
Setelah membujuk dan terus membujuk Laura dengan segala macam cara, akhirnya keinginan Jamal terpenuhi. Laura bersedia makan bersama dengan pria itu. Saat Laura ingin membeli makanan di kantin, Jamal langsung mencegah gadis itu pergi. Dia beralasan ingin membelikan makanan dengan uangnya sendiri dan kebetulan uangnya sudah habis sekarang.
Laura menerima setengah potong roti dari Jamal, pria itu juga yang membukakan botol minuman untuk dirinya. Laura tak melihat seringai jahat yang sedang Jamal pasang sekarang, ekspresi wajah pria itu menunjukkan seberapa hitam hati yang dia miliki.
"Mengapa tak dimakan, nak?" tanya Jamal dengan wajah memelas. "Maaf, pria tua dan miskin ini tak bisa memberikan anaknya sendiri makanan yang lebih layak," lanjut pria itu menunduk dalam. "Tapi setidaknya, minumlah susu itu. Pria tua yang penuh penyesalan ini membelinya sembari memikirkan kamu dengan sungguh-sungguh, nak," tambah Jamal dengan nada getir.
Wajah Jamal terlihat memelas dan tak enak hati karena membelikan makanan dan minuman yang murahan pada Laura, padahal dalam hatinya, pria itu sedang mengumpat dan terus memaki kalau Laura terlalu lambat. Hanya perlu meminum satu teguk dan urusannya sudah beres, tetapi kenapa jadi lama sekali karena gadis itu tak kunjung juga membuka mulutnya sama sekali.
"Apa saya boleh bertanya?" tanya Laura setelah diam cukup lama.
Jamal mengangguk penuh semangat. "Bertanya saja, apa pun itu akan aku jawab!" tanggap Jamal cepat. "Tapi setidaknya minumlah sedikit, pria tua ini sungguh ingin melihat anaknya meminum minuman yang tak seberapa harganya itu," tambah Jamal terlihat perhatian dan juga merendahkan dirinya sendiri.
"Ya," balas Laura. Namun, gadis itu belum juga meminum susu yang diberikan oleh Jamal. "Katanya anda pergi karena termakan bujuk rayu, tapi kalau anda setia, tak mungkin anda dengan mudahnya termakan rayuan seperti itu, kan?" Laura menatap kosong ke depan. Dia mengatakan kalau kata seandainya tak ada artinya, tapi sekarang dia seakan ingin mendapatkan hak untuk menggunakan kata itu. Tapi sayang semua itu mustahil terjadi. Sang ayah masih tetap pergi, sang ibu yang frustasi semakin keras dalam mendidik, menuntut banyak hal, dan Laura sendiri menjadi korban yang harus berperan sebagai putri yang baik, putri yang pintar, putri yang bisa segalanya, putri yang sempurna.
"Lupakan, saya hanya asal bertanya saja!" tukas Laura dengan nada dingin. "Saya pergi dulu, terima kasih untuk makanannya," lanjut gadis itu segera berlalu.
"Nak, nak! Laura!" panggil Jamal dengan cukup kuat, dia frustasi rencananya yang akan berhasil di depan matanya, harus tertunda lagi karena Laura pergi tanpa meminum minuman yang dia berikan. Memang sih gadis itu membawa minuman tersebut, tapi tak ada jaminan kalau dia akan meminumnya nanti. "Setidaknya minum dulu minuman yang kuberikan padamu, pria tua dan tak berdaya ini sungguh ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri kamu memakan dan meminum apa yang aku berikan, nak," tambah Jamal dengan perasaan tak tenang. Pria itu tak ingin gagal lagi, ini harapan terakhirnya. Kalau ini juga gagal, dia harus melakukan dengan cara yang lebih ekstrim dari pada ini nantinya.
"Saya akan memakannya nanti, bel masuk kelas sudah berbunyi," balas Laura tanpa menoleh sedikit pun.
__ADS_1
Jamal mengacak rambutnya frustasi, pria itu menghirup udara dengan rakus. "Kenapa tak ada yang berjalan sesuai keinginanku?" desis Jamal kesal. "Si*lan!" umpat pria itu menendang udara kosong berkali-kali.
"Woi, ngapain di situ?" hardik sebuah suara mengagetkan Jamal. "Cepat bergerak agar pekerjaan kita selesai!" lanjut pria itu berdecak tak suka melihat Jamal yang malas-malasan menurutnya.
"Baik, pak. Baik, pak," kata Jamal menahan emosi. Kalau saja dia tak butuh cara untuk menyelinap masuk ke sini, tak mungkin dia mau menyamar jadi tukang kebun rendahan yang terus saja disuruh bekerja tanpa dihiraukan oleh siapa pun.
"Jangan hanya tahu menjawab, iya pak, baik pak saja! Kerja sana cepat!" kata pria itu lagi dengan suara keras disertai mata yang melotot ganas, seakan mengancam Jamal untuk bekerja dengan baik setelah ini.
Jamal mengangguk tanpa menjawab, tangan pria itu terkepal kuat. Dia merasa kesal mendengar hardikan serta ucapan pria tak penting di depannya ini. Kalau mereka bertemu saat dirinya belum menderita seperti sekarang, orang di depannya ini pasti akan menjilat dengan sebaik-baiknya pada dirinya. Huh, sekarang saja dia bisa sombong karena merasa menjadi atasan.
Pria yang tadi menegur Jamal pun berlalu pergi setelah melihat Jamal kembali bekerja, pria itu berkeliling melihat orang-orang yang lainnya yang dia bawa untuk bekerja di halaman sekolah yang cukup luas ini. Saking luasnya halaman sekolah itu, setiap bulan mereka membutuhkan setidaknya delapan sampai sepuluh orang untuk membersihkan secara rutin kebun dan tanaman yang ada di sana. Tentu saja ada tukang kebun sekolah yang menyirami tanaman setiap harinya, tapi mungkin saja tukang kebun itu tak sanggup membersihkan kebun seluas itu sendirian. Makanya pihak sekolah memanggil mereka sebulan sekali untuk mengerjakan pekerjaan itu selama beberapa hari.
"Dari mana aja, Ra?" tanya Zahrah begitu melihat Laura masuk ke kelas mereka.
"Taman," balas Laura terlalu singkat.
"Tapi tadi kita-kita ke sana dan kamu gak keliatan, Ra," tukas Zahrah lagi.
"Kita?" sela Windy dengan nada kesal. "Kamu aja kali yang maksa-maksa biar aku sama Rani ikut!" decak gadis itu yang mungkin kekesalannya terlalu menumpuk.
__ADS_1
"Kan biar seru, Win," balas Zahrah sambil cengir kuda.
"Ada seseorang yang bertanya padaku tadi," balas Laura sedikit banyak menjelaskan mengapa dia tak ada di tempat biasanya dia membaca buku kalau di taman.
"Trus, apa itu kamu bawa-bawa dari tadi?" tanya Rani melirik roti dan susu yang dipegang Laura sejak tadi. "Jangan bilang seorang Laura mau makan di kelas padahal bel masukan udah bunyi!" lanjut gadis itu usil, dia memasang wajah tak percaya, menatap Laura dengan tatapan terkejut yang teramat sangat.
"Dikasih sama orang tadi," balas Laura, dia bermaksud menyangkal apa yang baru saja Rani katakan padanya.
"Ra, gak boleh nerima makanan sama minuman dari orang yang gak dikenal, loh," ucap Zahrah menyela. "Kata mama aku, ntar makanan dicampur macam-macam terus kita kenapa-napa kalau kita makan makanan itu!" lanjut gadis itu mengucapkan seperti apa yang biasanya ibunya ucapkan padanya.
"Buang aja, sini!" kata Windy menjulurkan tangan, berniat merebut apa yang dibawa oleh Laura.
"Tapi aku udah janji bakalan makan nanti," tukas Laura tanpa emosi.
"Dia gak tahu juga kamu udah makan atau gak, kan?" timpal Rani menyela. "Dari pada kamu kenapa-napa, gimana coba?" lanjut gadis itu terpengaruh ucapan Zahrah.
Laura terdiam, menatap setengah potong roti dan sebotol susu yang sedang dia pegang sekarang. Dia sedikit bimbang, bagaimana pun dia sudah berjanji. Tapi apa yang dikatakan oleh ketiga teman sekelasnya itu ada benarnya. Jadi yang mana yang harus dia lakukan.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...