
Sedikit demi sedikit, Pipit mencurahkan kasih sayang pada Laura. Meski canggung dan tak percaya, gadis itu menerima semuanya begitu saja. Dia masih juga mengira kalau semua ini hanyalah mimpi dan dia masih tertidur lelap di dunia nyata.
Pipit tak juga menyerah, dia sudah bersikap keras selama bertahun-tahun. Masa dia tak bisa bersikap sebaliknya dan membuat anaknya kembali ceria seperti anak-anak normal lainnya. Bukan artinya Laura tak normal, hanya saja gadis itu terlalu kaku, dingin, dan tak bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Semoga harimu menyenangkan, sayang," kata Pipit saat mereka sampai di gerbang sekolah anaknya. Tak banyak yang berubah, mereka berdua makan malam bersama, bercerita hingga sedikit larut, sarapan pagi bersama, dan Pipit berusaha untuk mengantar-jemput anaknya tepat waktu. Sedikit waktu pun tak ingin dilewatkan wanita itu begitu saja.
Laura mengangguk pelan. "Mama juga, semangat," balas Laura memberi semangat, yah tetap dengan wajah datar andalannya.
"Mama pergi dulu, sayang. "Jangan terlalu banyak membaca, nanti matamu sakit!" Laura lagi-lagi menganggukkan kepala. Bahkan setelah mendengar kata-kata yang tak mungkin pernah terucap dari mulut ibunya dulu, dia tak bereaksi apa pun saat mendengar kata seperti itu sekarang.
"Ra, tunggu!" panggil Zahrah yang kebetulan juga baru tiba.
Laura menghentikan langkahnya dan menoleh. "Pagi, Ra," sapa Zahrah begitu sampai di depan Laura.
"Pagi," balas Laura singkat.
"Temani aku beli permen bentar yuk," ajak Zahrah disertai dengan senyum lebar.
"Tas?" tukas Laura balik bertanya.
Anehnya Zahrah paham dengan pertanyaan tak utuh dari kawannya yang satu ini. "Kita langsung ke kantin aja bawa tas, ga usah ke kelas dulu. Lama ntar," timpal Zahrah.
"Ya," kata Laura setuju.
"Aku gak nyangka kamu bakalan setuju segampang," kikik Zahrah sedikit takjub. "Maksud aku gak biasanya kamu langsung mau nemenin aku ke kantin," kata gadis itu lagi.
Laura membuka mulutnya, tapi kemudian doa menutup rapat kembali bibirnya. "Mama mengizinkan aku untuk sedikit bersenang-senang," kata gadis itu setelah sedikit berpikir lebih lama sebelum menjawab.
__ADS_1
"Benarkah? Sungguh?" tanya Zahrah terlihat senang. "Wah, apa artinya kita bisa belanja bareng kalau liburan nanti?" tanya gadis itu lagi penuh harap. Dia suka shopping bareng teman-temannya setiap akhir pekan atau liburan. Asal ada waktu libur dan mereka sepakat, pasti mereka berempat akan bermain di mall untuk waktu yang cukup lama. Tak harus selalu berbelanja dan menghabiskan uang, berkeliling saja sudah cukup untuk menghabiskan waktu bersama.
"Kamu mau?" tawar Zahrah menyodorkan permen yang baru dibelinya.
Laura berniat menggeleng, tapi tak jadi. Tangan gadis itu terulur menerima permen yang diberikan oleh Zahrah padanya. "Thanks," katanya sembari menarik garis tipis di bibirnya.
"Astaga, Ra. Senyum kamu tuh cakep abis. Senyum super tipis kayak barusan aja udah bikin kamu tuh keliatan, beh, super cantik dah. Apa lagi kalau kamu pamer senyum lebar, pasti lebih, lebih, dan lebih dari sekedar cantik!" puji Zahrah lupa mengontrol suaranya. Alhasil, mereka jadi pusat perhatian.
"Upss, sorry. Ayo kita cepetan ke kelas," bisik Zahrah. Keduanya mempercepat langkahnya, menghindari tatapan mata yang menghujam ke arah mereka.
"Selamet, selamet!" tukas Zahrah menghela napas lega. "Maaf, ya Ra. Gara-gara aku kita jadi diliatin orang tadi," ucap gadis itu penuh sesal.
"Gak apa-apa," balas Laura tak peduli. Bukan pada kawannya, tapi pada apa yang terjadi barusan.
"Woi, kok baru pada nongol kalian berdua?" tanya Windy. "Hampir telat, loh. Kalau telat, siap-siap aja dihukum!" lanjut gadis itu usil.
"Kita dari mojok ke kantin, dong," ucap Zahrah seraya merangkul Laura dengan bangga.
"Ye, gak percaya dia," tukas Zahrah meremehkan. "Kasih liat, Ra. Kasih liat! Permen yang merupakan ikon kantin sekolah kita yang tercinta!!!" lanjut gadis itu sedikit alay.
Laura mengambil sesuatu di sakunya, dia membuka telapak tangannya dan terlihatlah dengan jelas sebungkus permen yang tadi diberikan Zahrah kepadanya. "Sekarang kalian-kalian pada percaya, kan?!" tukas Zahrah mengangkat dagu sombong.
"Kenapa aku gak diajak, Markonah?" tanya Rani protes. "Aku kan pengen beli juga," tukas gadis itu manyun.
"Karena diriku tak bertemu dengan dirimu di gerbang, Zubaidah!" timpal Zahrah membela diri.
"Sudah-sudah, Markonah sama Zubaidah gak boleh marahan cuma gara-gara masalah sepele!" sela Windy melerai. "Ke lapangan saja sana, sekalian adu tinju! Bosen liat adu mulut tiap hari," lanjut gadis itu tersenyum tanpa dosa.
"Inem diam aja! Jangan ikut-ikutan!!!" serempak keduanya menyemprot Windy.
__ADS_1
"Gak pakai muncrat juga kali! Hujan lokal ini, mana bau lagi," keluh Windy protes.
"Markonah, Zubaidah, Inem? Aku baru tahu kalau nama kalian begitu," celetuk Laura dengan tampang serius.
Ketiga kawannya menatap Laura, sedetik kemudian suara tawa lepas terdengar dari mereka. "Astaga, kamu itu terlalu serius, Ra!" kata Zahrah di sela tawanya.
"Itu cuma panggilan buat lucu-lucuan aja!" tukas Rani yang tertawa paling kencang.
"Bener kata orang, polos sama bego itu levelnya sama," tambah Windy blak-blakan. Gadis itu tak berniat menghina, tapi Laura memang terlalu polos dan serius dalam menanggapi apa pun hingga nyaris terlihat seperti orang bodoh.
Laura menatap ke luar jendela, apa seperti ini cukup untuk membuat ibunya senang. Itulah yang gadis itu pikirkan saat ini.
"Eh, tapi ... tumben kamu gak baca buku, Ra?" tanya Windy kepo.
"Ho, iya, ya," timpal Rani baru sadar.
"Kamu gak lagi sakit tapi maksain diri buat masuk kelas, kan?" tukas Zahrah bertanya dengan mata menyipit.
"Mama bilang aku harus ngurangin durasi belajar aku. Nanti mata aku bisa sakit kalau kebanyakan baca buku," tukas Laura menjelaskan.
"Ho-ho-ho, bagus, bagus. Jadi kita bisa makan di kantin tanpa takut buku kamu kecipratan kuah!" kata Zahrah bersemangat. "Sesekali kamu harus rasain makanan di kantin! Jangan cuma numpang duduk aja kayak biasanya!!!" tambah gadis itu.
"Bener. Sekali nyoba pasti langsung ketagihan, micin itu emang the best kok!" timpal Rani memuji.
"Belum lagi semua varian es yang menyegarkan. Saat gerah gegara capek mikir, cuaca, plus gerah hati liat gebetan gak juga peka. Di saat itulah, sesuatu yang manis dan dingin menyelamatkan harimu!" kata Windy berubah alay kalau sudah menyangkut minuman dingin.
"Curhat, bund?" kekeh Zahrah membuyarkan lamunan indah antara Windy dan es-es yang sedang beterbangan di kepala gadis itu.
"Sirik aja, sih!" ketus Windy kesal. Mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...