
Pipit mengetahui apa saja yang Laura lakukan di sekolah, wanita itu mendapatkan laporan secara rutin. Laura mengatakan agar ibunya tak khawatir, dia tetap belajar, hanya saja dia bosan melakukan di tempat yang sama setiap harinya. Makanya Laura mencari suasana baru dengan berkumpul bersama ketiga teman sekelasnya.
Sang ibu berpura-pura paham, padahal di belakang dia merencanakan suatu hal yang buruk untuk ketiga Zahrah dan yang lainnya. Yang pasti rencana itu bisa membuat ketiganya jauh dari putri tersayangnya yang penurut. Pipit takut kalau anaknya akan dipengaruhi hal-hal buruk karena berteman dengan anak yang tak penting.
Di sisi lain, Jamal, suami Pipit yang berkhianat dan lari membawa tabungan Pipit. Memutuskan untuk kembali dan ingin memanfaatkan Laura, pria itu bahkan lupa dengan nama anaknya sendiri saking tak pedulinya dia pada hal lain selain bisnis dan uang.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Dan di sinilah dia, pria tak tahu malu yang telah berselingkuh. Berdiri di depan gerbang rumah Pipit, setelah dia selesai membayar taksi yang tadi dia tumpangi. "Yah, meski membosankan, tapi di sini tempatku satu-satunya untuk mendapat uang dengan mudah," gumam pria itu terkekeh jahat.
"Anda ingin bertemu dengan siapa? Ada keperluan apa? Dan sebutkan identitas anda sekalian!" kata keamanan yang berjaga di depan gerbang, dia menghentikan langkah Jamal untuk semakin mendekat.
Jamal mendengus pelan, membuka kacamatanya dengan angkuh. "Ho, kacung sekarang sungguh belagu, ya?" katanya ketus. "Kamu bisa saya pecat sekarang juga kalau terus menghalangi saya masuk ke rumah saya sendiri!" lanjut Jamal berwajah tebal.
"Maaf, saya tak mengenal siapa anda. Pemilik rumah ini hanyalah nyonya dan nona muda!" kata si penjaga keamanan dengan berani.
Jamal terkekeh kesal. "Dan aku tuan di rumah ini!" katanya dengan mata melotot. Namun, sayang. Itu sama sekali tak menakutkan bagi si penjaga keamanan tadi.
"Saya akan panggilkan nyonya dulu untuk mengkonfirmasi, mohon tunggu sebentar," katanya dengan nada sopan. Bagaimana pun pria di depannya itu adalah seorang tamu, meski sangat aneh tapi tetap saja dia harus sopan kepada yang namanya tamu majikannya.
__ADS_1
"Tak perlu!" kata Jamal mencegah. "Buka saja gerbangnya, cepat!" lanjut pria itu sok memerintah.
"Maaf, saya tak bisa melakukan itu. Mohon tunggu sejenak!" kata si pengawal tanpa peduli. Dia masuk ke dalam dan memanggil nyonya majikannya.
"Mana orang aneh yang mengaku-ngaku sebagai tuan di rumah ini?" suara Pipit terdengar tak jauh dari mereka.
"Ada di depan gerbang nyonya," kata penjaga keamanan membalas.
"Apa tak bisa kamu usir saja orang tak jelas seperti itu?" tukas Pipit kesal.
"Maaf, nyonya. Saya tak bisa bersikap kasar pada seseorang yang mungkin saja tamu penting untuk anda, nyonya," katanya membalas dengan cepat.
"Huh, biar saya li–" ucapan Pipit terputus begitu melihat siapa tamu gila yang mereka bicarakan sejak tadi.
"Kamu bisa pergi beristirahat di dalam," kata Pipit berbicara pada penjaga keamanannya yang tadi menjemput dirinya di dalam. "Terima kasih sudah memberi tahu saya secepatnya, ya," kata wanita itu lagi.
Si penjaga keamanan paham kalau nyonya majikannya ini mengusir dirinya secara halus, mungkin agar dia tak mendengar pembicaraan keduanya. "Kalau begitu saya permisi, nyonya," kata pria itu paham situasi. Pipit mengangguk, tinggallah dia dan mantan suami busuknya yang dipisahkan oleh gerbang tinggi.
"Sayang, dengar. Aku tahu kamu masih marah sama aku, tapi kamu juga pasti senang aku melihat aku kembali, bukan?" kata Jamal membuka suaranya dengan nada yakin. "Buka pagar ini dan biarkan aku masuk, sayang. Kita harus bicara, hmm," kata pria itu lagi dengan tatapan penuh cinta dan kehangatan.
__ADS_1
Pipit menatap jijik ke arah pria tak tahu malu di depannya ini, dia sama sekali tak berniat menyembunyikan perasaan muak saat melihat Jamal lagi. "Kita sudah tak ada urusan apa-apa lagi, jadi tak ada yang perlu dibicarakan di antara kita!" kata Pipit menatap datar mantan suami ba*gsatnya itu.
"Ayolah, sayang. Jangan terlalu marah padaku, ya," bujuk Jamal seraya mengguncang-guncang gerbang yang membuat dirinya tak bisa masuk sejak tadi. "Buka ini, cepat!" katanya dengan nada memerintah.
"Siapa kamu? Jangan memberi perintah di rumahku. Kamu gak ada hak untuk itu?!" kata Pipit menimpali. "Dan tolong jangan ucapkan kata sayang lagi, saya jijik juga muak mendengarnya!" lanjut wanita itu menatap remeh mantan terbusuknya itu.
"Apa begini cara bicara kamu pada suami kamu, Pipit?" hardik Jamal dengan nada kesal.
"Suami? Ho, lupanya kamu sudah lupa ingatan kalau saya tak memiliki suami karena dia sudah terkubur bersama wanita lain entah di mana!" dengus Pipit.
"Aku masih hidup, Pit!" bantah Jamal tak suka dikatai mati terkubur.
"Bagiku sama saja, kamu sudah mati sejak kamu memiliki niat untuk berkhianat dariku, dari anakku, dari saat kamu memilih pergi!" desis Pipit dengan tatapan membunuh. Dendam itu tentu saja masih ada. Karena pria egois ini, dia harus mendengar cemoohan, karena pria bodoh ini dia harus bersikap keras agar putrinya tak salah pergaulan. Karena pria tak memiliki hati ini, dia harus bekerja ekstra agar bisa memenuhi semua kebutuhan anaknya, agar semua orang tutup mulut meski dia tak bersuami, meski dia hanya berdua saja dengan anaknya. Dan dengan seenaknya,.pria itu kembali. Mengklaim tempatnya, memerintah dirinya, bersikap tak tahu malu seolah dia tak pernah berbuat salah. Lucu sekali, sungguh bodoh kalau dia sampai mau memaafkan dan memberi kesempatan pada pria tak punya hati dan malu seperti ini lagi.
"Kamu tak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, jadi pergi dan menghilang saja untuk selamanya!" kata Pipit dengan tegas. "Jangan pernah muncul di hadapanku atau anakku lagi!" lanjut wanita itu sebelum melangkah menjauh. Dia sudah memberi peringatan, kalau Jamal tak menuruti, dia bis meminta bantuan pihak berwajib. Dia akan menjerat pria itu dengan tuduhan apa pun agar kehidupan damainya kembali, Pipit tak ingin konsentrasi belajar Laura terganggu karena kemunculan seorang ayah yang tak bertanggung jawab seperti Jamal di kehidupannya.
Jamal mengguncang terali besi pagar rumah Pipit dengan sangat kuat, dia berteriak kesal karena tak dihiraukan oleh Pipit. Tak seharusnya ini berakhir seperti ini, seharusnya Pipit malah menangis dan menerima kepulangannya dengan tangan terbuka. Kenapa justru hal sebaliknya yang terjadi. Dia terusir, bahkan sebelum dia bisa masuk ke rumahnya sama sekali.
Jamal menendang udara kosong, pria itu pergi dari sana dengan rahang mengetat keras. Emosi menguasai hatinya, dia butuh uang dan istrinya malah mengusir dirinya begitu saja. Mau menginap di mana dirinya malam ini, pria itu pun berjalan dengan pikiran kalut.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...