
Jamal kembali, tanpa tahu malu, dirinya terus memanggil Pipit dengan kata sayang. Pipit yang mendengarnya pun merasa muak, dia meminta pria busuk itu untuk berhenti memanggilnya seperti itu. Jamal kesal, dia memerintah untuk membukakan gerbang agar mereka bisa bicara berdua di tempat lain yang lebih nyaman. Pipit menolak, dia tak mau. Lagi pula Jamal tak memiliki hak untuk memerintah di kediamannya.
Pipit mengusir Jamal untuk pergi, dia meminta pria itu untuk menghilang dan jangan muncul di depan dirinya dan juga Laura. Jamal yang kesal mengguncang gerbang rumah Pipit yang menjulang tinggi, tentu saja tak ada yang terjadi. Akhirnya pria itu pun memilih pergi dengan rahang yang mengeras saking kesalnya dirinya. Dia bingung harus tinggal di mana malam ini, semua tak berjalan sebagaimana yang dia harapkan dan bayangkan. Mengapa malah hal sebaliknya yang terjadi. Pipit tak menerima kehadirannya, wanita itu menatapnya dengan tatapan jijik.
Namun, bukan penjahat namanya kalau menyerah dengan mudah. Jika dia tak bisa masuk ke rumah dengan izin istrinya, dia bisa memanfaatkan kepolosan anaknya untuk membuat dia diterima kembali. Anak kecil pasti lebih mudah diatasi dari pada istrinya yang sedang marah dan bersikap angkuh padanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Jangan biarkan orang tadi melewati gerbang rumah, apa pun alasan yang dia berikan!" kata Pipit memberi perintah. "Jangan percaya pada ucapan sampah itu, dia hanya baj*ngan busuk yang tak tahu malu," lanjut Pipit menyumpahi mantan sampahnya itu, siapa lagi kalau bukan pria yang dulunya adalah suaminya. "Usir saja dia begitu kamu melihat dia mendekat!" katanya dengan nada tak suka.
"Baik, nyonya!" kata si penjaga gerbang bersikap patuh pada perintah majikannya. Usir ya tinggal usir saja, dia hanya harus menurut dan menerima gaji nantinya.
"Sekarang kerja lagi sama," kata Pipit ketus. Si bawahan cepat-cepat pergi, sebelum jadi sasaran kemarahan sang nyonya rumah yang sepertinya terlihat kesal saat ini.
"Apa kalian lihat-lihat?" ketus Pipit melototi para pelayannya. "Kembali bekerja, tak usah bergosip tentang majikan kalian!" dengus Pipit kesal. Para pelayan segera memalingkan wajah mereka, berpura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Pipit mendengus, lalu kembali ke kamarnya. Dia jelas kesal harus bertemu kembali dengan pria yang membuat hidupnya kacau seperti sekarang.
Sepeninggalan Pipit, para pelayannya kembali berkumpul, berbisik-bisik pelan, membuat gosip baru sambil terus bekerja. "Tampaknya mood nyonya besar sedang buruk," kata salah satu di antara mereka.
__ADS_1
"Hati-hati jangan sampai membuat masalah dan kita jadi korban pelampiasan karena mood nyonya yang buruk!" timpal yang lain. Semua yang berkumpul mengangguk setuju.
"Kalau begitu, ayo kita kembali bekerja dan Jagan mengobrol lagi!" tukas yang lain mencari aman.
"Setuju, semoga mood nyonya membaik dan kita bisa bekerja dengan lebih nyaman!" kata yang lain penuh harap. Mereka pun kembali bekerja dengan ekstrak hati-hati, tak ingin membuat satu kesalahan pun yang bisa membuat mereka dimarahi atau bahkan dipecat.
Di kamarnya, Pipit membanting pintu dengan kasar. Dia mengumpat dengan beribu kata makian yang tertuju pada mantan laknatnya itu. "Dasar sampah! Kenapa baj*ngan itu harus kembali?" gumam Pipit geram pada dirinya sendiri. "Kenapa binat*ng gila itu tak mati saja? Karena penyakit atau mabuk dengan wanita di luar sana, aku tak peduli. Asal dia tak kembali dan menganggu kehidupanku serta Laura yang telah membaik," desah Pipit terdengar marah sekaligus putus asa.
"Semoga si bedeb*h gila itu tak mengusik Laura!" kata Pipit penuh harap.
Dan malam itu, Pipit tak dapat memejamkan matanya sama sekali. Dia terus dan terus mengutuk Jamal sepanjang waktu yang dia lewati malam itu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Pagi, sayangku," kata sang ibu tanpa semangat.
"Apa mama sakit?" tanya Laura, kening gadis itu mengernyit tipis, tapi wajahnya tetap saja datar. "Kalau sakit, biar Laura diantar supir saja, ma," kata Laura pengertian.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Laura, tinggalkan kami!" titah Pipit. Semua pelayan menatap sang nona muda dengan tatapan khawatir, mereka takut kalau nyonya mereka akan berkata kasar pada sang nona. Tapi mereka tak punya pilihan lain selain meninggalkan kedua majikannya itu untuk berbicara empat mata.
"Ada apa, ma?" tanya Laura dengan nada tenang, wajahnya tetap memiliki satu ekspresi dan tak berubah sedikit pun. "Apa mama menemukan guru les yang lebih baik? Atau mama memesan buku baru lagi untuk Laura?" tanya gadis itu menatap lurus ke arah sang ibu.
Pipit menghela napas panjang. "Akan bagus kalau itu yang ingin mama sampaikan, Laura," desah Pipit seolah menanggung beban dunia di pundaknya.
"Lalu apa, ma?" tanya Laura seraya menyiapkan sepotong roti ke mulutnya.
"Pria tak berguna itu kembali, sayang. Dia kembali dan mengacaukan hari mama kemarin!" aku Pipit memejamkan matanya. "Mama harap kamu tak terbuai dengan perkataan manis yang mulut busuknya ucapkan, sayang. Mama tak ingin kamu sakit hati setelah berharap banyak pada pria gila itu," tambah Pipit memaki mantan suaminya tanpa saringan di depan anaknya sendiri.
Laura mengangguk patuh. "Aku mengerti, ma," kata gadis itu. "Mama tak perlu khawatir, Laura akan lebih memihak mama dari pada pria yang tak pantas disebut sebagai seorang ayah!" tukas Laura dengan mata berkilat dendam. Semua masalah berawal dari sang ayah. Sikap ibunya yang berubah, ibunya yang mulai menuntut banyak pada dirinya, dan senyum hangat yang dulunya bisa dia dapatkan dengan mudah, kini hanya terlihat seperti ilusi yang penuh dengan kepura-puraan. Jadi sedikit banyaknya, jelas Laura menyimpan dendam meski dirinya sendiri tak sadar.
Pipit menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Untunglah, untunglah!" katanya berulang kali. "Mama kira kamu akan berlari secepatnya ke arah pria tak berguna itu begitu mendengar kabar tentang dirinya," kata wanita itu mengakui ketakutan terbesarnya.
"Mama tahu, mama tak bisa mencurahkan banyak kasih sayang seperti dulu. Mama juga tak bisa memperhatikan kamu dengan sangat. Tapi semua yang mama lakukan itu untuk kehidupan kita, untuk memenuhi swmua kebutuhan kamu, untuk menutup mulut orang-orang yang hanya bisa bergosip tentang kita. Itu semua untuk kamu, sayang," jelas Pipit dengan perkataan yang terdengar sangat kacau. Laura terdiam sejenak, menatap pundak sang ibu yang berguncang pelan. Sepertinya ibunya menangis lagi.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...