
"Ulang tahun perusahaan? Bukankah kau sudah meniadakannya dua tahun lalu?" tanya Maureen, tak percaya jika perayaan besar-besaran itu akan diadakan kembali. Disuapinya satu potong stroberi ke mulut Wilson, berharap jika rasa lelah suaminya hilang karena rasa manis dari buah merah tersebut.
Si pria mendelikkan bahunya, dan kemudian menceritakan tentang apa yang mereka perbincangkan di kediaman kedua orang tuanya. "Aku juga sebenarnya tidak mau, tapi orang tuaku memaksa. Dan yah... aku harus menurutinya," balas Wilson. Ia juga harus segera mendiskusikan konsep pesta ini bersama Jack dan Leo nantinya, karena dua orang tersebut bisa diandalkan dalam urusan pesta-pesta semacam ini. Ya walau sebenarnya Wilson tidak mau melibatkan Leo.
"Oh, mau pergi ke butik? Kurasa aku harus membeli baju untukmu sekarang. Aku tidak tahu kapan bisa pergi ke sana bersamamu karena sibuk, mau 'kan?" tanya Wilson, melihat Maureen dengan penuh harap.
Mendengar ajakan Wilson, Maureen tentu langsung menyetujuinya. la rindu pergi berdua bersama Wilson. Mereka berdua pun sama-sama tersenyum sebelum akhirnya ikut menoleh karena mendengar suara dua orang yang terdengar baru masuk ke rumah.
"Tidak usah, Leo. Aku bisa membawakannya sendiri."
"Jangan menolak, tidak apa. Jangan sungkan-sungkan, lagipula aku tidak meminta imbalan, jadi jangan khawatir, kau tinggal nikmati saja kebaikanku."
"Tapi―"
"Hei, kau. Seratus ribu dolar!" Panggilan sarkas Wilson berhasil membuat Veila menghentikan perkataannya dan menoleh.
__ADS_1
Di depannya, dengan jarak sekitar dua ratus meter, Wilson sedang berdiri sembari bersidekap, menatapnya dengan tajam seolah-olah pria itu tengah melihat sesuatu yang tak ia sukai. Melihat itu, Veila pun segera melepaskan tangannya dari kantung plastik yang tengah Leo pegang, menunduk guna memberi salam pada si pemilik rumah. Huh, jika seperti ini, bukankah jatuhnya ia terlihat seperti seorang pelayan di rumah besar ini?
"Ikut kami ke butik," perkataan Wilson yang sukses membuat Veila dan Maureen tercengang bersamaan.
***
Pilih pakaian yang kau mau, ambil sebanyak mungkin. Kewajibanku untuk membuatmu tampil cantik dan anggun.
Itu yang Wilson katakan pada Maureen setelah mereka memasuki butik. Mendengar itu, Maureen hanya bisa mengangguk, tak bisa menutupi kesenangannya. Tak ingin istrinya terlibat sendiri, Wilson yang mempunyai selera fashion yang bagus pun turut memilihkan pakaian-pakaian indah untuk istri tercintanya. Tidak memusingkan harga, pria itu segera mengambil pakaian-pakaian yang dirasa cocok untuk dikenakan Maureen.
Sedangkan Veila? Wanita itu hanya menjadi si tukang pembawa pakaian yang akan dicoba oleh Maureen. Entah sudah berapa helai pakaian yang berada di tangannya, sengaja Wilson tumpukkan, membuatnya kewalahan saking penuhnya.
"Jika merasa berat, kau jangan sungkan untuk meminta bantuanku," ujar Maureen dengan senyuman manis yang terpatri jelas pada bibirnya. Veila mengangguk, tetapi merasa tak enak juga karena sebenarnya Wilson sudah membebankan semua ini untuknya.
"Kau tidak mau membeli pakaian?" tanya Maureen, mengedarkan pandangannya ke arah pakaian-pakaian yang tergantung dengan cantiknya.
__ADS_1
"Bolehkah?" Veila balik bertanya, apakah boleh ia memilih setidaknya satu pakaian?
Maureen mengangguk cepat. "Tentu. Pilih saja pakaian yang kau sukai, Wilson akan membayar―"
"Siapa yang akan membayarnya? Membebankannya padaku, begitu?" Wilson menimpali, entah bagaimana bisa pria itu sudah berada di samping Veila, menatap seratus ribu dolarnya dengan tatapan sinis.
Tak suka dengan kelakuan Wilson, Maureen pun segera mengusap lengan kekar suaminya, membuat sang pria merasa sedikit tenang dan melihat ke arah Maureen. "Sayang, jangan seperti itu," gumam Maureen.
"Aku ke sini untuk membelikanmu pakaian. Mengajaknya bukan berarti akan membelikannya juga. Puaskanlah dirimu sendiri, Maureen. Jangan pikirkan orang lain," celetuk Wilson, membuat Maureen merasa spesial dan mengangguk patuh.
“Kalau begitu, aku akan mencobanya dulu," tutur Maureen sembari mengambil alih pakaian yang dipegang Veila lalu membawanya menuju ruang ganti, disusul dengan Wilson yang mengekornya.
Sedangkan Veila hanya mampu menghela napasnya, dan kemudian segera pergi ke tempat pakaian cantik yang memikatnya sejak pertama kali masuk ke sini. Tangannya terjulur, merasakan betapa lembutnya bahan yang digunakan untuk membuat dress cantik ini. Seketika, tangan kanannya merogoh saku mantelnya. Dikeluarkannya uang kembalian dari supermarket yang memenuhi telapak tangannya, bahkan sampai uang koin pun terjatuh ke lantai, menimbulkan sebuah bunyi nyaring yang menarik perhatian.
"Uangku tidak cukup. Jika nanti aku bisa mengumpulkan uang dan membelimu, maukah kau berjanji untuk tetap di sini?" Veila berceletuk di depan dress cantik yang sangat ia inginkan, mengusapnya pelan lalu segera memasukkan kembali uang recehnya ke dalam saku mantel.
__ADS_1
Dan tanpa sadar, Wilson melihat hal menyedihkan tersebut.
Bersambung ....