WISH ...

WISH ...
32


__ADS_3

Laura membuat Zahrah terkejut, pasalnya gadis itu langsung mau saat di ajak ke kantin. Biasanya boro-boro mau, dia pasti langsung masuk kelas dan membaca buku setebal kamus begitu duduk di mejanya.


Mereka janjian akan makan di kantin, Windy diolok-olok saat dia sedang membayangkan semua es dengan tampang tak sabar. Mereka adu mulut sebentar, tapi setelahnya tertawa bersama. Hanya Laura yang berpikir apa ini sudah cukup untuk membuat ibunya senang atau dia harus melakukan lebih banyak dari ini. Dia sudah dilarang membaca buku di kelas, dia dilarang belajar terlalu banyak dengan alasan matanya bisa sakit. Jadinya dia harus sedikit menghabiskan waktu bersama dengan kawannya lebih banyak di waktu istirahat.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Laura ...," panggilan itu membuat langkah Laura terhenti.


"Kalian duluan saja, nanti aku menyusul," kata gadis itu tak ingin kawan-kawanya tahu tentang hal yang dia sembunyikan.


"Kamu kenal dia, Ra?" bisik Zahrah bertanya.


"Tampangnya nyeremin, Ra," timpal Windy. "Yakin kamu kenal?" tambah gadis itu.


"Itu muka-muka penjahat, Ra. Jangan mau 9h ngomong sama orang yang gak dikenal!" kata Rani berbisik pelan.


"Hei, anak-anak nakal! Jangan pengaruhi Laura!" dengus Jamal dengan suara tertahan saking kesalnya dirinya. Dia bisa mendengar walau mereka berbisik-bisik, siapa suruh jarak mereka terlampau dekat. Jadilah dia mendengar semua yang mereka katakan barusan tentang dirinya. "Asal kalian tahu, aku ini–"


"Diam!" Sebaiknya anda diam!" desis Laura menatap tajam ke arah Jamal. Dia benci mendengar pria itu mengatakan dengan bangga kalau dia ayah kandungnya, meski itu fakta dan kenyataan. Tapi Laura sama sekali tak suka mendengar hal itu dari seorang pengkhianatan yang meninggalkan dia dan ibunya dalam kesusahan. "Atau saya tak akan pernah mendengarkan anda lagi!" tukas Laura mengancam.


Zahrah dan dua temannya yang lain meneguk ludah susah, ekspresi wajah Laura sangat menakutkan. Sebenarnya hubungan apa yang mereka berdua miliki hingga bisa membuat kawannya berekspresi seperti itu. "Kita bakal nunggu di dekat sini," kata Zahrah setelah berhasil menguasai dirinya.


"Gak usah, kalian pasti pada laper. Pesan aja duluan ntar aku nyusul," ucap Laura dengan wajah datar seperti semula.


"Kita temen, kita gak bisa ninggalin kamu sendirian di sini!" kata Windy ikutan bicara.


"Benar!" timpal Rani. Kalau kamu butuh privasi, kita bakalan menjauh dan janji gak nguping. Tapi ... kita gak tahu ini bakalan bahaya apa gak, kan?" tambah gadis itu berbisik lebih lirih di akhir kalimat.

__ADS_1


Laura menarik napas panjang, gadis itu pun menganggukkan kepalanya. "Tunggu aku lima menit aja," kata gadis itu.


"Sip!" balas Zahrah cepat.


"Beres!" kata Rani mengacungkan kedua jempolnya.


"Lima menit dimulai!" tukas Windy yang memperhatikan jarum jam tangannya.


"Ada apa?" tanya Laura setelah ketiga temannya menjauh.


"Ayah hanya ingin melihat wajahmu, nak," kata pilu, dia memelas agar terlihat menyedihkan.


"Sudah, kan?" tanya Laura lagi. "Aku pergi,"lanjut gadis itu berniat berbalik.


"Tunggu!" panggil Jamal sekali lagi. Dia geram dalam hati, menyumpahi Laura dengan deretan nama kebun binatang dan mengatai Laura sebagai anak durhaka.


"Saya tak memiliki kewajiban untuk melakukan itu!" balas Laura dengan wajah tembok.


"Tapi bagaimana pun kita ini ayah dan anak. Kamu tak bisa lari dari fakta itu," kata Jamal masih dengan nada memelas tapi sedikit menyudutkan Laura.


"Benarkah?" tanya Laura sedikit menyeringai.


"Tentu saja! Seorang ayah tetap akan menjadi ayah untuk selamanya!" kata Jamal dengan penuh percaya diri. Dia mengira kalau Laura akan terperangkap dengan kata-katanya.


Laura membuka botol minuman mineralnya. "Anggap ini sebagai 'Ayah', lihat baik-baik!" kata gadis itu menumpahkan semua isi minuman yang sama sekali belum diminumnya sedikit pun.


Jamal mengernyitkan keningnya, apa yang mau dilakukan anak kurang ajar di depannya ini lagi. Dan apa juga maksudnya kalau dia sama dengan botol minuman itu.

__ADS_1


Setelah isi di dalam botol habis tak bersisa, Laura membuang botol itu ke lantai. Dia menginjak dengan sangat keras, hingga bentuknya jadi berantakan. "Ayah yang tadinya sangat baik dan dihormati, tiba-tiba berbalik pergi hanya karena bosan. Lalu setelah sang ayah yang menghabiskan uangnya membutuhkan sesuatu, dia kembali dengan penampilan sangat-sangat lusuh. Berharap ingin kembali, menuntut untuk diterima, bahkan memaki meski mungkin hanya berani dalam hati. Apa ayah yang seperti itu bisa kembali terlihat baik seperti semula? Dihormati seperti di awal? Dicintai dan diterima seolah tak terjadi apa-apa?" pertanyaan yang sederhana, tapi sangat berat untuk dijawab. Apa lagi oleh yang bersangkutan.


"Kalau sudah bisa menyimpulkan sendiri, saya mohon jangan ganggu saya lagi!" kata Laura berbalik pergi.


"Tapi setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan! Pasti ada khilaf-nya! Apa tak bisa diberikan kesempatan untuk berubah?" tukas Jamal putus asa. Dia masih tak terima kalau dirinya ditolak, dia terus merongrong agar dirinya diterima dengan tangan terbuka dan penuh sukacita.


"Tak semuanya bisa bersikap seperti Tuhan yang maha pemaaf, manusia hanya makhluk lemah yang mudah terluka. Hati manusia hanya bisa percaya satu kali, saat dilanggar, tak ada kesempatan yang kedua. Setidaknya itu yang saya dan mama rasakan!" balas Laura dengan nada rendah.


"Arghh, kamu anak kurang ajar. Kamu perlu dididik lebih keras lagi!" teriak Jamal lupa tempat. "Wanita gila itu pasti sudah meracuni otak kamu untuk membenci aku!" tukas Jamal menghina Pipit.


Laura menulikan telinganya, dia tak peduli dengan apa saja yang dimuntahkan sampah manusia itu. Baginya dia hanya perlu sang ibu, dia tak perlu ayah yang tak bertanggung jawab. Dia tahu ayahnya selama ini selalu memuji agar dirinya tak waspada. Dengan begitu dia akan memilih untuk ikut dengan sang ayah suatu saat nanti saat dia tak kuat dengan kekerasan sang ibu, tapi Jamal tak pernah tahu. Kalau Laura adalah anak penurut yang hanya ingin melihat ibunya tersenyum bahagia dan bangga. Dia tak pernah memikirkan sang ayah yang bahkan tampangnya saja sulit dia ingat, meski mereka bertemu beberapa kali baru-baru ini.


"Ayo, kita pergi," ajak Laura begitu dia menghampiri kawannya.


"Lumayan, kurang dari lima menit udah beres!" puji Windy tersenyum puas karena tak harus menunggu lebih lama.


"Ayo kita makan agar otak bisa kembali bekerja!" pekik Rani penuh semangat.


"Yang bikin semangat itu es, bukan mainan, tahu!" celetuk Windy.


"Dua-duanya ih, enak!" kata Zahrah menimpali.


"Ini yang paling bener!" tukas Rani dan Windy bersamaan.


"Kalian tak ingin bertanya?" tanya Laura dengan nada lirih. Zahrah dan yang lainnya saling menatap, suasana yang menyelimuti mereka menjadi berat setelah Laura meluncurkan pertanyaan itu.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


__ADS_2