
Sehabis jalan-jalan, berendam, dan berpakaian. Laura memilih untuk belajar, dia merasa ada yang kurang kalau tak membuka buku. Sudah sejak tadi gadis itu sangat ingin membaca buku, sejak dia dan ibunya menonton bioskop.
Pipit yang selesai lebih lama, memutuskan untuk menghampiri anaknya. Dia ingin melihat anaknya yang tertidur karena kelelahan. Tapi apa yang dia dapatkan, sang anak malah duduk di depan meja belajar dan membenamkan diri pada tumpukan buku pelajaran yang tertata rapi menunggu giliran untuk dibaca.
Wanita itu pun akhirnya memutuskan untuk menemani sang anak. Agar anaknya tak merasa aneh atau terbebani, Pipit beralasan memeriksa dokumen pekerjaannya. Padahal dokumen-dokumen itu tak terlalu penting dan bisa dikerjakan nanti saja.
"Buatkan kami minuman," titah Pipit memanggil pelayannya.
"Baik, nyonya," kata si pelayan cepat-cepat mengerjakan perintah nyonya majikannya barusan.
"Nyonya sedikit aneh, tapi aku lebih suka nyonya yang begini," kata salah satu pelayan yang menyadari perubahan sikap majikannya.
Yang lain mengangguk setuju. "Nyonya tak lagi bersikap keras pada nona kita. Dan aku malah senang," katanya menimpali.
"Semoga ini bertahan untuk selamanya," tukas yang lain penuh harap.
"Amin," ucap mereka serempak mengaminkan.
"Sudah-sudah, ayo kerja. Terus kita istirahat. Nanti kita ditegur kalau ketahuan mengobrol," sela salah satu di antara mereka mengingatkan.
"Kamu benar," ucap yang lain setuju.
Sikap Pipit memang sangat berubah, wanita itu tak lagi menyuruh anaknya belajar, belajar, dan hanya belajar setiap menit dan detiknya. Nyonya mereka meluangkan waktu bersama sang nona, berbelanja, makan, dan menonton. Pergi bersenang-senang di luar, menghabiskan layaknya ibu dan anak yang lainnya.
__ADS_1
Pipit melirik jam dinding, dia menarik napas pelan. " Ayo kita sudahi dulu, sayang," ucap Pipit memecah keheningan yang menggantung di antara dirinya dan anaknya. "Kita harus istirahat agar bisa bangun pagi besok," lanjut wanita itu memamerkan senyum yang sangat menawan. Senyum tulus yang untuk pertama kalinya dia berikan pada anaknya.
"Baiklah, ma," tukas Laura patuh. Gadis itu menutup bukunya dan segera menuju tempat tidur.
Pipit berdiri di sisi ranjang anaknya, membenahi selimut yang menutupi setengah badan anaknya. "Selamat tidur, gadisku," bisik Pipit lembut seraya melabuhkan kecupan singkat di dahi Laura.
Laura terdiam, dia nampak terkejut dengan apa yang ibunya lakukan barusan. Tangan gadis itu terulur untuk menyentuh keningnya yang tadi di kecup oleh sang ibu. "Selamat tidur, mama," balas Laura sangat pelan. Terlukis senyum yang lebih lebar dan bertahan lebih lama di bibir gadis itu.
Pipit terharu, mengapa tak dari dulu dia lakukan hal kecil seperti ini. Rupanya ini jauh lebih membahagiakan dari pada nilai yang selalu dia tuntut pada anaknya untuk didapatkan. "Mimpi indah, sayang," kata Pipit seraya berlalu pergi saat melihat sang anak sudah memejamkan matanya. Tak lupa wanita itu mematikan lampu kamar anaknya sebelum dia benar-benar ke luar.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Laura membuka matanya, dia tak bisa tidur mengingat apa yang dia lakukan bersama dengan ibunya seharian penuh ini. Meski tak terlihat, rupanya gadis itu memiliki ketakutannya sendiri. Dia takut kalau ini semua hanya ilusi, yang dia jalani bersama ibunya adalah mimpi yang tak mungkin pernah menjadi nyata. Dia takut untuk memejamkan mata dan tertidur. Sepemikiran Laura, kalau dia tertidur di dalam mimpi, dia akan segera terbangun di dunia nyata. Dan ibunya akan kembali bersikap keras serta dingin kepadanya. Padahal dia baru saja menikmati sedikit perhatian dan kasih sayang sang ibu untuk dirinya, masa dia harus kehilangan hal yang paling dia inginkan.
Laura mengerjapkan matanya, dia menggeliat pelan, lalu melihat jam di atas nakas. Masih terlalu pagi, tapi dia sudah tak bisa tidur lagi. Akhirnya Laura memutuskan untuk mandi lebih awal dan setelahnya belajar meski hanya sedikit.
Sesekali tangan Laura menyentuh keningnya dengan pelan, dia mengernyit, merasa kalau mimpi yang dia alami semalam adalah mimpi yang terbaik yang pernah hadir dalam tidurnya. Mimpi yang begitu nyata untuk dianggap sebagai mimpi belaka.
"Nona, anda sudah bangun?" tanya sebuah suara membuyarkan lamunan Laura.
"Ya, ada apa?" kata gadis itu menanggapi. "Masuk saja," lanjutnya.
""Nyonya menunggu anda di bawah," kata si pelayan saat dia masuk.
__ADS_1
"Oh, saya akan ke sana," kata Laura menimpali. Gadis itu sedikit terburu, menyambar tas sekolahnya dan segera turun ke bawah secepat yang dia bisa.
"Pelan-pelan, nona. Dan biar saya yang mengantar anda," kata si pelayan dengan penuh kelembutan.
Laura hanya mengangguk, dia tak mengatakan apa-apa. Dia tahu kalau di bawah yang dimaksudkan tadi itu sebenarnya di ruang makan dan dia sama sekali tak perlu diantar, tapi Laura juga tak memiliki niat untuk menolak niat baik pelayannya.
"Mau ke mana ini?" gumam Laura yang sedikit heran mereka melewati jalan menuju ruang makan.
"Nyonya menunggu di taman mawar, nona. Kata nyonya, beliau ingin menikmati sarapan sambil menghirup aroma mawar yang baru mekar," tukas si pelayan yang memandu Laura dengan penuh semangat.
"Ah, aku mengerti," timpal Laura tak lagi bertanya. Baginya, semua yang ibunya inginkan adalah hal mutlak. Dia tak peduli seabsurd apa pun itu, Laura akan mencoba melakukan semua yang ibunya katakan dengan baik.
"Pagi, Laura, gadis kecilku yang cantik," kata sang ibu menghampiri anaknya yang baru saja memasuki area taman. Pipit memberikan pelukan singkat dan kecupan di kedua pipi Laura. "Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya wanita itu bersikap biasa, padahal dia cukup takut kalau anaknya menunjukkan penolakan atau shock dengan apa yang dia lakukan secara mendadak tadi.
Laura mengangguk kaku, otak pintar gadis itu seolah macet, dia tak bisa berpikir lagi. Laura juga tak yakin apa ini di dunia nyata atau dia saja yang belum bangun dari tempat tidur dan terus bermimpi. "Ada apa, sayang?" tanya Pipit dengan dahi berkerut.
"Tidak ada," balas Laura membuka mulut menjawab dengan spontan.
Pipit tersenyum lebar. "Kalau begitu, ayo kita nikmati makan malam kita," kata wanita itu menyuruh pelayannya menyiapkan makanan yang tadi dia minta. Pipit sesekali menyuapi Laura, Laura seperti robot yang hanya membuka mulutnya saat itu terjadi.
Pipit sadar, terlalu awal kalau dia meminta lebih. Tapi, dia harap anaknya akan kembali ceria. Meski tak mungkin secepat itu, Pipit ingin anaknya terbiasa dengan sikapnya yang sekarang.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...