WISH ...

WISH ...
33


__ADS_3

Saat Laura ke kantin bersama teman-temannya, Jamal menghampiri Laura dan meminta untuk bicara. Ketiga temannya mengatakan kalau Jamal bukan orang baik dari tampangnya, tentu saja Jamal marah dan hendak protes. Pria itu ingin mengatakan siapa sebenarnya dirinya kepada tiga anak nakal yang tak tahu apa-apa ini. Laura mencegah, menyuruh Jamal untuk menutup mulut atau mereka tak akan bertemu lagi.


Akhirnya, Jamal dan Laura berbicara berdua. Zahrah dan dua kawannya yang lain menunggu tak jauh dari tempat Laura berbicara dengan Jamal. Jamal mendesak, meminta tolong akan sesuatu. Laura mengatakan kalau dia tak punya kewajiban untuk menolong.


Jamal terus bersikeras, dia merupakan ayah kandung Laura, jadi gadis itu harus mau menolong dirinya meski tak mau. Laura mengibaratkan Jamal dengan botol yang sudah dia buang isinya, dia injak hingga tak berbentuk lagi. Tentu saja Jamal marah, pria itu berteriak kasar. Memaki dirinya dan juga Pipit, tapi Laura tak peduli. Dia hanya butuh ibunya, bukan pendapat pria tak penting yang sok bersikap manis kepadanya akhir-akhir ini.


Saat kembali bersama ketiga kawannya, Zahrah dan yang lain malah sibuk berbincang tentang makanan dan minuman di kantin. Laura yang peka dan tahu kalau kawannya penasaran pun akhirnya menanyai kawan-kawannya, apa mereka tak ingin bertanya padanya.


Zahrah, Rani, dan Windy saling menatap. Ketiganya mengangguk serempak. "Kalau kami bertanya apa kamu akan menjawab?" tanya Rani ingin tahu.


"Mungkin," balas Laura tak yakin.


"Kalau begitu kami akan menunggu sampai seorang Laura siap bercerita dengan sendirinya!" kata Zahrah dengan yakin.


"Tapi mungkin itu tak akan pernah terjadi," tukas Laura dengan nada datar.


"Lalu kenapa?" tanya Windy cuek. "Setiap orang punya sesuatu yang gak mau dia bagi pada siapa pun. Jadi itu hal yang wajar dan kami juga gak sekepo itu!" lanjut gadis itu acuh tak acuh. Meski dia ingin tahu, tapi dia tahu kalau itu bukan tempatnya untuk ikut campur.


"Terima kasih," kata Laura.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


Jamal beralasan sakit dan meminta izin untuk pulang lebih cepat, dia sedang kesal dan dia malas kalau harus mendengar perintah dari orang lain hari ini.


"Padahal ini kesempatan terakhir aku bisa mendekati anak s*alan itu," dengus Jamal menendang udara kosong. Dia sedang di halte, menunggu bus datang. Memang benar kalau hari ini adalah kesempatan terakhir Jamal bertemu dengan Laura, karena ini hari terakhir mereka bekerja di sekolahan itu. Besok mereka akan pergi ke sekolah lain.


"Kenapa anak itu menjadi sangat jahat dan pedas?!" gerutu Jamal mengingat apa yang dikatakan Laura padanya tadi.


"Awas saja nanti, akan kuberi dia hukuman saat aku sudah kembali!" desis pria itu yang masih saja berpikir kalau dia bisa kembali dan ikut mendompleng hidup bersama dengan Pipit lagi.


Bus yang ditunggu Jamal tiba, pria itu naik dengan langkah menghentak, mungkin saking kesalnya dirinya tapi dia tak punya tempat untuk melampiaskan kekesalannya itu. Jamal berniat untuk keluar dari rumah bosnya, dia berkemas dengan cepat dan menunggu yang punya rumah pulang. Bagaimana pun dia tak bisa pergi begitu saja, dia dikenal sebagai pria baik yang sopan, bukan sebagai Jamal yang seenaknya sendiri dan egois.


"Aku pulang secepatnya karena kamu mengatakan sedang sakit saat kamu izin tadi," kata pria si pemilik rumah yang pulang sebelum jam kerjanya berakhir.


"Bagaimana pekerjaan anda, bos?" tanya Jamal basa-basi.


"Terima kasih, bos. Maaf selama ini saya merepotkan," kata Jamal tersenyum sumringah melihat uang yang sebenarnya dulu hanya akan jadi kertas mainan saja baginya. Tapi kini semua berubah, dia tak memiliki apa-apa lagi. Jadi, sesedikit apa pun uang yang dia dapatkan, dia akan merasa itu cukup banyak. Apa lagi kalau dia bisa menggunakan uang itu untuk kembali bersama dengan Pipit, masuk ke rumah mewah itu lagi, dan menjadi bos di sana.


"Loh, kamu mau ke mana?" tanya bosnya Jamal melihat tas Jamal di sisi pria itu.


"Oh, saya tak enak kalau terus menumpang di sini," kata Jamal segera.


"Jadi kamu mau ke mana?" tanya pria itu sedikit cemas pada rekan kerjanya. "Apa kamu punya tempat yang dituju?" katanya lagi bertanya.

__ADS_1


"Saya bisa membayar biaya sewa dengan uang yang bos berikan," timpal Jamal.


"Ayolah, menetap di sini tak akan mengubah apa pun. Lagian aku juga sendirian," tukas si bos. Bukannya dia orang yang teramat baik, tapi dia kasihan melihat Jamal yang tak punya keluarga, tak ada tempat tujuan, malah memutuskan untuk mandiri. Lebih baik tinggal bersama dirinya, uang yang pria itu terima bisa digunakan untuk keperluan lain.


"Tapi saya sudah terlalu lama merepotkan anda, bos," kata Jamal.


"Tak apa, malah aku senang ada yang menemani makan di rumah yang biasanya sepi ini," kekeh si bos berkata dengan ringan. "Kita bisa berangkat bersama ke kerjaan, kamu saya bonceng di belakang seperti biasanya," lanjut pria itu.


"Kata terima kasih saja tak akan cukup untuk membalas kebaikan anda, bos," tukas Jamal berkata sekedarnya tanpa maksud memuji atau bersungguh-sungguh berterima kasih.


"Kalau begitu, mari jalani hidup kita degan baik. Bekerja keras untuk masa depan yang lebih cerah dan mudah!" kata si bos penuh semangat.


Jamal menyembunyikan seringai jahatnya. "Baik, bos! Saya akan bekerja dengan sangat keras untuk masa depan saya!" kata pria itu. Tentu saja dia akan bekerja keras, tapi sayangnya dalam artian lain. Jamal akan terus berusaha untuk menyelip di antara Pipit dan Laura. Dengan cara apa pun dia tak peduli, asal semua yang dia inginkan terpenuhi. Demi hidupnya yang lebih mudah di kemudian hari, Jamal bisa menjadi orang paling suci atau orang paling jahat sekali pun. Kalau dengan cara baik dia tak berhasil, dia bisa mencoba menggunakan cara jahat untuk melancarkan rencananya.


"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Pertahankan terus semangatmu!" kata si bos. "Ayo kita makan malam, hari ini kita makan mie instan lagi, soalnya saya belum mengisi bahan di rumah," ucap si bos nyengir. Dia tak sempat berbelanja karena sibuk bekerja, jadi mereka menikmati mie instan saja sebagai makan malam beberapa hari ini.


"Tak apa, saya juga cukup menyukai rasanya," kata Jamal menimpali.


"Memang orang seperti kita ini lebih cocok makan mie instan yang banyak pilihan rasanya tapi murah. Makanan mewah memang enak, tapi kantong terasa berat," tukas si bos sambil terkekeh.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2