
Jamal diusir karena tak bisa membayar perpanjangan waktu ketika dia menginap, barang-barangnya dilempar begitu saja ke jalan, belum lagi dua pria berbadan besar yang siap meringkus Jamal kalau-kalau dirinya membuat keributan.
Dengan terpaksa Jamal berhenti di halte yang sudah sepi, dia tertidur di sana dengan cerobohnya. Yah, mungkin karena dia orang jahat, sehingga tak ada kejahatan yang menimpa dirinya. Pria itu tetap aman hingga pagi menjelang.
Selesai membersihkan wajah di toilet umum, Jamal membeli obat tidur, dia menggerus semuanya, menumbuk hingga halus dan dicampurkan ke sebotol susu yang dia beli dengan sisa uang yang dia miliki.
Di sinilah dia berada, berpura-pura sebagai tukang kebun pengganti dan menyelinap masuk ke sekolah Laura. Dia mengintai dari jauh, berharap bisa bertemu anak nakal yang mendo'akan dirinya mati ketika itu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Mata Jamal berbinar penuh harap, melihat Laura berjalan sendirian di dekat taman yang sedang dia sapu saat ini. "Anakku ..., sayangku ..., bisakah kita berbicara sebentar?" ucap Jamal dengan suara sesedih mungkin, tentu saja itu hanya dibuat-buat oleh pria itu.
Laura menghentikan langkahnya, dia mengenali suara ini, suara pria yang mengajaknya berbicara beberapa hari lalu. "Oh, jadi hari ini anda berperan sebagai ayah saya?" tanya Laura tanpa berbalik dengan nada dingin.
__ADS_1
"Aku ... memang ayahmu, nak," timpal Jamal dengan suara lirih. "Aku terlalu bodoh termakan rayuan temanku dan malah meninggalkan kalian. Maaf ...," lanjut Jamal siap menumpahkan air mata buayanya.
Laura kembali melangkah santai, dia duduk di kursi taman yang memang banyak dibuatkan oleh pihak sekolah. "Mari kita dengar, selagi saya bosan saat ini," kata gadis itu menyilangkan kakinya. Tampak seperti bos kuat yang mendominasi, mungkin karena dia sering melihat ibunya bersikap seperti itu, jadinya dia secara tak sadar meniru dengan sangat alami.
"Nak, ayah menyesal, sungguh!" kata Jamal menyusul, mendekati sang anak yang duduk dengan pongah di depannya. Semua bisa dilupakan kalau rencananya berhasil. "Berikan ayah satu kesempatan, setidaknya untuk kita sarapan bersama, ya?" tambah pria itu lagi.
Laura tersenyum dingin. Sarapan bersama, kemana saja ayahnya selama ini. Saat dia butuh perlindungan, saat dia butuh kasih sayang, pria itu pergi dengan wanita lain. Untung saja ibunya tak gila, meski sang ibu berubah menjadi seperti tiran yang sangat ketat kepada dirinya.
"Dan apa keuntungannya buat saya?" tanya Laura tak berminat.
"Terdengar cukup menarik. Tepati janji yang anda buat!" putus Laura menerima tawaran Jamal. Kalau pria itu kembali menghilang, ibunya tak akan memiliki kekhawatiran yang berlebihan lagi. Jadi, satu kali makan bersama tak ada masalah menurut Laura.
"Tunggu di sini, saya akan membeli sesuatu untuk dimakan di kantin," tukas gadis itu nyaris berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Tak perlu, nak. Tak perlu!" cegah Jamal dengan cepat. Mana mau dia kehilangan kesempatan langka seperti ini. "Aku, aku sudah membeli sepotong roti dan dua botol susu!" kata pria itu lagi. "Kita bisa berbagi, ya kan?" tambah Jamal menatap penuh harap ke arah Laura.
"Biar saya yang beli," kata Laura menimpali.
"Nak, tolong penuhi permintaanku, ya? Aku ingin memberi makan anakku dengan uang yang aku punya," kata Jamal memelas.
Laura menatap dalam diam, setengah ragu dia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, hanya kali ini dan segera menjauh setelahnya!" tukas Laura mengalah.
Jamal bertepuk tangan dalam hati, kali ini dia berhasil. Yang namanya bocah pasti lebih mudah dibujuk. Mau sedingin apa pun, pengalaman gadis di depannya ini tak akan cukup untuk membuatnya bersikap waspada.
"Akan ayah bukakan!" kata Jamal berpura-pura seakan baru membuka minuman botol yang akan dia berikan pada Laura. Pria itu menyeringai lebar, satu tegukan dan dia bisa menjalankan rencananya yang selanjutnya. Uang akan mengalir dalam jumlah besar setelah ini, dia bisa hidup dengan enak lagi.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...