WISH ...

WISH ...
34


__ADS_3

Jamal kesal, dia memilih pulang. Tentu saja dia harus izin dulu, dan alasan yang paling berguna adalah karena dia sakit. Sesampainya di rumah, Jamal mengemas pakaiannya. Dia berniat pindah agar bisa lebih leluasa bergerak sesuai rencananya. Kalau terus tinggal di sini, Jamal tak akan bisa bebas menjalankan rencana karena ada bosnya yang hidup bersama dengan dirinya.


Jamal makan malam seadanya,hanya ada sedikit nasi dan mie kuah instan sebagai lauk. Satu butir telur pun tak ada di rumah, sungguh begitu susah untuk mencari lauk yang sesuai seleranya yang dulu. Untung ya Jamal mulai terbiasa memakan mie instan, yah sebenarnya tak ada pilihan lain. Dia tak punya uang, tak bisa membeli makanan,dan yang bisa dia dapatkan hanya mie instan, mie instan, dan mie instan lagi setiap waktunya makan. Bagiamana lidahnya tak cepat beradaptasi kalau terus diberikan makanan yang sama, hanya saja dengan rasa yang berbeda-beda.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di sisi lain, Pipit mengajak anaknya makan malam di luar. Dia memberikan sang anak kebebasan untuk memilih makanan apa hang dia inginkan. "Pilih apa pun yang kamu suka, sayang," kata Pipit mulai membuka menu. "Kamu mau cokelat juga?" tanya wanita itu melihat berbagai macam makanan yang terbuat dari cokelat yang disajikan sebagai makanan penutup. "Gadis cantik biasanya suka dengan makanan yang manis," lanjut Pipit seraya tersenyum lebar.


"Cokelat merusak gigi, ma," kata Laura menimpali.


"Ayolah, makan sesekali tak akan membuat gigi langsung rusak," sanggah Pipit seperti anak kecil.


"Menjaga lebih baik dari pada mengobati! Itu yang dikatakan buku dan juga guru Laura," balas gadis itu lagi.


"Bagaimana mau menikmati hidup kalau makanan yang manis saat menjadi larangan?" tukas Pipit mencoba membuat anaknya berubah pikiran.


"Masih banyak makanan sehat yang lainnya," kata Laura enteng.

__ADS_1


"Tapi tak seenak makanan manis yang dilarang! Belum lagi makanan-makanan lain yang katanya banyak kalori, bisa bikin sakit kalau dimakan. Huh, kenapa harus dimasak dan dibuat resepnya kalau tak bisa dinikmati dengan bebas?!" dengus Pipit.


"Agar tetap sehat, ma," tukas Laura menimpali. "Makanan sehat tak harus selalu enak, karena kelebihannya sudah didapat dari label sehat yang dijanjikan!" lanjut gadis itu tanpa menatap ibunya, dia sibuk memilih makanan apa yang akan dia pilih. "Laura salad aja sama jus jeruk," kata gadis itu menutup buku menu.


"Astaga, anakku tersayang, anakku tercinta. Kenapa kamu selalu memilih salad, salad, dan salad saat kita makan diluar, sayangku?" desah Pipit. "Apa uang yang mama hasilkan kurang banyak? Jadi mama tak bisa membayar makanan lain, selain salad?" lanjut Pipit mendesah lelah.


"Bukan begitu maksud aku, ma," ucap Laura yang melihat ibunya sedikit menekuk wajahnya karena merasa sedih. "Laura hanya terbiasa memakan itu saja," kata gadis itu lagi.


"Maka dari itu, cobalah pesan sesuatu yang lain, ya?" ucap Pipit tapi tak terlihat memaksa, semua terserah bagaimana maunya sang anak saja. "Pesan sebanyak apa pun, semahal apa pun, mamamu ini bisa membayar semua makanan yang kamu inginkan, sayang," kata Pipit dengan bangga. Dia bekerja keras selama ini untuk memenuhi kebutuhan sang anak, yah meski dia tadinya sedikit keras, tapi dia tak pernah pelit kalau soal makanan. Hanya saja, masalahnya ada di Laura. Anaknya itu selalu memilih makanan sehat yang tak terlalu banyak menggunakan micin dan bahan tambahan yang buruk untuk kesehatan jika dikonsumsi dalam waktu yang lama terus-menerus.


Laura menambah pesanannya, dia tak yakin, tapi dia pasti bisa kalau untuk menyenangkan hati sang ibu. Mereka berdua pun makan malam dalam suasana damai dan hangat, Pipit sesekali bertanya soal sekolah Laura, wanita itu juga bertanya soal Jamal, apakah Jamal masih mengganggu waktu anaknya. Laura menjawab seadanya, dia juga menceritakan apa yang terjadi tadi di sekolahnya, apa yang dia katakan paga Jamal. Semua, Laura menceritakan semua tanpa ada niat menutupi satu pun hal yang dia alami di sekolah.


"Sebentar lagi ulangan, terus naikan kelas, Laura rasa tak perlu, ma," kata Laura baru kali ini mengungkapkan apa yang dia pikirkan. "Tapi terserah mama saja, mana yang menurut mama baik, itu pasti yang terbaik untuk Laura," kata gadis itu lagi.


"Astaga, maaf sayang," tukas Pipit dengan raut wajah menyesal. "Bisa-bisanya mama tak memikirkan hal itu dan malah ingin mengisolasi kamu," kata Pipit lagi.


"Tak apa, itu pasti demi kebaikan Laura , kan?" timpal gadis itu penuh pengertian.

__ADS_1


"Tidak, sebenarnya itu mama lakukan untuk menenangkan hati mama yang khawatir. Bukan hanya karena kamu yang menjadi alasan mama," aku Pipit jujur.


"Laura bisa melakukannya kalau mama mau?" tukas Laura menatap lurus sang ibu.


"Tidak, tidak. Itu tak diperlukan lagi. Mama akan meminta kerja sama pihak sekolah agar lebih memerhatikan keamanan siswanya, terutama kamu, sayang. Mereka pasti mau mendengarkan apa yang mama katakan," tukas Pipit yakin.


"Lakukan seperti yang mama inginkan," kata Laura setuju-setuju saja pada keputusan yang diambil oleh sang ibu untuk dirinya.


"Sayang, bagaimana kalau kita buat pesta ulang tahun kamu?" tanya Pipit lagi setelah beberapa saat keheningan menggantung di antara mereka.


"Ya?" tanya Laura heran. Bukannya dia tak pernah merayakan ulang tahunnya selama ini, tapi mereka memang tak pernah membuat pesta beberapa tahun ini. Ada apa dengan semua perubahan ibunya, Laura mengernyit bingung, untuk pertama kalinya wajah datar itu berubah ekspresi.


"Kita buat pesta, undang teman-teman kamu, buat kue tart yang bertingkat tinggi, dan lain sebagiannya yang bisa memeriahkan hari kelahiran kamu, sayang!" tukas Pipit bersemangat.


"Kenapa tak dibuat seperti biasanya saja, ma?" tanya Laura heran. Biasanya mereka merayakan di rumah, tak sampai setengah jam dan semua berakhir. Setelah itu, Laura harus kembali belajar. Membuka kado yang diberikan bisa nanti-nanti, pelajaran yang paling penting untuk membuat otak tak tumpul dan terus menambah pengetahuan.


"Kita buat sedikit perubahan, sayang," balas Pipit menyembunyikan rasa sesalnya karena tak memerhatikan sang anak. Ini dia lakukan untuk menebus sedikit demi sedikit kesalahan-kesalahan yang dulu dia perbuat karena sikapnya yang terlampau egois pada Laura.

__ADS_1


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2