WISH ...

WISH ...
16


__ADS_3

Karena jam pulang sekolah Laura yang terkadang tak menentu, membuat supirnya sangat-sangat terlambat menjemput gadis itu. Laura menunggu di luar karena sudah waktunya gerbang sekolah ditutup, tak lama seorang pria tak dikenal menanyakan jam pada Laura. Laura tak menjawab, dia malah menunjuk jam besar yang terlihat jelas dari tempat mereka berdiri saat ini.


Setelah berbicara berputar-putar tentang ini dan itu, pria itu mengatakan kalau wajah Laura mengingatkan dirinya pada sang anak. Dia menggambarkan kalau dirinya menyesal, tepatnya sangat-sangat menyesal karena pernah terbujuk rayuan dan pergi meninggalkan keluarganya.


Jamal juga berandai-andai, kalau dia tak pergi, dirinya pasti bisa melihat sang anak tumbuh dengan matanya sendiri. Tak cukup sampai di situ, Jamal bahkan meneteskan air mata agar semakin terlihat kalau dia sangat menyesal dan sedih dengan semua yang telah dia lakukan di masa lalu.


Tanggapan Laura malah berbanding terbalik dengan ekspektasi Jamal, gadis itu malah menyuruh Jamal untuk mati. Dia bahkan mengatakan kalau kata andai tak ada gunanya di dunia ini. Setelahnya, Laura pergi tanpa menoleh dan masuk ke dalam mobil jemputannya yang baru saja datang.


Jamal menendang pagar saking kesalnya dirinya. Dia kira, rencananya akan berhasil. Nyatanya, hanya kegagalan yang dia dapatkan. Pria itu pun menyalahkan Pipit, dia menuding kalau Pipit tak benar mendidik anak mereka yang polos dan cantik itu. Harusnya anak itu memiliki rasa simpati yang tinggi, baik hati, dan ramah. Bukannya seperti tembok yang kokoh dan sangat kaku, dia tak tahu apa yang Pipit ajarkan pada anak mereka.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Baru saja sampai di kamar yang dia tempati, pintu kamarnya digedor cukup keras. "Apa?" tanya Jamal kelewat emosi. Sudah hal yang dia rencanakan gagal, sekarang ada orang yang mengganggu waktunya. Jelas orang tersebut pasti akan jadi sasaran pelampiasan amarah Jamal saat ini.,


"Maaf sebelumnya, kalau anda masih ingin menginap, tolong lunasi sisa tagihan anda yang sebelumnya," kata orang yang ternyata menagih biaya pada Jamal.


"Kamu kira saya tak sanggup membayar?" dengus Jamal naik pitam. Dia tak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya, dia selalu diperlakukan sebagai tamu istimewa. Tapi sekarang, dia malah ditagih seperti orang yang akan lari tanpa membayar.


"Bukan begitu maksud kami, tuan," kata pegawai tadi tetap menjaga senyum profesional. "Ini sudah peraturan di tempat ini, tuan," katanya lagi melanjutkan. "Tolong maklumi dan maafkan kami, tuan," tambah orang tersebut dengan sangat sopan.


"Berapa?" tanya Jamal seraya memutar bola matanya jengah. Pria itu segera mengeluarkan lembaran uang tunai dari dompetnya begitu si pegawai memberitahukan berapa yang harus dia bayar. "Ambil sisanya! Anggap saja tip," kata Jamal ketus. "Dan jangan ganggu saya lagi!" kata pria itu tak bisa menyembunyikan kekesalannya.

__ADS_1


"Maaf mengganggu waktu an–" ucapan si pegawai terputus. Jamal menutup pintu dengan sangat keras, malas mendengar ocehan yang tak berguna sama sekali.


"Menyebalkan!" dengus pria itu.


Jamal terus berpikir, di mana sebenarnya letak kesalahan yang dia buat. Kenapa anak yang seharusnya baik hati dan polos itu malah menyuruh dia mati dengan nada dingin. Apa anak itu mengenali dirinya, tapi Jamal ragu akan hal itu. Sepintar apa anak itu hingga bisa langsung mengenali wajahnya yang sudah banyak dia ubah.


"Pasti ini kerjaan Pipit!" desis Jamal dengan mata berkilat penuh dendam. "Hanya wanita itu yang bisa melakukan hal seperti ini!" lanjut pria itu. Semalaman Jamal mengumpat habis-habisan, Pipit lah yang jadi sasaran dari umpatan pria itu. Dia menyalahkan semuanya pada Pipit, wanita itu pasti meracuni otak polos sang anak dengan berbagai macam perkataan buruk tentang dirinya. Pria itu tak juga sadar diri, kalau dirinya memang seorang ayah yang buruk. Dia terus menganggap apa yang dia lakukan tak salah, dia hanya bosan dan butuh hiburan singkat saja. Sekarang dia sudah kembali, harusnya Pipit menyambut kedatangannya lagi dengan penuh suka cita.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di malam hari, sebelum tidur. Laura mendatangi ibunya. Gadis itu mengetuk pintu kamar ibunya dengan pelan, takut kalau-kalau ibunya telah tertidur dan dia hanya akan mengganggu saja.


"Masuk!" sahut suara ibunya dari dalam saat dia mengetuk pintu kamar ibunya untuk ketiga kalinya. "Ada apa, sayang?" tanya Pipit sedikit heran, tak biasanya Laura menghampiri dirinya kalau tak ada hal yang sangat penting. Jadi, apa yang anak ini ingin bicarakan dengannya saat ini.


Kening Pipit mengernyit dalam. "Kamu diganggu seseorang?" tanya wanita itu menebak. "Apa teman sekolah kamu dibully oleh teman sekolahmu?" lanjut Pipit berprasangka yang tidak-tidak.


"Bukan itu, ma," kata Laura menanggapi.


"Lalu? Buat apa kamu minta seorang penjaga?" tanya Pipit tak paham.


"Aku gak minta penjaga, mama. Aku minta supaya ada yang nunggu di sekolah sebelum aku keluaran dari kelas," jelas Laura

__ADS_1


"Kamu ingin dijemput lebih awal dan ditunggu hingga jam pulang sekolah kamu tiba, begitu?" tukas Pipit paham.


Melihat anaknya mengangguk mengiyakan, Pipit memasang tampang serius. "Apa yang terjadi hari ini, Laura?" tanya Pipit merasa kalau hari ini ada yang salah terjadi pada anaknya.


"Seorang pria mendekati Laura saat gerbang sudah ditutup, pria itu berbicara tak jelas dan kurasa dia adalah pria sampah yang mama katakan padaku sebelumnya," jawab Laura santai.


"Baj*ngan!" umpat Pipit menyumpahi Jamal. "Apa yang dia lakukan? Apa saja yang kamu dengar, sayang?" tanya Pipit tak sabar. Wanita itu mendekati anaknya dan mengguncang bahu kecil Laura


"Hanya kata-kata yang penuh dengan omong kosong, ma," balas Laura seraya menatap lurus mata ibunya.


"Jangan dengarkan dia, Laura! Jangan pernah dengarkan ucapannya dan tertipu padanya!" tukas Pipit menekankan kata-katanya kepada anaknya.


Laura mengangguk paham. "Aku malah menyuruh dia untuk mati, ma," kata gadis itu dengan nada pelan. "Aku benci mendengar kata seandainya keluar dari mulut pria tak jelas itu!" lanjut gadis itu. Bibirnya mengatakan benci, hatinya merasakan perasaan kesal, tetapi wajahnya masih saja tetap datar. Itulah Laura, gadis kaku yang lupa bagaimana berekspresi karena banyaknya tuntutan dari ibunya.


Kini giliran Pipit yang mengangguk, dia senang anaknya membalas ucapan Jamal dengan perkataan yang kejam dan tak berperasaan seperti itu. Pria sampah itu memang cocok dengan kata-kata kasar yang penuh dengan makian.


"Akan mama suruh supir kita untuk datang setengah jam sebelum jam pulang sekolah, sayang," kata Pipit. Perasaannya kembali tenang. "Sekarang tidur, ini sudah malam," lanjut wanita itu seraya mengusap kepala Laura, mungkin ini tindakan yang tak disengaja dan dilakukan begitu saja. Tapi Laura cukup senang meski sedikit terkejut di awal karenanya. "Jangan lupa belajar saat kamu bangun nanti!" tambah sang ibu.


Laura kembali ke kamarnya, dia memegang kepalanya. Senyum teramat tipis terlukis di bibir gadis itu, perasaan hangat membuncah. "Ini malam yang indah," gumam gadis itu melangkahkan kakinya dengan ringan menuju kamarnya. Laura yakin malam ini dia akan tertidur dengan sangat nyenyak.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2