
Pulau xxx adalah salah satu pulau terbesar yang menjadi destinasi favorit masyarakat untuk liburan ataupun berbulan madu. Veila salah satunya, dulu sekali, saat mendiang ibunya masih hidup, ia selalu berkata :
Jika nanti aku punya uang, aku akan bawa mama pergi ke pulau xxx. Mari menghabiskan waktu di sana, Ma. Hanya kita berdua.
Saat itu ibunya hanya mengangguk dan tersenyum, sedikit terharu mendengar impian kecil sang anak. Keinginan kecil anak semata wayangnya membuat sang ibu berusaha untuk untuk tetap hidup, berjuang melawan penyakit yang sudah ia derita saat Veila masih kecil. Bukan hanya Veila, dirinya juga ingin mewujudkan keinginan kecil tersebut, sangat ingin malahan. Namun menyedihkannya, waktu tak mengizinkan mereka berdua untuk pergi ke pulau xxx bersama.
Ingin rasanya Veila terkekeh geli dan menyumpahi perkataannya di saat ia masih pacaran dengan Charlie.
Aku ingin menghabisi waktu denganmu di pulau xxx, Char.
__ADS_1
Kalimat yang cukup menggelikan dan membuat Veila menyesal karena telah mengatakan hal menjijikkan tersebut. Sepertinya ia tak akan pernah diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih di pulau indah itu. Buktinya saat ini, ia pergi ke pulau xxx dengan orang-orang yang tak terduga—Wilson Hovers, Maureen Cruz, dan Leo Zhang. Entah apa yang akan terjadi di pulau xxx nanti, tetapi yang pasti, Veila menebak jika ia akan jadi manekin hidup yang tidak tahu harus melakukan apa.
Mereka sudah sampai di pulau xxx kemarin pagi. Menginap di sebuah vila besar milik keluarga Hovers, bahkan Veila sempat bingung untuk tidur di kamar yang mana, sebelum akhirnya memilih sebuah kamar kecil yang berada di lantai dua, dekat dengan perpustakaan besar. Pemandangan yang ditawarkan oleh kamar tersebut cukup memuaskan, ia bisa melihat langsung lautan yang indah beserta menangkap suara deburan ombak yang menenangkan. Tak lupa juga angin sepoi-sepoi yang selalu masuk ke kamar melalui jendela besar yang terbuka, menerbangkan helaian rambut panjangnya, sangat menyejukkan.
Tidak perlu ditebak, setelah datang ke vila ini dan beristirahat sejenak, Wilson langsung mengajak Veila untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang menarik. Heran saja, sebenarnya untuk apa dirinya ikut ke pulau xxx jika Wilson hanya mau menghabiskan waktunya bersama sang istri tercinta, sedangkan dirinya hanya berdiam diri di dalam vila ditemani dengan rasa kesepian.
Jika Wilson pintar, dia bisa saja hanya pergi dengan Maureen dan meninggalkan Veila di Manhattan. Untuk apa manusia diberi akal jika Wilson saja tak pandai berbohong? Setidaknya demi kebaikan dirinya dan juga Wilson, iya kan? Buat anak hanya sekedar wacana, melihat Wilson yang terlalu mencintai Maureen membuat Veila yakin jika pria itu tidak akan menyentuhnya. Setidaknya wanita itu lega karena opininya, disentuh Wilson bukanlah hal yang baik dan pastinya akan membuat penderitaan baru dimulai.
Awalnya, seperti biasa, Veila tidak mau menerima ajakan Leo. Namun, pria itu memaksa, menarik Veila dengan lembut serta mengeluarkan raut wajah termanis dan terimutnya agar si wanita mau ikut pergi mengunjungi kawah tersebut.
__ADS_1
Akhirnya Veila menerima ajakan untuk pergi bersama Leo, walau terpaksa, tetapi ia juga antusias. Teman-teman di sekolahnya dulu pernah bercerita tentang indahnya matahari tenggelam jika dilihat dari kawah raksasa, dan jujur, itu membuat Veila iri. Kapan ia akan pergi ke sana, dan bersama siapa ia akan menamatkan hari?
Hingga kemudian, di masa depan—tepatnya kemarin—Veila melihat betapa indahnya sang surya menenggelamkan diri bersama dengan Leo Zhang, si pria baik yang entah bagaimana bisa selalu datang di saat ia tengah menghadapi kesulitan, bagi Veila. Mungkin setelah ini, mengingat betapa baiknya Leo, ia akan memikirkan kembali untuk menerima ajakan pertemanan yang pria itu ucapkan saat mereka sampai di vila.
Leo tidak terlalu buruk, mungkin akan bisa dijadikan bahu kanan yang baru.
Veila butuh sandaran. Sebelum meninggal, ibunya adalah bahu kanannya, tetapi semenjak sang ibu sudah tiada, ia kelabakan untuk menemukan pengganti. Berharap Charlie adalah bahu kanan yang baru, tetapi sayangnya pria berparas tampan tersebut hanya singgah sesaat, si iblis yang berhasil menjeratnya. Tidak, Veila tidak mempunyai maksud untuk memandang Leo sebagai seorang pria, ia hanya membutuhkan seorang teman, setidaknya agar ia bisa membagi luka, berkeluh kesah, dan bisa bersandar guna melepas semua keresahan.
Leo Zhang, bukankah dia bisa menjadi teman yang baik?
__ADS_1
Bersambung ....