
Laura menghabiskan banyak waktu bersama ketiga kawan sekelasnya selama istirahat berlangsung. Mereka terkadang berbincang dan Laura hanya menjadi pendengar. Saat disuruh ikutan nimbrung, Laura malah mengatakan kalau dia tak paham dengan apa yang ketiganya sedang bicarakan. Jadi lebih baik dia mendengarkan saja sambil belajar.
Zahrah minta diajari agar nilai pelajarannya lebih meningkat, kedua kawannya pun meminta hal yang sama. Yah, walau pun Windy sedikit tak suka belajar. Tapi gadis itu tetap ingin membuat orang tuanya bangga pada pencapaiannya dalam hal pelajaran.
Zahrah menanyakan apa yang sering Laura lakukan di rumah, apa yang dia makan, dan hal-hal kecil lainnya tentang keseharian Laura di rumah. Laura belum sempat membalas karena bel masuk kelas kembali berbunyi.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Dari bel masuk kelas kembali.berbunyi, hingga waktu pulang sekolah tiba. Laura mendengarkan dengan seksama, mencatat apa yang harus dicatat dengan cepat, tanpa melewatkan satu huruf pun.
Laura sedang mengemas tasnya, saat ketiga teman sekelasnya yang biasa berkumpul bersamanya mendatangi dirinya. "Hari ini kamu bakalan ikut, kan?" tanya Rani menatap penuh harap.
"Jangan memaksa, Ran," kata Zahrah mengingatkan.
"Pasti Laura bakalan langsung pulang," kata windy menimpali dengan santai. Kelewat biasa ajakan mereka selalu ditolak tanpa pikir panjang.
"Maaf," kata Laura lirih dengan wajah datar, wajah yang sangat diragukan kalau dia sedang menyesal sekarang.
"Gak apa-apa, gak usah dipikirkan," kata Zahrah menepuk pelan pundak Laura. "Ntar kira-kira aja yang bakalan mampir ke rumah kamu, kalau kamu gak bisa ikut kita keluar jalan-jalan," lanjut gadis itu.
Laura menggeleng cepat. "Jangan!" pekiknya setengah berteriak.
"Ha?" gumam Zahrah dan dua temannya yang lain melongo. Ada ya orang mau disamperin rumahnya sama temannya malah memberi respon seperti tadi.
"Mama gak akan suka," ujar Laura jujur.
"Gak mungkin!" tanggap Windy cepat. "Masa mama kamu gak suka kalau temen anaknya berkunjung, sih?" kata gadis itu lagi dengan nada tak percaya.
__ADS_1
Zahrah tampak berpikir sejenak, lalu dia mengangguk paham setelahnya. "Kami hanya bercanda, kami juga gak tahu di mana rumah kamu, Ra," kata gadis itu menimpali lebih dulu, takut kalau dua temannya yang lain malah menimpali dengan kalimat meragukan yang mungkin akan membuat Laura sakit hati.
Giliran Laura yang mengangguk kecil. "Aku duluan," kata gadis itu seraya melangkah pergi. Laura menghentikan langkahnya sesaat, kemudian berbalik seraya mengukir senyum tipis. "Selamat bersenang-senang," katanya dengan ekspresi tulus.
Zahrah dan kedua temannya berdiri termangu. Mereka saling menatap seraya berkedip beberapa kali. "Apa itu tadi?" ujar Rani yang membuka mulutnya untuk pertama kali.
"Luar biasa ...," timpal Zahrah menatap jauh ke depan seakan melihat hal abstrak yang tak mungkin dia lihat di kehidupan nyata.
"Ya? Apa temen kita yang satu itu malaikat? Apa dia menyembunyikan sepasang sayapnya? Kenapa dia begitu menyilaukan?" cerocos Windy berlebihan.
"Itu yang aku maksud!" tanggap Rani setuju.
"Padahal Laura cuma senyum dikit aja, malah aku yang ngeliat yang rasanya diabetes," tambah Zahrah.
Ketiganya masih mabuk akan senyuman tipis Laura barusan. Setelah beberapa saat, barulah mereka bergegas ke luar kelas. Sekolah sudah lumayan sepi, hanya tersisa beberapa murid yang masih menunggu jemputan dan beberapa yang lainnya masih sibuk kegiatan ekskul.
"Game center," tanggap Zahrah dan Rani bersamaan. Keduanya tertawa bersama begitu tahu mereka memiliki satu suara bulat yang sama untuk tempat tujuan mereka.
"Baiklah, mari kita cetak banyak kemenangan di sana!" kata Windy Sik berkuasa, dia bahkan tertawa jahat seperti antagonis-antagonis yang sering muncul di tv-tv.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Saat ketiga kawannya sedang menempuh perjalanan ke game center dengan penuh suka cita, Laura malah terjebak dalam keheningan yang sangat pekat di mobilnya. Ibunya menyetir dengan tenang tanpa membuka suara sama sekali. Entah kenapa, Laura sedikit merasa tercekik dengan keheningan yang biasnya tak dia gubris ini sekarang.
"Ada apa, Laura?" tanya sang ibu yang rupanya sejak tadi memperhatikan gerak-gerik sang anak.
"Tak ada apa-apa, ma," balas Laura tanpa menatap ibunya, dia mengubur pandangannya tetap tertuju pada rangkaian kata yang sedang dia baca sekarang.
__ADS_1
"Tapi sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu pada mama?" ungkit Pipit. "Katakan saja, sekarang mama punya waktu untuk mendengarkannya," lanjut wanita itu lagi.
Laura memejamkan matanya, Pipit tahu kalau anaknya saat ini sedang meragu. Tapi dia tak mau mendesak secara langsung. Lagi pula dia akan mengetahui semuanya saat laporan yang dia terima beberapa hari lagi diberikan. "Tak ingin bicara, hmm?" tanya Pipit menaikkan sebelah alisnya.
"Saya tak ingin mengatakan apa-apa, mama," tukas Laura menekan semua niatnya untuk menceritakan soal Zahrah dan yang lainnya. Dia tahu seberapa keras ibunya, dia tak mau teman yang baru saja dekat dengan dirinya mendapat masalah karena selalu menemaninya belajar.
"Sungguh?" telisik Pipit tak percaya.
"Ya!" balas Laura cepat dan tegas.
Akhirnya Laura menghabiskan sisa perjalanan dengan membaca buku, keheningan yang melekat itu masih berlanjut. Tetapi tak ada yang bisa Laura lakukan, dia hanya berpura-pura kalau dirinya sedang baik-baik saja saat ini.
"Apa ada buku yang kamu inginkan?" tanya Pipit saat mereka telah sampai di kediaman.
Laura mengangguk santai. "Saya menginginkan dua buku, tapi saya tak tahu apa buku itu sudah terbit atau belum," kata Laura mengutarakan keinginannya. Kalau ibunya sudah bertanya seperti itu, artinya Laura boleh membeli buku lain yang dia butuhkan untuk membuat dirinya semakin berilmu.
Pipit mengangguk paham. "Tulis judulnya, dan mama akan mencoba mendapatkannya bagaimana pun caranya!" kata wanita itu berjanji.
"Baik, ma," balas Laura. "Terima kasih," kata gadis itu.
Laura menjalani harinya dengan monoton, hanya tumpukan buku yang menemani akhir pekannya. Sesekali Laura menarik sudut bibirnya secara tak sadar. Saat dia melihat Laura yang masih terbilang lemah, dia hanya harus mendengarkan tanpa pernah mengutarakan pendapatnya.
Untuk sekarang Laura memang seperti boneka, tetapi ada satu sisi yang sedikit mulai menghangat karena dia berteman dengan Zahrah, Rani, dan Windy. Laura tak berharap banyak, dia sudah menyukai keadaan saat ini.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1