WISH ...

WISH ...
39


__ADS_3

Laura manyampaikan kalau ibunya akan membuatkan pesta saat ulang tahunnya, dia juga bertanya apa teman-temannya akan datang kalau diundang. Ketiga temannya memberikan jawaban positif, mereka akan datang jika diundang. Apa lagi ini menyangkut makan-makan gratis, tentu saja mereka akan datang. Terlebih, dua teman Laura yaitu, Windy dan Rani. Mereka tak akan melewatkan kesempatan seperti ini.


Rani dan Windy menyinggung soal hadiah, mereka bertanya apa ada hadiah yang diinginkan Laura. Laura mengatakan asal keduanya datang itu sudah cukup, bawa kado atau tidak, itu tak ada masalah baginya. Jadilah keduanya mengusili Laura, mereka mengatakan Laura tak boleh lupa dengan perkataannya dan nanti malah cemberut kalau mereka datang dengan tangan kosong.


Zahrah menyela, menghentikan kedua temannya bercanda. Kalau tidak semuanya akan bertambah panjang dan tak ada selesainya, bahkan sampai guru mereka datang pun tak akan selesai.


Sepulang sekolah, Pipit mengajak anaknya untuk melihat-lihat gaun. Mereka banyak berbincang dan Laura selalu menjawab sesuai dengan apa yang dia mau. Tentu saja itu sudah termasuk kemajuan, biasanya Laura hanya akan mengatakan terserah mama saja. Makanya Pipit sedikit lebih senang dan berharap anaknya bisa menjadi lebih bahagia dan sedikit bebas lagi dari pada saat ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rupanya Jamal tak kelihatan selama ini karena pekerjaan mereka yang lokasinya cukup jauh, dia bahkan tak bisa pulang dari lokasi dan tinggal di asrama yang disediakan. Tentu saja bukan hanya dia, yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Dari pada capek bolak-balik, lebih baik tinggal di asrama saja. Sudah hemat waktu, hemat uang ongkos juga.


"Makan, yuk!" ajak rekan kerja Jamal menepuk pundak pria itu.


"Lagi gak selera," balas Jamal menolak.


"Si bos yang traktir, masih gak selera lu?" tanyanya lagi.


"Masih," balas Jamal dengan wajah tak suka diganggu.

__ADS_1


"Ha-ha-ha, terlalu jujur dia," timpal yang lain.


"Udah, ayo kita aja," ajak yang lainnya lagi.


"Jagain pintu, ya. Siapa tahu ada yang gak keliatan lewat-lewat," kata yang lainnya bercanda. Jamal mengangguk malas, dia kepikiran apa yang harus dia lakukan begitu dia kembali nanti.


"Yakin gak ikut?" tanya si bos yang katanya mau mentraktir makan-makan malam ini.


"Iya, bos. Lagi gak selera, mungkin kecapekan," kata Jamal sok bersikap baik. Dia masih tinggal di rumah bosnya, jadi dia harus sedikit lebih merendahkan diri dan mencoba bersikap baik.


"Nanti aku bawain roti pas balik, gak baik tidur dalam keadaan perut kosong," kata pria tua itu perhatian pada rekan kerjanya.


"Ya, bos. Hati-hati di jalan, selamat bersenang-senang," kata Jamal dengan senyum lebar. Sesaat kemudian, senyum pria itu menghilang. "Dasar pengganggu!" dengus Jamal tak suka.


"Apa yang salah, sih? Kenapa wanita gila itu tak senang aku kembali?" keluh Jamal membahas hal yang sama berulang kali. "Apa perempuan itu sudah gila gara-gara aku tinggalkan sebentar!" dengus Jamal menghina Pipit. "Mungkin juga seperti itu," kata pria itu terkekeh pelan.


"Tapi bukannya aku bisa menggunakan alasan itu untuk membuat wanita gila itu masuk rumah sakit jiwa?" seolah tercerahkan, Jamal tersenyum lebar karena mendapatkan ide yang teramat berguna menurutnya. Kenapa tak dari dulu saja dia kepikiran hal seperti itu. Jamal tertawa-tawa sendiri, entah siapa.yang sebenarnya gila di sini. Jamal tak sabar menggunakan cara baru yang dia pikirkan barusan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


Menggunakan semua uang yang dia kumpulkan selama ini, Jamal menyewa pengacara yang yah bisa dia sewa dengan dana terbatas yang dia miliki. Dia menceritakan semuanya, tentu saja menutupi kalau dia berselingkuh dan lari membawa uang Pipit. Dia hanya mengaku kalau dirinya ditipu kawan, dan kebetulan kawannya itu wanita. Mereka berniat mengecek lokasi bisnis baru, setelahnya Jamal ditipu habis-habisan. Uangnya diambil dan dia tak bisa kembali karena harus mencari yang dulu buat balik. Mau menelepon, tak ada satu pun nomor yang dihapalnya, jadi tak ada yang biaa dia hubungi. Tapi begitu dia balik, dia malah dikatai dan tak diterima. Dibilang kalau dia pria bejat tukang selingkuh dan tak tahu malu. Padahal, dia tak begitu. Pengacara yang disewa jasanya oleh Jamal merasa iba, dia kasihan dan berjanji akan membela Jamal agar Jamal mendapatkan nama baiknya kembali.


Jamal tersenyum puas, memang sangat gampang menipu orang bodoh yang sama sekali tak tahu apa-apa. Lihat saja, dia malah mendapat simpati dari pengacara yang dibayarnya dengan harga murah. Bahkan dia mendapatkan janji kalau dirinya bisa mendapatkan kembali tempatnya. Tentu saja Jamal secara tak langsung mengatakan kalau mungkin saja istrinya stress selama dia tak ada, makanya istrinya sekarang bersikap lebih sensitif meski hanya melihat dirinya. Padahal dia hanya ingin melihat anak mereka, tapi istrinya sudah marah-marah dan memanggil polisi. Jamal tak bisa apa-apa selain berusaha mengumpulkan uang dan menyewa pengacara hebat seperti saat ini. Tentu saja itu semua hanya bualan, pria itu bahkan mengatakannya asal tanpa hati. Asal pengacaranya senang, dia pasti bisa memenangkan kasus ini dan kembali berkuasa di rumah sebagai bos yang sesungguhnya. Setelah itu, baru dia akan mengurus Pipit yang selama ini bersikap tak sopan pada dirinya.


Jamal meminta izin, mengatakan kalau dia ada urusan dan tak bisa masuk kerja beberapa hari setelah mereka kembali. Dia menuntut Pipit, meminta izin untuk masuk ke kantor wanita itu untuk bicara. Di awal Pipit menolak, tapi wanita itu langsung berubah pikiran saat nama anaknya disinggung.


"Ada apa kalian kemari?" tanya Pipit menyilangkan kaki di depan kedua tamu tak diundang yang sudah menganggu di tengah rapat.


"Benar, wanita ini istri anda?" tanya si pengacara tak yakin. "Dia terlihat baik-baik saja," katanya lagi.


"Jangan tertipu!" bisik Jamal dengan suara pelan. "Dia hanya berpura-pura, sebentar lagi pasti akan terlihat kalau wanita ini mengalami gangguan jiwa karena stress berat," kata pria itu lagi.


"Maaf mengganggu waktu anda, bu. Saya di sini sebagai penengah dan untuk membantu Tuan Jamal menyampaikan apa yang dia inginkan," kata si pengacara mengawali.


Pipit menghela napas panjang, belum apa-apa dia sudah lelah saja. "Jadi, apa maunya?" tanya Pipit tak peduli. "Uang?" lanjut wanita itu dengan senyum mengejek. "Bisa-bisanya anda membantu pria busuk ini, padahal dia itu jenis sampah yang tak bisa didaur ulang!" lanjut wanita itu mendelik tak suka ke arah Jamal yang sudah menjadi musuh bebuyutannya.


Jamal tersenyum tipis, dia malah terlihat senang melihat Pipit menyerang dia dengan agresif seperti barusan. Meski hanya begitu saja, itu sudah cukup. Dia bisa menyakinkan pengacara yang dia sewa kalau apa yang dia katakan itu benar. Dengan begini, pasti Jamal bisa mengirim Pipit ke rumah sakit jiwa, dan dia bisa menguasai semua harta wanita itu kalau ini berjalan sesuai dengan rencananya.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2