Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 77


__ADS_3

"Belum lelah, kan? Aku tidak tahu jika toko yang direkomendasikan Mommy tutup hari ini." Wilson bertanya dengan nada yang sedikit khawatir. Merasa tidak enak sekaligus bersalah karena telah membawa Veila berkeliling untuk mencari toko perlengkapan ibu dan bayi.


Apalagi Wilson sempat mengumpat dalam hati karena maps menunjukkan arah yang salah, membuatnya harus putar arah dan membawa Veila lebih jauh lagi. Sedangkan Veila menggelengkan kepalanya, menandakan jika ia belum lelah. Walaupun Wilson tidak tahu apa yang sedang Veila rasakan, apakah istrinya sedang menyembunyikan rasa lelah atau tidak, Wilson tetap merasa tidak enak. Tentu saja, ada beban lain yang perlu Veila bawa saat sedang berjalan.


"Baby, jangan nakal, ya. Jangan buat mamamu kewalahan, mengerti?" ujar Wilson sembari mengulurkan tangan, mengusap lembut perut Veila dari luar pakaian dengan penuh cinta.


Ternyata, menemani istri yang sedang hamil rasanya sangat menyenangkan. Karena ini juga Jack dan Leo mempunyai kerja lebih setiap hari― Wilson membebankan sebagian pekerjaannya.


“Oh ya, selain perlengkapan bayi, kita akan membeli perlengkapan untukmu juga," lanjutnya, membuat kening Veila berkerut, tidak tahu apa yang musti ia beli.


"Untukku juga?" Pertanyaan yang hanya dibalas Wilson dengan anggukan.


Daripada Veila, Wilson teramat sangat mengetahui apa saja tentang ibu hamil. Ia selalu berselancar di internet tiap malamnya, jika kurang puas dengan jawaban dari sana, maka ia akan berkonsultasi langsung dengan dokter kandungan yang menangani Veila. Bahkan, Wilson pernah tersipu karena dokter menyebutnya sebagai suami yang perhatian. Tak mau berdusta, Wilson menyukai pujian yang diberikan dokter. Itu juga membuatnya tambah bersemangat dalam memperhatikan dua orang berharga dalam hidupnya.


Setelah memakan waktu satu jam lebih sepuluh menit perjalanan, mereka berdua pun sampai di toko peralatan ibu dan bayi yang nyatanya berada sangat dekat dengan pusat perbelanjaan di tengah kota. Sedikit menyesal kenapa ia lebih memilih untuk mendatangi toko rekomendasi ibunya yang berjarak lumayan jauh karena sebenarnya ada toko yang lebih dekat dan kualitasnya tak kalah bagus. Mereka berdua disambut oleh pegawai toko yang sangat cantik dan memiliki senyuman ramah, ditanyai mengenai apa yang bisa ia bantu, dan mengarahkan Wilson serta Veila untuk melihat-lihat barang yang mereka jual.


"Karena jenis kelamin anak kita laki-laki, apakah rompers ini cocok?" Wilson memperlihatkan senuah rompers berwarna pastel yang ada gambar lebahnya, sangat lucu jika dipakai oleh bayi apa pun jenis kelaminnya.


Biasanya juga bayi akan lebih terlihat imut jika baru lahir, karenanya Wilson berinisiatif untuk membuat bayi tampannya terlihat imut saat dipandang. Saat sudah semakin besar, barulah Wilson membelikan pakaian yang cocok dikenakan oleh anak laki-laki umumnya.


"Rompersnya pasti cocok dikenakan, tapi aku tidak suka warnanya," ujar Veila sembari menggigit bibir dalamnya. Mengetahui itu, Wilson pun segera melipat dan meletakkan rompers itu di tempatnya semula, memberi Veila kesempatan sepenuhnya untuk memilih warna yang ia suka.


Setelah memilih rompers cukup lama karena Veila yang sedikit pilih-pilih dalam hal warna, mereka pun segera beralih untuk membeli sleepsuit dan bibs yang letaknya masih satu arah dengan rompers. Kali ini Veila mempersilakan Wilson untuk memilihnya karena merasa iba saat mendengar helaan napas Wilson, pria itu belum bisa move on dari rompers pilihannya yang tak jadi dibeli.


Wilson sempat bertanya terlebih dahulu, apakah ia benar-benar diizinkan untuk memilih. Dan setelah Veila mengangguk sebanyak tiga kali akibat pengulangan pertanyaan yang jumlahnya sama dengan anggukan, Wilson pun tersenyum sembari memamerkan giginya dan mulai memilih.

__ADS_1


Setelah membeli apa pun yang sekiranya diperlukan saat anaknya lahir nanti, Wilson pun segera menggiring Veila menuju perlengkapan ibu hamil. Kali ini ia harus membelanjakan Veila karena si pria sadar kalau dirinya jarang sekali membeli sesuatu untuk Veila dan juga efek Veila yang selalu menolak jika ditawari.


“Eh, untukku tidak usah-" Veila menolak, tetapi jari telunjuk Wilson sudah bertengger manis di bibirnya, mengatakan jika dirinya tidak menerima penolakan sama sekali. Tak mau membuat Wilson merengek di tempat umum yang ramai seperti ini, Veila pun menurut mengikuti Wilson dalam memilih hal-hal yang akan dibeli.


“Pertama, kau harus banyak membeli pakaian baru. Mommy bilang bahan bajunya harus dari katun, rayon, atau spandek. Tapi kurasa lebih baik katun saja karena bisa menyerap keringat dengan baik," jelas Wilson, terlihat seperti seorang suami yang berpengetahuan lebih, padahal jelas sekali jika ini adalah pengalaman pertamanya.


Veila yang kurang tahu dengan bahan-bahan pakaian pun hanya bisa mengangguk, membiarkan Wilson yang memilih pakaian untuknya. Tidak berhenti sampai disitu, setelah puas membelikan banyak baju hamil untuk Veila, mereka berdua pun langsung beralih ke sisi lain guna mencari maternity belt. Veila sempat menolak, merasa jika dirinya tidak memerlukan benda seperti itu. Namun, Wilson memaksanya untuk membeli, setidaknya satu dan Veila harus memakainya agar janin tetap berada di tempatnya dan tidak terguncang.


Setelah membeli dua hal tersebut, giliran Veila yang berceletuk, "Daripada maternity belt bukankah lebih baik kau membelikanku bantal khusus ibu hamil?"


Mendengar itu Wilson segera menggeleng, dan menyahut. "Jika membeli itu, maka kau akan fokus pada bantalnya terus-terusan. Melupakan aku yang tidur di sebelahmu. Nanti tidak ada lagi yang minta peluk―"


Veila terkesiap mendengar jawaban Wilson. "Bukan seperti itu juga." Dan tak butuh waktu lama, Wilson pun kembali melanjutkan kalimatnya. "Lagipula aku akan jadi bantalmu. Jika kau susah tidur, aku akan menidurkanmu. Jika kau ingin melepas penat, aku akan memijitmu. Semuanya, apa pun itu, aku akan melakukannya untukmu," ujarnya, membuat Veila merasa sedikit malu karena pegawai yang menemani mereka terlihat mengulum senyum karena perkataan Wilson.


Jika seharusnya suami yang menuruti keinginan istri, maka sekarang kondisinya berbalik. Veila lah yang harus menuruti kemauan Wilson agar mulut suaminya berhenti mengeluarkan kalimat gombalan yang merebut perhatian orang-orang sekitar.


Melihat tatapan Wilson yang seperti itu, Veila pun segera menutup area dadanya dengan cara menyilangkan kedua tangan, berbisik pelan seraya menanyakan apa yang Wilson lakukan. "Apa yang harus kau tutupi dari suamimu? Kita bahkan baru melakukannya malam tadi."


"Alexander!" sentak Veila, pipinya sudah memerah sekarang karena menahan malu. Apalagi pegawai di belakang mereka, sudah tidak bisa mengulum senyum dan menahan tawanya lagi.


"Baiklah, baiklah. Turunkan tanganmu biar kulihat dadamu yang semakin membesar sekarang," balas Wilson santai sembari memberikan senyuman manis agar Veila menurut.


Sebenarnya, mengingat kehamilan Veila yang sudah memasuki bulan ketujuh, untuk melakukan hubungan badan adalah sesuatu yang musti dipikirkan. Namun, mengingat kata dokter jika anak mereka sehat-sehat saja di dalam sana dan turut memperbolehkan berhubungan badan saat masa kehamilan, Wilson tentunya tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Cukup di trimester pertama dirinya tidak menyentuh dan memasuki Veila sama sekali karena kata dokter hal tersebut bisa memicu sesuatu yang tidak diinginkan.


Sebenarnya ingin berlama-lama memandangi aset berharga sang istri yang tentunya hanya bisa dirinya sentuh, tetapi mengingat jika Veila sudah memberikan tatapan risih, Wilson pun segera mengakhirinya, meminta pegawai toko untuk menemani sang istri memilih pakaian dalam yang baru.

__ADS_1


Pria itu tersipu, wajahnya memerah sesaat setelah Veila pergi bersama dengan salah satu pegawai wanita. Pikirannya ini tidak bisa dikontrol jika itu tentang tubuh indah milik Veila.


***


Siang berganti malam, seperti biasa, tidak ada hal spesial yang mereka berdua lakukan di atas ranjang. Hari ini, karena sudah banyak berjalan, mereka berdua sepakat untuk langsung tidur. Namun, karena Wilson tidak bisa memejamkan matanya dan Veila yang pun selalu susah untuk tidur, mereka berdua mulai mengobrol. Ringan saja, hanya memikirkan apa nama yang cocok untuk bayi mereka nanti.


"Bagaimana dengan Christian Eugene Hovers?" usul Wilson, perlahan tangannya merayap di atas kasur, mencari keberadaan tangan Veila. Dan setelah menemukan apa yang ia cari, Wilson pun langsung menggenggamnya erat dengan senyuman yang terpatri jelas pada bibirnya.


"Aku punya banyak pilihan nama, tapi Christian sepertinya lebih kusukai," lanjutnya dengan sangat antusias.


Veila tersenyum sekilas, lalu membalas, "Untukku nama bukanlah masalah besar. Kau bisa memberinya nama sesukamu. Aku hanya ingin anaknya lahir dengan sehat dan selamat." Mereka berdua saling menatap, lalu tersenyum geli dan mulai saling mendekatkan diri dan berakhir dengan saling menghangatkan, memberi pelukan.


"Tapi aku lebih suka nama Leo. Bagaimana jika Leonardo Eugene Hovers saja?" Mendengar usulan Veila, wajah Wilson yang penuh tawa pun langsung menjadi murung. Tak terima jika anaknya dinodai dengan nama Leo.


Wilson pun segera menyanggahnya. “Astaga, tidak-tidak. Nama Leo terlalu pasaran, dan apanya yang bagus dari nama Leo? Sangat tidak elit jika nama anak kita adalah Leo. Aku juga tidak mau setiap harinya nanti kau mengelukan nama Leo. Woah, telingaku pasti akan terasa panas." Wilson merocos, mengeluarkan semua uneg-unegnya tentang nama Leo.


"Telingamu merah," tawa Veila sembari mengelus salah satu telinga Wilson yang bisa tangannya sentuh. "Lagipula orang yang bernama Leo pasti memiliki pribadi yang lembut, manis, dan—"


"Nama Wilson juga pasti memiliki pribadi yang baik. Aish, sudahlah, jangan bahas Leo lagi," kesal Wilson dan mulai menenggelamkan wajahnya pada da** Veila.


Namun, tidak ada yang salah juga, setiap pria yang bernama Leo pasti memiliki kepribadian yang baik. "Sebaiknya kita tidur, sudah malam," ajak Wilson dan ditanggapi oleh anggukan oleh Veila.


Hal kecil seperti mendengar suara Wilson ataupun menatap wajah tampan suaminya sudah bisa membuat Veila merasakan apa yang namanya bahagia.


"Namun, bahagia itu hanya bersifat sementara." Veila takut akan kalimat itu.

__ADS_1


Bersambung ....


Aku buat grup chat, siapa tahu ada yang mau gabung.


__ADS_2