
Di sela waktu makan ibu dan anak itu, Pipit menyinggung soal pesta ulang tahun sang anak. Bingung, sudah pasti. Gadis itu bahkan mempertanyakan mengapa ibunya tak membuat pesta sederhana seperti yang biasanya saja. Hanya mereka berdua dan para pembantu, setelah selesai. Laura akan kembali belajar, masalah kado akan diurus kalau ada waktu lebih untuk membuka kado yang dia terima. Bahkan kalau Laura tak sempat, para pelayannya yang akan menolong dia untuk melihat kado apa ya g dia dapatkan. Tak banyak memang, karena hanya ada ibunya dan para pelayan yang memberi dirinya kado. Tapi Laura sudah senang, dia merasa kalau hari kelahirannya begitu istimewa karena orang-orang rumah menyempatkan waktu untuk menyanyikan lagu ulang tahun yang kekanakan dan kado untuk dirinya.
Pipit mengatakan kalau mereka akan membuat pesta untuk mengubah suasana. Wanita itu beralasan kalau dia bosan dan lebih baik memanfaatkan hari ulang tahun anaknya untuk membuat pesta. Mereka juga akan mengundang teman-teman Laura serta sebagian guru. Yah, tak mungkin juga Pipit mengatakan kalau dia akan membuat pesta terpisah. Mana nyaman anak murid kalau digabung dalam satu tempat bersama guru mereka. Pasti semua pada mati kutu dan jaim berjamaah. Ada yang cuek, tapi pasti tak banyak. Dan terlalu banyak batasan kalau ada guru di antara mereka.
Pipit hanya ingin membuat pesta meriah untuk anaknya, dia melakukan itu untuk mengurangi sedikit demi sedikit kesalahan yang dia lakukan pada Laura. Dia terlalu memaksa, dia terlalu menuntut, dan dia juga sangat egois. Kini Pipit menyesal dan ingin memperbaiki semuanya. Meski luka yang dia berikan tak mungkin bisa sembuh sepenuhnya, tapi Pipit yakin kalau anaknya akan sedikit terbuka dan terbiasa kalau dirinya terus-menerus memberikan kebebasan dalam berpikir untuk sang anak.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Laura mengangguk paham. "Lakukan sesuai dengan keinginan mama, aku akan mengikuti semua yang mama rencanakan," kata Laura sedikit memamerkan senyum tipisnya.
"Kamu sudah berjanji, ya?" kata Pipit penuh semangat.
"Ya," timpal Laura seraya mengangguk sekali lagi.
"Baiklah, mama akan membuat pesta setelah kamu ulangan. Kita harus membuat gaun cantik untuk putri jelita ini, mama akan meminta bibi menyiapkan semuanya besok. Tentu saja mama juga akan ikut membantu dalam banyak hal," cerocos Pipit penuh semangat, dia diberi kesempatan untuk menebus kesalahannya. membangun kenangan baru yang penuh dengan kebahagiaan.
__ADS_1
"Semuanya terdengar bagus, ma," tanggap Laura seadanya.
Pipit tersenyum lebar, meski dia tahu kalau anaknya setuju hanya karena dirinya sedikit memaksa tadi. Tapi tak masalah, asal dirinya mencurahkan semua usaha dan membuat pesta paling meriah untuk sang anak. Anaknya pasti akan menikmati pesta tersebut dan semakin dekat dengan temannya yang lain. Pipit juga bisa melihat ketiga teman yang katanya cukup dekat dengan anaknya, teman yang dulu pernah snagat dibenci Pipit karena bisa saja membawa pengaruh buruk dan membuat nilai anaknya jatuh. Padahal itu hanya pikiran buruknya yang sudah ketakutan duluan, buktinya nilai-nilai sang anak tetap bagus meski dia berteman dengan teman sekelasnya.
Setelah berbincang beberapa waktu, Pipit membayar tagihan dan mereka berkendara. Sedikit berkeliling sebelum kembali ke rumah menjadi pilihan Pipit, wanita itu ingin membawa sang anak menghirup udara segar di malam hari. "Bagiamana di sini?" tanya Pipit saat mereka tiba di lantai teratas menara. Wanita itu membayar lebih untuk diizinkan masuk berdua saja dengan sang anak. "Kota yang kita tinggali terlihat indah dari atas sini, bukan?" lanjut Pipit menatap lampu kota yang berkelap-kelip, terlihat seperti bintang di langit. "Udaranya juga segar," tambah wanita itu menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Ya," balas Laura membenahi rambutnya yang diterpa angin nakal. Dia suka di sini, tapi tanggapan yang dia berikan terlalu singkat untuk menunjukkan hal tersebut.
"Apa kita harus membuat pesta ulang tahun kamu di sini, sayang?" tanya Pipit dengan spontan memutuskan, tentu saja dia akan mendengarkan apa yang anaknya putuskan. "Di sini pemandangannya cantik, udaranya lebih bersih, dan cukup luas untuk mengundang teman-teman kamu," tukas Pipit menatap sekitar. Membuat simulasi pesta di otaknya, dia merasa kalau tempat ini cukup untuk dijadikan tempat pesta ulang tahun untuk anaknya.
"Kita bisa membayar orang untuk melakukan itu kalau kamu mau, sayang?" tanya Pipit lagi. "Jangan memutuskan karena perkataan mama, tapi putuskan sesuai dengan yang kamu inginkan!" tambah Pipit yang sudah hapal kelakuan anaknya.
Laura terdiam, dia bingung harus bagaimana memutuskan. "Mari kita buat pesta di rumah saja, ma," kata gadis itu setelah cukup lama berpikir. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat pesta di rumah seperti tahun-tahun sebelumnya. Meski sederhana dan hanya dihadiri oleh pelayan di rumah mereka, bagi Laura itu tetap pesta ulang tahun untuk dirinya.
"Mari kita lakukan seperti yang tuan putri kita ini inginkan!" tukas Pipit memeluk ringan anaknya. "Haruskah kita kembali sekarang?" tanya wanita itu sembari melerai pelukan mereka, dia menatap anaknya dengan sangat lembut. Tatapan yang sudah sangat jarang dia gunakan semenjak dirinya depresi karena kelakuan mantan sampahnya dulu.
__ADS_1
Laura mengangguk sekali. "Em, Laura sudah mengantuk," kata gadis itu sedikit mengucek matanya yang perih.
"Baiklah, ayo kita kembali!" kata Pipit penuh semangat. Wanita itu merangkul tangan anaknya. Mereka kembali berkendara, kali ini mereka langsung pulang.
"Tidurlah dulu, nanti mama bangunkan kalau sudah sampai," kata Pipit yang kasihan melihat anaknya terlihat sangat mengantuk.
"Tak apa, masih bisa Laura tahan sampai di rumah," kata gadis itu menimpali. Laura menepuk-nepuk pipinya pelan, berharap rasa kantuknya pergi semua. Dia belum belajar, tapi dirinya sudah merasa ngantuk seperti sekarang. Bagaimana kalau mamanya marah karena dia akhir-akhir ini tidur lebih cepat tanpa belajar. Ibunya pasti akan menatap dirinya dengan tatapan penuh kekecewaan Laura tak ingin itu terjadi.
"Pasang sabuk pengaman kamu, sayang," kata Pipit sebelum dia mengendarai mobilnya. "Lagipula bukan hal aneh tertidur di mobil saat mengantuk," lanjut Pipit melirik singkat sang anak. Dia berharap anaknya tak keras kepala menahan kantuk dan memilih tertidur di mobil, tentu saja itu bukan karwna dia memaksa, tapi memang karena anaknya yang tak bisa menahan rasa kantuknya.
Tak berapa lama, saat Pipit sekali lagi menoleh ke arah anaknya. Dia melihat sang anak memejamkan mata, Pipit pun tersenyum kecil sembari mengurangi kecepatan mobilnya, agar sang anak tak terganggu karena guncangan akibat dia melaju sedikit lebih cepat. Laura tertidur sangat nyenyak hingga sampai di kediamannya. Tentu saja sang ibu yang membangunkan dirinya begitu mereka sampai.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1