WISH ...

WISH ...
37


__ADS_3

Saat Pipit dan Laura jalan-jalan, rupanya Jamal membuat keributan di area kediaman Pipit. Pria itu datang dan berteriak karena tak diizinkan masuk, dia juga mengancam akan mengingat semua wajah yang sudah mengadangnya dan memecat mereka. Dia juga mengatakan kalau dirinya itu tuan besar di kediaman ini.


Dari laporan, beberapa pelayan baru sedikit ragu dan takut mendengar ancaman dari Jamal. Pipit yang tak ingin memberi celah, langsung memecat mereka. Dia tak ingin para pelayan baru yang terlihat ketakutan itu dimanfaatkan oleh mantan sampahnya, bisa saja salah satu dari mereka memberi izin Jamal untuk masuk saking takutnya dia dengan ancaman kosong Jamal.


Karena masalah ini, Pipit juga sering sekali melamun. Belum lagi hari-hari yang dia lewati terasa terlalu damai, Pipit jadi tak tenang. Dia merasa seakan ada badai yang akan datang menghampiri mereka, mungkin dia berlebihan, tapi itulah yang dia rasakan.


Rupanya, Pipit yang terlalu sering melamun membuat Laura khawatir. Dia takut kalau ibunya sakit atau kelelahan karena terlalu banyak bekerja. Ibunya seorang wanita yang sibuk, bahkan sang ibu juga akhir-akhir ini menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama dengan dirinya. Mungkin saja itu yang membuat sang ibu lebih lelah dari pada biasanya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Nanti mama jemput, tunggu di dalam saja. Jangan di luar gerbang," kata Pipit begitu mereka sampai di depan gerbang sekolah.


"Baik, ma," balas Laura singkat.


"Semoga harimu menyenangkan, sayang!" kata Pipit seraya mengecup lembut dahi anaknya.


Laura tampak terkejut, meski hanya sesaat. Kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya. "Mama juga!" katanya membalas. Laura segera turun dari mobil, melambai beberapa kali, kemudian masuk ke dalam. Gadis itu memegang dahinya, terasa hangat. Laura tak sadar kalau dia tersenyum sedikit lebih lebar dari biasanya, mungkin karena dia merasa senang mendapat kecupan pagi untuk pertama kalinya dari sang ibu.


"Hoi, senyum-senyum sendiri. Kesambet, ya?" kikik Windy sengaja mengagetkan Laura, dia menyusul kawannya secara diam-diam dengan niat berbuat usil seperti ini. "Atau kamu liat gebetan, ya? Makanya senyum-senyum manis gitu? Cie, cie, yang punya gebetan. Siapa? Siapa?" goda Windy sambil menoel-noel bahu Laura.


"Apaan, sih?" gerutu Laura tak suka. Baru saja dia merasa senang, kini dia harus kesal karena kawannya yang jahil satu ini.

__ADS_1


"Siapa yang punya gebetan? Yang mana gebetannya?" Rani bergabung entah sejak kapan.


"Tuh, si tembok besi senyum-senyum sendiri tadi. Apa lagi kalau bukan gara-gara liat gebetan?!" timpal Windy menekankan kata gebetan.


"Jangan ngadi-ngadi, ya kalian!" suara pelengkap datang, Zahrah ternyata juga ikut bergabung bersama mereka bertiga. "Mana mungkin Laura kita punya gebetan, aku gak percaya!" katanya sangat yakin dengan apa yang dia ucapkan. "Ya, kan, Ra?" tanya gadis itu menatap penuh harap pada jawaban kawannya.


Laura memejamkan matanya, dia pusing, dia juga sedikit kesal karena dituduh seperti itu. Tapi dia tak sampai marah segitunya. "Bentar lagi bel," kata Laura lelah. "Dan, ya, aku gak punya yang namanya gebetan!!!" kata Laura tersenyum lebih lebar di depan ketiga kawannya, yah meski itu hanya bertahan selama beberapa detik saja dan langsung menghilang seperti tak pernah ada sama sekali.


"Omg, barusan dia senyum, kan?" tanya Windy tak percaya. "Fix, emang si Laura punya gebetan yang dia sembunyikan ini!" lanjut gadis itu keras kepala. "Cuma cowok yang bisa membuat cewek kulkas kayak Laura senyum-senyum gitu!" tambahnya entah menggunakan logika apa membuat kesimpulan aneh seperti ini.


"Aduh, siapa, ya?" kata Rani ikut-ikutan kumat. "Jadi kepo!" lanjut gadis itu dengan rasa ingin tahu yang besar. "Aku kan gak mau kalau nanti aku malah suka sama gebetan temen aku sendiri!" katanya. Padahal kemungkinan hal itu terjadi sangat kecil. Laura sendiri juga sudah mengaku kalau dia tak memiliki yang namanya gebetan. Mana dia mau repot-repot berurusan dengan cowok. Memikirkannya aja sudah membuat dia pusing, apa lagi kalau punya gebetan. Bisa-bisa waktu belajarnya akan terbagi.


"Gak mungkin! Kalian asal?!" pekik Zahrah yang paling sehat otaknya. Dia tak mau main asal tebak seperti dua temannya yang tak jelas ini.


"Betul!" timpal Rani setuju dengan pernyataan Windy. "Kalau Laura sukanya sama cewek, itu baru aneh!" bisik gadis itu semakin melenceng cara berpikirnya.


"Aishh, aku malas sama kalian. Bisa ikutan gak waras aku!" tukas Zahrah menggerutu kesal. "Ra, tunggu!" Zahrah mempercepat langkahnya, mengejar Laura yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan mereka.


"Woi, jangan tinggalin kita dong!" timpal Windy ikutan mengejar kedua temannya yang sudah duluan.


"Kita juga di kelas yang sama, kenapa coba harus dulu-duluan begini?" dengus Rani kesal. Tapi dia juga ikutan mempercepat langkahnya agar bisa jalan bersamaan dengan kawan-kawannya ke kelas. Mereka terus bercanda, sampai akhirnya pelajaran pertama dimulai.

__ADS_1


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Mamaku bakalan ngadain pesta ultah buat aku, kalian mau datang kan kalau dikasih undangan?" tanya Laura sedikit ragu, pasalnya ini pertama kalinya dia membuat acara.


"Party?" mata Windy berbinar saat dia mengucapkan satu kata itu. "Tentu saja aku akan datang, walau gak dikasih undangan aku bakalan tetap hadir!" kata gadis itu penuh semangat.


"Aku juga!" kata Rani mengangkat tangannya tinggi.


"Abaikan mereka," tukas Zahrah berperan sebagai penjahat kali ini. "Di otak mereka saat ini pasti sedang memikirkan aneka makanan gratis yang bisa mereka simpan dalam perut mereka kalau mereka hadir di pesta kamu!" tukas gadis itu yang sudah terlampau hapal dengan sifat kawan-kawannya. "Jadi, walau gak kamu undang. Mereka akan tetap datang kalau tahu kamu membuat pesta!" tambah Zahrah blak-blakan. Dua temannya yang lain tampak tak peduli aib mereka diumbar begitu saja. Apa mereka berdua tak marah atau kesal, kenapa Rani dan Windy terlihat biasa saja.


"Apa yang lain bakalan datang kalau aku undang?" tanya Laura tak yakin. Dia tak terlalu dekat dengan teman sekelasnya, hanya tiga orang ini yang mau mendekati dirinya dan bertahan berteman dengannya yang tertutup ini. Dia adalah penyendiri yang tak tahu harus apa untuk memulai pertemanan.


"Tentu saja mereka akan datang!" kata Windy yakin.


"Kalau mereka tak datang, mereka akan menyesal karena gak kebagian makanan serta kue ultah!" lanjut Rani.


"Datang pun mereka harus hati-hati, bisa-bisa kalian berdua duluan datang dan menyikat habis semua makanan yang disajikan di pesta Laura nanti," kikik Zahrah mengolok-olok kedua sahabat baiknya.


"Ih, kok pinter sih. Teman siapa, sih ini?!" timpal Windy tergelak sedikit keras.


"Siapa suruh lambat!" kata Rani tak acuh. Mereka bertiga tertawa bersama. Laura menatap dalam diam, dia belajar sesuatu yang baru lagi hari ini. Tak selamanya ejekan itu ditujukan dengan jahat, itu bisa saja hanya main-main. Tapi dengan catatan harus berteman dekat dulu untuk bercanda seperti ini.

__ADS_1


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2