
Pipit mengingatkan pada anaknya untuk tidak menggubris Jamal, kalau seandainya pria itu kembali mendatangi sang anak. Wanita itu juga menyuruh Laura untuk berteriak saja kalau memang diperlukan, biar sekalian si sampah yang tak bisa didaur ulang itu ditangkap.
Pipit yang khawatir kalau Jamal akan kembali mendatangi anaknya, tak pernah menyangka kalau pria tak tahu malu itu malah mendatangi dirinya. Bahkan pria itu meminta waktu untuk berbicara, memanfaatkan bawahan Pipit untuk menekan Pipit agar tak punya pilihan lain. Sayangnya, Jamal tak pernah tahu kalau sang mantan istri sudah banyak berubah. Wanita itu bukan lagi seorang penurut, dia malah memiliki sisi yang pemberani dan menarik.
Keduanya berbicara di sana, Pipit membiarkan keamanan berdiri di belakangnya. Menjaga kalau-kalau Jamal nekat dan memaksakan kehendaknya, jadi ada orang yang akan segara menangani kalau sampai hal seperti itu terjadi.
Jamal meminta untuk diizinkan kembali, dia menggunakan nama Laura agar Pipit goyah. Jamal bahkan berekspresi dengan sungguh-sungguh, seakan dia benar-benar menyesal atas segalanya. Pipit malah tertawa mengejek, wanita itu jelas menolak. Dia dan Laura cukup bahagia meski hidup hanya berdua saja. Sebagai penutup, Pipit berharap agar mereka tak perlu bertemu lagi, dia bahkan mengatakan kalau harinya menjadi buruk hanya dengan melihat wajah Jamal.
Segera setelah mengatakan hal yang dia inginkan, Pipit melangkah meninggalkan Jamal tanpa peduli sedikitpun. Jamal melongo, tak menyangka kalau dirinya sama sekali tak dianggap. Bagaimana caranya dia bisa kembali dan menguasai semuanya seperti dulu kalau begini ceritanya. Apa strategi yang dia pilih sudah salah sejak awal, Jamal menutup matanya lalu berbalik, mengejar Pipit yang sudah cukup jauh dari dirinya.
"Maaf, sungguh maafkan aku! Aku salah dan aku menyesal, sangat-sangat menyesal. Aku begitu bodoh termakan rayuan wanita itu, aku melarikan diri karena terlalu lelah. Tapi selama ini aku selalu memikirkan kalian, sungguh!" Jamal membuang semuanya, dia bertekuk lutut di depan Pipit yang menatapnya tanpa emosi sedikit pun. Wajah yang tertekuk dalam, menyembunyikan rasa kekesalan. Janji untuk membalas semuanya terpatri, dia memang akan melakukan apa saja agar bisa kembali, tapi dia sangat terpaksa berlutut seperti ini. Makanya Jamal akan membalas semuanya begitu dia mendapatkan kembali tempatnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Pipit memejamkan matanya, bohong kalau dia bilang dia tak puas melihat mantan sampahnya itu sampai memohon dan bertekuk lutut di depannya. Jelas dia merasa senang, tapi bukan berarti dia akan memaafkan pria busuk yang sudah pernah meninggalkan dirinya dan juga sang anak dalam kesusahan. Butuh waktu beberapa saat untuk memulai kembali semuanya, dia harus berjuang dengan keras agar perusahaannya tak hancur.
__ADS_1
"Dengar!" kata Pipit tanpa menoleh. "Walau anda bertekuk lutut, meminta maaf dengan sangat, atau melakukan hal lain yang lebih dari sekedar bersujud pun, saya tak berpikir bisa memaafkan dan membiarkan anda kembali masuk ke kehidupan saya!" kata wanita itu dengan tegas. "Jadi tolong pergi dan jangan muncul lagi di hadapan saya untuk selamanya!" tambah wanita itu menutup pintu maafnya. Dia bukan Tuhan yang maha pemaaf, dia hanya manusia biasa yang memiliki rasa takut, dendam, dan trauma. Terserah orang mau mengatakan dia batu atau sombong, itu hak mereka berpendapat. Yang penting dia bisa memperlihatkan kalau dia dan anaknya tak butuh pria sampah macam Jamal. Mereka berdua akan baik-baik saja, meski tanpa sosok ayah dan suami seperti baj*ngan itu.
"Tolong beri aku kesempatan sekali saja, hmm ...," pinta Jamal dengan nada memelas, wajahnya terlihat sangat putus asa. Seakan dunianya akan runtuh kalau dia tak bisa mendapatkan maaf dari istrinya.
"Tidak! Cari kehidupan anda sendiri, jangan ganggu saya dan juga anak saya!" timpal Pipit tak berubah pikiran sama sekali, bahkan merasa kasihan pun dia tidak.
"Kalau kamu segitunya membenci aku, apa aku harus mati dulu baru kamu bisa memaafkan diriku?" tanya Jamal tak juga menyerah. Ini harapan satu-satunya yang dia miliki, uangnya menipis, banyak kebutuhan yang harus dia beli, biaya makan dan sewa kamar semakin bertambah setiap menitnya. Dia hanya bisa mengandalkan kata maaf dari istrinya dan kembali menjadi raja di rumah mereka seperti dulu. Uang bukan lagi masalah kalau itu semua terjadi.
"Tolong jangan buat saya kesulitan, tuan. Anda mati atau tidak, itu tak ada urusannya dengan saya! Nyawa itu milik anda,jadi terserah anda mau memilih mati atau terus hidup di dunia ini. Saya sungguh tak ada sangkut pautnya dengan pilihan ada! Saya juga tak peduli sama sekali dengan apa pun yang anda pilih. Jadi, jangan gunakan ancaman seperti itu pada saya. Itu tak akan berhasil!" kata Pipit dengan tegas.
"Usir tuan ini! Dan pastikan tuan ini tak bisa lagi mendekati kantor kita!" Pipit benar-benar pergi, tak lagi peduli dengan apa pun yang ke luar dari mulut Jamal. Siapa yang peduli dengan apa yang terjadi pada sampah yang tak penting itu.
"Baik, akan saya buatkan, bos! Mohon tunggu sebentar," kata sekretaris Pipit dengan sopan.
"Mati? Heh!" dengus Pipit bergumam pelan. Dia sangat yakin kalau kata itu hanya digunakan Jamal untuk mengancam dan menakut-nakuti dirinya. Mana mungkin pria yang sangat menyayangi dirinya sendiri itu memilih mati hanya karena tak diberikan kesempatan kedua, setan pun akan tertawa saat mendengar perkataan tadi. Mana bisa dia percaya pada pria busuk yang bahkan tak memiliki hati dan tak tahu malu seperti Jamal.
__ADS_1
"Tak buruk juga kalau kamu mati," gumam Pipit seraya terkekeh kecil.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Kembali ke Jamal, pria itu saat ini diseret oleh dua orang keamanan. Memberontak, tentu saja. Tapi Jamal kalah kekuatan dengan dua pria yang mengapit tubuhnya di kiri dan kanan. "Lepaskan, lepaskan aku!" kata Jamal terus memberontak.
"Aku suami bos kalian!" katanya lagi. "Kalian akan kupecat nanti!" lanjut Jamal mengancam tanpa tahu tempat.
"Pecat?" kata salah satu di antara mereka menanggapi ucapan.
"Ya, pecat!" timpal Jamal pongah. "Jadi kalau kalian sudah paham, segera lepaskan aku!" lanjutnya memberi perintah.
"Sesuai keinginan anda, tuan!" keduanya menyeringai setelah mengangguk bersamaan. Jamal di lempar ke luar pintu dan ditatap dengan pandangan merendahkan. "Lakukan itu saat anda tidak diusir dari sini, tuan!" tambah yang lain dengan tangan bersilang di dada.
Jamal jelas marah, dia dihina oleh keamanan yang bahkan seharusnya menghormati dirinya. Ini semua karena Pipit, wanita itu yang bersalah. Dia harus menanggung malu seperti ini karena wanita gila itu tak mau menerima dirinya dengan tangan terbuka. Dia berjanji akan membalas semuanya nanti.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...