New York. Tidak bisakah Wilson sedikit high class dalam memilih tempat bulan madu?


"Mom, mau di mana pun itu tujuannya pasti sama saja. Mommy ingin cucu, 'kan? Lagipula Queen's sama bagusnya dengan tempat lain," ujar Wilson, kembali menyenggol lengan Veila, memberi sebuah tatapan tajam yang mengisyaratkan agar Veila segera mengeluarkan sepatah kalimat. Wilson juga ingin cepat pulang dan berhenti berdebat dengan mamanya.

__ADS_1


"Aku juga ingin pergi ke Queen's, Mom," ucap Veila, membuat nyonya Hovers tak bisa menyela dan mengajak Wilson berdebat lagi. Benar apa yang Wilson katakan, tujuan mereka hanya satu, yaitu buat anak. Tidak perlu jauh-jauh sampai menyeberang ke negeri orang hanya untuk menyemburkan benih ke dalam rahim, kan?


"Baiklah, kiriman mommy foto jika kalian sudah berada di Queen's. Segera jadwalkan keberangkatan, mengerti?" Dan perkataan tersebut hanya ditanggapi oleh anggukan lelah dari kedua pihak.


__ADS_2