
Jamal mengintai sekolah putrinya, bukan hal yang sulit untuk mencari tahu di mana anak itu bersekolah saat ini. Dia hanya harus merogoh kantong sedikit lebih dalam, dan viola, informasi tentang sekolah Laura sudah dia dapatkan dengan begitu mudahnya. Sayangnya dia lupa menanyakan siapa nama anaknya, tapi itu tak masalah. Dia masih memiliki foto lama Laura yang belum terhapus dari ponselnya, dia bisa mengira-ngira seperti apa wajah anaknya saat ini dari foto tersebut.
Di sisi lain, Laura terus termenung. Sedikit banyak dia ternyata memikirkan apa yang ibunya ucapkan, bahkan dia tak bisa fokus belajar dan hanya terus diam, bertarung di dalam otaknya dengan berbagai argumen yang bahkan belum terjadi. Zahrah menanyakan ada apa dengan Laura , tetapi Laura mengatakan tak ada apa-apa. Keempatnya pun akhirnya sedikit ribut, tapi bukan karena marah-marah atau berantem. Lebih tepatnya mereka bercanda, yah kecuali Laura yang hanya memerhatikan saja tanpa ikut menyela sama sekali.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Sepulang sekolah, entah karena masalah apa, supir yang menjemput Laura, datang lebih telat dari biasanya. "Ikut aku aja, yuk,"ajak Zahrah. Pasalnya dari tadi Laura menunggu dan jemputan yang dia tunggu belum juga datang.
Laura menggeleng pelan. "Duluan aja, mungkin sebentar lagi datang. Aku gak mau buat supir aku kena masalah nanti," balas Laura.
Zahrah mengangguk ragu. "Kalau gitu, aku duluan, ya," kata gadis itu terus menatap kawannya, berharap Laura berubah pikiran dan ikut bersama dengannya.
"Hati-hati," balas Laura dengan nada tenang.
Zahrah masuk ke dalam mobil yang menjemput dirinya, sekali lagi menatap kawannya. Tapi sayang, Laura tak juga berubah pikiran. Akhirnya, Zahrah hanya bisa melambai dan meninggalkan Laura menunggu jemputannya di sana.
"De, gerbangnya udah mau saya tutup ini," kata si satpam penjaga sekolah.
__ADS_1
Laura mengangguk paham, segera melangkah pergi tanpa kata dari sana. Dia bisa menunggu di luar gerbang, jadi tak perlu merepotkan orang lain. "Maaf ya, dek. Gerbangnya harus bapak tutup, soalnya jam kerja bapak sudah habis," kata si satpam tak enak hati.
"Tak apa, pak," kata Laura membalas dengan tampang datar.
Dari balik pohon yang besar, seorang pria menggosok tangannya. Merasa dirinya adalah orang yang paling beruntung, yang tak harus menunggu waktu lama untuk menjalankan rencana yang dia baru saja buat. Jamal mengusak rambutnya, membuat penampilannya semakin berantakan. Dia pun segera ke luar dari balik pohon, tempat dirinya bersembunyi tadi. Pria itu berjalan sedikit sempoyongan, berpura-pura lemah seakan dia bisa jatuh meski hanya angin yang menerpa dirinya. "Ukh, di mana jatuhnya tadi?" gumamnya sengaja sedikit dikeraskan agar Laura mendengar. Dalam hati dia yakin kalau anaknya pasti akan menghampiri dirinya karena khawatir. Yah, tipe-tipe anak baik pasti begitu.
Laura melirik singkat mendengar kehadiran orang lain selain dirinya. Setelah itu, dia langsung kembali menatap ke depan. Menunggu si supir yang sudah sangat-sangat terlambat menjemput dirinya. "Astaga, sebenarnya apa yang diajarkan Pipit kepada anak manisku?" bisik Jamal tak percaya. "Mengapa anakku yang sangat ceria berubah jadi kaku dan dingin seperti ini?" lanjut pria itu lagi. "Memang tak boleh mempercayakan semua pada wanita yang sibuk dengan pekerjaan!" tambah Jamal seraya mendengus. Tak sadar kalau itu semua karena dirinya yang kabur dan membuat Pipit berubah menjadi keras dalam mendidik Laura.
"Ini jam berapa, ya?" tanya Jamal berpura-pura mendekati Laura.
Laura tak menjawab, gadis itu malah menunjuk ke depan. Jamal mengikuti arah yang ditunjuk Laura, dia langsung mengumpat dalam hati begitu melihat apa yang ditunjuk anak ini barusan. Bagaimana dia lupa kalau ada jam besar yang dipajang di tengah-tengah kota, dasar si*lan. "Penglihatan saya sedikit buruk, nak. Makanya saya bertanya barusan," kata Jamal beralasan.
Jamal menatap lekat wajah Laura, tak lama air mata menetes dari pipi pria itu. Tentu saja itu hanya sandiwara belaka. "Maaf, maaf. Melihat kamu, mengingatkan bapak pada anak bapak, nak," kata Jamal dengan nada pilu.
"Tak masalah!" balas Laura. "Cukup banyak orang yang terlihat mirip," lanjut gadis itu lagi.
"Seandainya saja saya tak terbujuk rayuan, saya pasti akan melihat anak saya bertumbuh. Anak saya pasti cantik seperti kamu, nak," ujar Jamal tak menyerah memainkan peran menjadi ayah yang sepenuhnya menyesal telah melakukan kesalahan di masa lalu.
__ADS_1
"Maka matilah!" timpal Laura dingin. "Kata seandainya sangat tak berguna di dunia ini," lanjut gadis itu lagi.
Baru saja Jamal ingin kembali berucap, Laura telah lebih dulu menyela. "Saya permisi, jemputan saya sudah datang!" kata gadis itu. Laura berlalu tanpa menoleh sama sekali.
Jamal geram, dia kesal sendiri karena rencana yang sudah disiapkannya gagal begitu saja. Ternyata anaknya lebih dingin dari pada mantan istrinya, tak mudah untuk mengambil hati mereka kalau begini situasinya. "Sial!" ucap Jamal menentang gerbang yang sama sekali tak memiliki kesalahan apa pun. "Apa sebenarnya yang diajarkan oleh Pipit pada anak lugu dan polos itu?" katanya berteriak marah. Mau tak mau, Jamal kembali ke hotel sambil misuh-misuh. Pria itu menyangka hari ini dia bisa menikmati kasur yang lebih empuk dan juga semua fasilitas mewah gratis di rumah istrinya. Tapi apa, semua gagal. Yang ada dia malah disuruh mati.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Tadi nona dengan siapa di depan?" tanya si supir setelah meminta maaf berkali-kali dan beralasan panjang lebar.
"Orang gila yang bergantung pada kata SEANDAINYA!" balas Laura tanpa emosi.
"Ya?" tanggap si supir tak paham. Melihat majikan kecilnya diam, si supir pun kembali berbicara. "Kalau saya belum datang dan pagar sudah ditutup, lebih baik nona menunggu di tempat yang cukup ramai. Kalau perlu nona bisa menunggu di kafe yang ada di seberang sekolah nona," lanjut si supir khawatir kalau nonanya diculik atau mungkin seseorang berniat jahat pada nonanya yang polos ini.
Laura mengangguk paham. "Ya," balasnya singkat. Tak buruk juga menunggu di kafe, dia bisa belajar di sana. Dari pada diganggu oleh makhluk tak jelas yang tak ingin dia temui sama sekali. Rupanya apa yang ibunya katakan pagi ini terjadi juga, pria gila yang pernah minggat dari hidup mereka, mendekati dirinya. Jelas apa niatnya, Laura bisa melihat kalau dirinya hanya ingin dimanfaatkan untuk dijadikan jalan pintas agar bisa masuk ke rumah mereka. Memangnya Laura sebodoh itu, meski dia butuh dan haus akan kasih sayang. Namun, dirinya juga tak ingin kasih sayang yang penuh kepura-puraan. Dia ingin yang tulus dan hanya dari ibunya lah dia mengharapkan semua itu dengan sangat. Dirinya tak butuh sosok ayah yang tak berguna dan jahat seperti pria tadi.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...