
Pipit meninggalkan pengacaranya dan Jamal berdua saja di ruangannya, begitu Pipit pergi Jamal pun berniat untuk kembali sebelum di usir seperti sebelumnya. Jamal ditahan oleh dua pria yang berbadan kekar, entah dari mana keduanya muncul, yang jelas Jamal kalah dalam kekuatan meski dia sudah mencoba memberontak sekuat tenaga.
Keduanya beradu mulut, tapi Jamal menjadi pihak yang kalah. Pria itu ketakutan, bertanya apa yang diinginkan dari dirinya. Rupanya dia disuruh memilih dari dua hal yang diberikan padanya. Di harus memilih dengan seksama karena ini semua berhubungan dengan masa depannya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Apa pilihannya?" tanya Jamal mendengus congkak, menutupi kalau dirinya saat ini sedang gemetar ketakutan.
"Pilihannya gampang, anda hanya harus menjauh dan tak terlihat lagi di depan Nyonya Pipit, atau anda ingin mengambil pilihan yang kedua?" ucapnya sedikit menjelaskan.
Jamal mendengus, jelas dia keberatan kalau disuruh menjauh dan tak boleh terlihat lagi di depan Pipit. Padahal niatnya ingin kembali dan meraup uang sebanyak mungkin selama sisa hidupnya. Bagaimana dia bisa menjauh semudah itu. "Apa pilihan kedua yang disediakan buatku?" tanyanya angkuh.
Si pengacara tersenyum lebar, menopang tangan di dagu. "Masuk ke penjara untuk waktu yang tak tahu berapa lama dengan tuntutan yang pihak kami akan ajukan!" katanya dengan nada kelewat santai. Seolah penjara itu hanyalah tempat rekreasi biasa dan bukan tempat para penjahat mendapat hukuman.
"Permintaan tak masuk akal macam apa itu?" dengus Jamal kesal. Tak ada yang menguntungkan di antara keduanya, itu bukan pilihan tapi pemaksaan. "Tak ada yang kudapatkan dari dua hal tersebut!" lanjut pria itu menghitung untung-rugi.
"Kalau anda tak siap memilih, biar kami yang membuat pilihan," kata si pengacara bersikap sangat ramah. "Kami akan membuat pilihan yang paling baik di antara kedua pilihan yang kami berikan pada anda," katanya lagi. Pria itu sengaja menjeda ucapannya. "Misalnya saja, membiarkan anda mendekam di penjara!" lanjut pria itu memasang tampang tanpa dosa.
"Aku gak mau!" tukas Jamal meninggikan suaranya. Mendengar kata penjara saja sudah membuatnya gerah, masa dia harus mendekam di sana untuk waktu yang tak diketahui sampai kapan akan berakhir.
"Kalau begitu pilihannya hanya tersisa satu, anda menjauh sejauh mungkin dan tak boleh muncul di depan kedua klien saya!" timpal si pengacara dengan mata berkilat licik.
"Tak ada keuntungan yang kudapatkan kalau aku memilih itu!" dengus Jamal mencoba tak terpengaruh.
"Keuntungannya anda tak jadi masuk penjara, bukan?" balas lawan bicara Jamal dengan ringannya. "Silakan putuskan, tuan!" ucapnya mendesak.
__ADS_1
Jamal mengusap wajahnya kasar. "Apa tak bisa aku diberi uang begitu?" kata pria itu putus asa.
"Tak ada pilihan yang mengatakan hal itu, tuan," kekeh si pengacara menertawakan Jamal.
"Kamu tahu, aku ke sini agar bisa memulai kembali bersama dengan keluargaku. Tapi yang kudapatkan penolakan! Apa kamu tak bisa sedikit saja kasihan padaku dan membiarkan aku untuk berjuang?" tanya Jamal dengan nada memelas. Dia belajar kalau dirinya tak bisa berbicara keras pada pria di depannya ini. Tak ada yang akan dia dapatkan dengan berteriak, jadi Jamal mengubah caranya dan membuat dirinya terlihat sangat menyedihkan. Siapa tahu saja pria di depannya ini akan kasihan padanya meski hanya sedikit.
"Ya, ya, ya. Saya tahu itu dengan sangat baik!" katanya menimpali dengan nada malas.
"Kamu bahkan tak percaya juga, kan?" tanya Jamal dengan raut wajah kecut.
"Saya tak mengatakan apa pun!" kata si pengacara menimpali.
"Aku menyesal sungguh dan aku hanya ingin memulai lagi semuanya, memberikan anakku kasih sayang yang tak kuberikan selama ini, dan memanjakan dia dengan semua yang aku miliki," desah Jamal berkeluh-kesah. Dia berharap ceritanya sedikit saja mengetuk hati dan pikiran pengacara di depannya.
"Tak bisakah aku diberi satu kesempatan?" tanya Jamal memelas.
"Tidak ada pilihan seperti itu, tuan!" balas pria di depannya tetap profesional.
"Aku menyesal, sungguh!" tukas Jamal mengusap wajahnya, agar terlihat dia sangat putus asa dan menyesali semua yang sudah dia lakukan.
"Pilih salah satu dari dua pilihan yang diberikan, tuan!" kata si pengacara mengingatkan.
"Ah, si*lan. Gak punya hati! Apa gak bisa kamu sedikit saja memberi kelonggaran padaku?" maki Jamal penuh emosi.
"Jangan banyak mengeluh, cepat pilih saja!" tukas si pengacara mengancam.
__ADS_1
"Aku tak mau memilih! Memangnya kamu bisa apa?!" dengus Jamal seraya menggebrak meja.
"Seperti yang saya katakan tadi, pihak kami yang akan memutuskan kalau anda tak bersedia memutuskan!" katanya.
Jamal menggertakkan gigi saking kesalnya dirinya, kalau bisa dia akan lari sekarang juga. Tapi dua orang di belakangnya. "Ini namanya pemaksaan! Akan kutuntut kamu!" ancam Jamal.
"Lalu pilihlah apa yang menurut anda paling baik dari dua pilihan yang kami tawarkan!"
"Aku akan menjauh dan tak akan muncul lagi di depan Pipit dan juga Laura!" kata Jamal mengalah untuk saat ini. Menjauh untuk sementara tak masalah, dari pada dia dipenjara dan tak bisa melakukan apa-apa lagi ke depannya.
"Baiklah, kalau begitu, anda tinggal tanda tangan di sini!" kata si pengacara menyodorkan beberapa lembar kertas.
"Apa ini?" tanya Jamal ragu untuk membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang diberikan padanya. Dia merasa kalau dirinya melakukan kesalahan jika dia menandatangani kertas-kertas itu.
"Hanya perjanjian kecil yang menyebutkan kalau anda tak boleh kembali ke kota ini dan juga terlihat di depan klien saya!" katanya menjelaskan. "Jika anda melanggar, tentu saja akan ada konsekuensi yang anda terima nantinya," lanjutnya dengan nada santai. "Nah, tandatangani dan anda bisa segera pergi dari sini sejauh-jauhnya!" tutup si pengacara disertai senyum singkat.
Tak ada pilihan lain, Jamal dengan terpaksa menandatangi perjanjian itu. Dia kesal, dia marah, tapi tak ada yang bisa dia lakukan. "Ini tak akan berakhir seperti ini!" desis Jamal memasang tampang garang.
"Nah, karena saya baik hati dan sangat tak tegaan dengan orang yang tak memiliki tempat tujuan. Izinkan saya mengantarkan anda ke tempat yang sepertinya akan cocok dengan orang hebat seperti tuan!" si pengacara berdiri, doa mengkode kedua orang yang menahan pergerakan Jamal untuk mengikuti dirinya. Keduanya bergerak sesuai isyarat mata si pengacara, tak lupa membawa Jamal di tengah mereka.
"Hoi, hoi, kita mau kemana?" pekik Jamal panik. "Aku sudah melakukan apa yang kamu suruh barusan!" lanjutnya lagi terdengar panik. "Apa yang mau kamu lakukan padaku?" lanjut pria itu. Tak ada yang menolong dirinya, semua acuh dan tak bergeming meski mendengar ocehan yang Jamal lontarkan. Jamal dan yang lainnya seolah tak terlihat di mata para pekerja lain yang berada di gedung yang sama dengan mereka.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1