WISH ...

WISH ...
23


__ADS_3

Rani mengatakan kalau Laura harus lebih banyak belajar, dia merasa kawannya itu terlalu mudah dibodohi dengan ucapan yang padahal artinya bisa berbeda dari artian yang sebenarnya. Laura malah bersemangat, mengatakan kalau dia sangat suka belajar. Yah, itu lah ciri dari Laura. Hanya belajar yang bisa dia lakukan dengan baik, kalau dia sedikit membangkang, pasti ada hukuman yang menunggu untuk dirinya. Entah kakinya akan diborgol di kaki kursi, atau dia tak diizinkan minum sama sekali sampai dia hapal semua istilah-istilah rumit yang memusingkan meski hanya dilihat saja.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Jamal benar-benar kesal, entah apa yang terjadi, rencananya kali ini kembali gagal. Dia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri kalau Laura pulang dalam keadaan sehat, gadis itu sama sekali tak terlihat mengangguk atau lemas. Malah dia masih bisa membaca sambil berjalan ke mobil, sungguh menyebalkan.


"Ayo, pulang. Pekerjaan kita sudah selesai," kata pria yang tadi menegur Jamal. Benar, ini salah satu alasan Laura tak jadi meminum susu yang dia berikan. Coba saja orang yang sok bersikap seperti bos ini datang sedikit lebih lambat, pasti rencana yang dia buat akan berhasil dengan gemilang.


"Kamu sudah bekerja keras, ini upah kamu," kata pria itu memberikan upah pada Jamal. Tentu saja Jamal tak merasa tertarik sama sekali, uang segitu sangat kurang baginya.


"Apa apa? Apa kamu tak senang mendapatkan uang?" tanya pria tadi melihat respon Jamal.


"Oh, bukan bos," tanggap Jamal cepat mengubah ekspresi wajahnya. "Saya hanya sedang berpikir di mana saya bisa menyewa kamar dengan murah untuk malam ini," lanjut Jamal menemukan alasan yang tepat. Mana mungkin dia mengiyakan kalau dia tak suka karena jumlahnya yang sedikit, bisa-bisa dia dipecat karena tak tahu bersyukur. Makanya dia membuat alasan lain, dan kebetulan dia memang sedang mencari tempat untuk menginap malam ini.


"Astaga, aku lupa kalau kamu bilang kamu itu pendatang dan tak punya keluarga di sini," kata orang yang dipanggil bos oleh Jamal menepuk jidatnya.


'Bukannya gak ada keluarga, aku cuma malas ngasih tahu kalau aku lagi bermasalah dengan keluarga aku saat ini!' timpal Jamal dalam hati.


"Begitulah, bos," kata Jamal menanggapi seraya tersenyum kecil.


"Kalau begitu kamu bisa tinggal di rumahku untuk sementara," kata si bos menawarkan dengan rendah hati. "Simpan saja uang kamu untuk keperluan yang lainnya," lanjut pria itu.


"Ah, saya takut merepotkan bos dan keluarga bos di rumah," timpal Jamal menolak, tentu saja itu hanya basa-basi, ujung-ujungnya dia pasti menerima kalau ditawari sekali lagi.

__ADS_1


"Keluarga apanya, aku tinggal sendiri di sini," kekeh si bos menanggapi. "Keluargaku di kampung semua," katanya lagi menjelaskan. "Jadi, datang saja kalau kamu tak keberatan, soalnya tempat aku cukup kecil," tambah pria itu seraya menggaruk kepalanya.


"Iya, tinggal saja bersama si bos! Aku juga pernah numpang di rumah bos untuk sementara sampai aku punya cukup uang untuk nge-kos sendiri," celetuk salah satu anak buah yang sepertinya cukup lama bekerja dengan si bos.


"Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih sebelumnya," timpal Jamal bersorak dalam hati, dia tak lagi perlu pusing memikirkan uang sewa. Sudah ada orang bodoh yang baik hati yang mau menampung dirinya. Uang yang baru saja dia terima, bisa dia gunakan untuk menjalankan rencananya yang selanjutnya. "Maaf merepotkan Anda, bos!" tambah Jamal dengan nada hormat, padahal dalam hati dia merendahkan bosnya. Mengatakan kalau dia mendapatkan semuanya kembali, dia akan membayar lunas apa yang diberikan kepadanya, agar dia tak diceritakan ke sana-sini. Yah, siapa yang tahu mungkin saja bosnya akan merasa bangga bisa menolong orang sepertinya meski hanya sekali.


"Ha-ha-ha, santai saja, santai saja. Jangan terlalu kaku!" kata si bos seraya menepuk-nepuk punggung Jamal.


"Ya, bos," kata Jamal singkat.


"Ayo, kita balik ke rumah sekarang," ajak si bos. Jamal ikut naik, membonceng di motor bosnya. Baru kali ini dia naik kendaraan roda dua seperti itu, rasanya cukup menyegarkan, tapi lebih kepanas saat matahari menyengat dengan sangat.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Jamal tak menjawab, dia mengikuti dalam diam. Ini kandang apa tempat tinggal. Kenapa ramai sekali, sebenarnya dia ada di mana sekarang. "Di sini belum ada lift, jadi kita harus naik tangga meski melelahkan," oceh si bos memberitahu pada Jamal. "Bilang kalau kamu lelah, ya!" tambah pria itu cukup bijak dan perhatian.


"Baik, bos," kata si Jamal yang sebenarnya terlalu malas menanggapi.


"Jangan panggil bos kalua di sini, panggil saja saya Didi. Kalau kamu terus-terusan manggil bos, nanti dikira pra tetangga saya ini bos besar yang lagi nyamar," kekeh si bos yang ternyata bernama Didi sedikit bercanda.


"Ya, Pak Didi," timpal Jamal.


"Gak usah pakai pak juga, cukup Didi saja," bisik Didi.

__ADS_1


"Baru pulang, Di?" tanya salah satu tetangga Didi yang berselisihan dengan mereka.


"Iya, nih. Capek mana panas lagi," timpal si Didi menanggapi.


"Wk-wk-wk, memang lagi panas-panasnya ini. Padahal musim penghujan, tapi matahari teriknya ngalahin di padang pasir!" dengus si tetangga yang komplain soal cuaca akhir-akhir ini.


"Dunia lagi galau itu namanya, emang manusia aja yang boleh galau," ucap Didi menanggapi dengan candaan.


"Ya, udah. Aku ke bawah dulu, ada yang mau kubeli," kata si tetangga yang mengajak Didi berbicara dari tadi.


"Ya, ya, aku juga mau cepet-cepet naik ke atas, mandi, makan, terus tidur!" timpal Didi. Mereka berpisah di sana, Didi kembali menaiki tangga diikuti dengan Jamal di belakangnya, sedangkan tetangganya tadi.mwnuruni tangga dan mengerjakan apa yang dia perlukan tadi.


"Masuk," kata Didi begitu mereka sampai. "Anggap rumah sendiri, asal jangan dijual, soalnya cicilan belum lunas," tambah Didi main-main.


"Permisi," tukas Jamal saat dia masuk. Jamal melihat sekitar, semua bisa dia lihat dalam sekali pandang. Sungguh kecil sekali tempat ini, bahkan kamar mandinya saja lebih luas dari ini.


"Duduk saja di manapun, aku mandi dulu. Kamu juga, siap-siap mandi baru kita makan apa yang bisa dimakan di sini," kata Didi berlaku ke kamar mandi.


Jamal menghempas tubuhnya di kursi kayu yang terlihat sangat tua, cat-cat yang menempel pun banyak yang telah mengelupas. "Kecil? Ini sih lebih dari sekedar kata kecil!" dengus Jamal menggeleng-gelengkan kepalanya. Yah, tapi setidaknya dia punya tempat untuk menginap malam ini dan itu gratis. Dia hanya harus bertahan, lagi pula ini cukup bersih untuk ditinggali. Jamal memecut dirinya gmagar dia tak cerewet pilih-pilih di mana mau tinggal, saat ini dia tak memiliki cukup uang. Pipit menolak dirinya dan rencananya selalu berakhir berantakan. Jadi dia harus menghemat semua pengeluaran untuk bisa menjalankan rencana lain yang sudah dua susun sedemikian rupa.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2