
Veila melirik kotak yang Leo sodorkan di hadapannya seraya sesekali melihat ke arah Leo yang sudah sedari tadi memegang kotak berisi sebuah alat pendeteksi kehamilan. Bibir dalamnya sengaja ia gigit, sebab Leo bersikeras menyuruh dirinya untuk menggunakan benda tersebut, memeriksa apakah ada nyawa baru di dalam sana—perut Veila.
Awalnya wanita itu menolak, mengatakan jika hamil adalah sesuatu yang mustahil terjadi padanya, sedikit tidak percaya karena ia baru sekali berhubungan intim dengan Wilson. Namun, Leo tetap memaksa dan berkali-kali menyakinkan Veila jika sekarang ada darah daging Wilson di dalam perutnya, menyertakan bukti-bukti seperti; telat datang bulan dan juga morning sickness yang biasanya hanya terjadi pada ibu-ibu yang tengah hamil muda.
Setelah hampir sepuluh menit memperdebatkan sesuatu yang sebenarnya tak perlu diperdebati, Veila pun akhirnya mengalah dan mengambil alih testpack tersebut dari tangan Leo. Jujur saja, dirinya juga penasaran dengan hal itu karena akhir-akhir ini, setiap hari, ia selalu saja merasa mual saat pagi. Membuatnya terkadang merasa jengkel karena harus bolak balik kamar mandi hanya untuk mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Melihat alat testpack yang sudah berpindah tangan, Leo pun tersenyum singkat, mempersilakan Veila untuk menggunakan kamar mandi dengan segera. Pria itu sebenarnya juga penasaran dengan hasilnya, jika Veila benar-benar hamil, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Agak lama Leo menunggu, pantofelnya yang berbenturan dengan lantai sudah menjadi sebuah ketukan berirama, dirinya juga sesekali melirik arlojinya, tak menyangka jika Veila sudah mengambil alih kamar mandi selama lima belas menit.
Rumah besar Wilson memang sedang sepi, yang ada hanyalah para pelayan, sedangkan dua tuan rumah tersebut sedang berada di luar―Wilson yang tengah bekerja dan Maureen yang tengah pergi ke kantor suaminya untuk mengantarkan bekal makan siang.
Hingga akhirnya, setelah rasa tidak sabaran yang mendera dan membuat Leo hendak mengetuk pintu kamar mandi karena hal itu, Veila pun keluar dari dalam kamar mandi, berjalan pelan seraya menyembunyikan testpack tersebut di belakang punggungnya.
"Bagaimana?" tanya Leo, terkesan tidak sabaran dan mendesak Veila agar wanita itu cepat menjawab pertanyaan singkatnya. Namun, yang terjadi, Veila hanya tergagap selama beberapa saat, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebelum akhirnya memperlihatkan hasil testpack tersebut pada Leo dengan tangan bergetar.
Mata Leo membelalak saat melihat dua garis merah di sana, yang menandakan jika kini Veila memang tengah hamil muda.
"S-sepertinya alat itu salah, Leo. Kau tahu, kami baru melakukannya sekali dan tidak mungkin―"
__ADS_1
"Hei Nona Amor! Selamat, kau sebentar lagi akan menjadi seorang ibu!" Girang Leo, tersenyum lebar lalu segera memeluk Veila dengan erat.
Entah kenapa dia ikut senang saat mendengar kabar kehamilan itu, seperti ia adalah ayah dari janin yang berada di perut Veila. Namun, alasan kesenangannya tersebut tidak begitu jelas karena 'bisa jadi' ia senang karena membayangkan Maureen yang akan mempercepat untuk meninggalkan Wilson karena kehamilan ini. Bagaimanapun juga, wanita itu sudah berjanji untuk meninggalkan sang suami dalam waktu dekat jika diperkuat dengan alasan anak.
"Leo, kenapa kau yang senang?" tanya Veila heran, pasalnya kini, dirinya bahkan belum tersenyum karena kehamilan tersebut.
Bukannya tidak senang dengan kehadiran nyawa baru, tetapi Veila masih ragu jika alat tersebut berbohong dan menampakkan hasil yang tidak akurat.
Masih dalam keadaan tengah mendekap Veila dengan erat, Leo pun menyahut, "Kenapa? Kau tidak suka, Nona Amor?" Pertanyaan Leo yang sukses membuat Veila menggeleng cepat, menepis semua prasangka buruk yang Leo tujukan untuknya.
"Tidak, hanya saja—"
Untung saja Nyonya Hovers tidak mempunyai riwayat penyakin jantung seperti suaminya, jika penyakit itu juga melekat padanya, mungkin sekarang ia sudah jatuh pingsan karena melihat Leo dan Veila yang tengah berpelukan.
Tak mau jika terjadi kesalahpahaman yang lebih jauh, Leo pun segera berceletuk, “Ini tidak seperti yang Nyonya kira—"
Memang, Nyonya Hovers sempat berspekulasi jika Leo dan Veila tengah menjalani sesuatu hubungan yang teramat serius di belakang anaknya karena pelukan tersebut. Hampir saja ia marah dan hendak memecat Leo jika saja pria itu tidak memotong perkataan Nyonya Hovers dengan cepat.
"Kau memeluk menantuku dengan begitu erat di belakang Wilson, apa kalian berdua mempunyai sebuah hubungan?" Wanita paruh baya itu menuduh, hampir saja membuat rantang tersebut melayang ke kepala Leo.
__ADS_1
Sontak Leo dan Veila menggeleng secara bersamaan, menyangkal semua omong kosong yang tercipta hanya karena sebuah pelukan.
"Nyonya Hovers, Anda jangan salah sangka terlebih dulu, aku hanya—” perkataan Leo terpotong karena Nyonya Hovers yang sudah lebih dulu menyela, membuat pria itu jengkel dan kemudian segera menyodorkan testpack yang ia pegang seraya berkata untuk yang kesekian kalinya.
"Nyonya Hovers bisa lihat sendiri, Wilson sebentar lagi akan mempunyai keturunan. Keluarga Hovers akan terus berlanjut. Aku memeluknya karena terlalu senang saat mendengar kabar ini," jelas Leo dengan testpack yang sudah berpindah tangan. Mata Nyonya Hovers menyipit, mengamati dua garis biru itu dengan hati-hati, lalu kemudian segera memberikan rantang berisi stroberi tersebut kepada Leo dan segera memeluk Veila dengan erat, tak lupa juga mengucapkan terima kasih atas semua kehamilan ini.
"Oh Tuhan, akhirnya. Mommy turut bahagia saat mendengar kabar ini. Mommy sangat berterima kasih padamu karena telah mengandung anaknya Wilson. Oh ya, apa suamimu sudah tahu tentang ini?" Nyonya Hovers bertanya di akhir, lalu segera mengeluarkan ponselnya saat melihat Veila yang menggelengkan kepalanya.
Dengan sangat bersemangat, Nyonya Hovers pun segera melakukan panggilan telepon dengan anaknya, berharap jika Wilsonlah menjawab panggilannya dengan cepat—walau kenyataannya sangat sulit untuk melihat momen langka tersebut.
Satu menit, senyuman Nyonya Hovers belum luntur, ia sudah dua kali menelepon, tetapi yang terdengar hanyalah nada sambung dan juga berakhir dengan suara operator wanita yang mengatakan jika panggilan tidak terjawab, silakan coba beberapa saat lagi atau silakan tinggalkan pesan, kenapa di saat-saat penting seperti ini anaknya malah tidak menjawab telepon dari ibunya?
Hingga akhirnya, di detik-detik terakhir yang diselimut dengan kata 'menyerah' Wilson mengangkat panggilan telepon dari sang ibu. Melihat detiknya sudah berjalan, Nyonya Hovers pun tersenyum senang dan kemudian berkata cepat.
"Lex, selamat! kau akan menjadi seorang Daddy! Veila Amor, dia hamil!" Sang ibu tentunya berharap jika Wilson akan membalas semua perkataannya dengan rasa senang juga, tetapi semua harapan itu sirna karena Wilson yang tak kunjung membuka suaranya hanya diam. Bahkan Nyonya Hovers sempat menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat detik yang berjalan cepat.
"Alexander, kau tidak bahagia?" Dan tak berapa lama setelah itu, panggilan telepon tersebut terputus, membuat Nyonya Hovers merasa heran karena tak biasa melihat Wilson mematikan panggilan tanpa sempat membalas ucapannya.
"Anak ini kenapa?" Gusar Nyonya Hovers, segera meletakkan ponselnya di atas meja makan, lalu mengajak Veila untuk duduk di ruang keluarga guna membicarakan sesuatu. Namun, melihat reaksi Wilson yang tak menjawab dan mematikan panggilan secara sepihak membuat Veila bertanya-tanya di dalam hati; apa Wilson tidak senang dengan kehamilan ini?
__ADS_1
Bersambung ....