
Saat sedang berpikir kenapa anaknya baik-baik saja dan tak terlihat ada yang salah, Jamal merasa sangat kesal karena tahu rencananya gagal lagi.
Belum lagi ketika dia mendapatkan gaji hariannya, dia jelas tahu kalau isi di dalam amplop itu jauh dari kata cukup untuk dirinya. Saat bosnya, Didi menanyakan mengapa dia berekspresi tak senang begitu. Dengan terpaksa Jamal mengatakan kalau dia sedang memikirkan di mana ada kamar yang disewakan dengan harga sangat murah. Bosnya menawarkan untuk tinggal bersama dengan dirinya, meski rumahnya kecil setidaknya cukup layak dihuni dan bisa melindungi diri dari angin dan juga hujan.
Jamal menolak di awal sebagai basa-basi, setelahnya dia menerima dan cukup senang dalam hati karena satu masalahnya terselesaikan.
Untuk pertama kalinya Jamal naik motor, dia cukup senang tapi dia tak suka saat matahari menerpanya dengan sangat terik. Kulitnya terasa terbakar. Yang lebih menjengkelkannya lagi, dia harus menaiki ratusan anak tangga untuk sampai ke kamar bosnya. Sudah capek, sekarang dia harus naik tangga. Belum lagi di tengah perjalanan, dia harus mendengar ocehan tak jelas tentang cuaca. Memangnya bosnya ini berniat menjadi peramal cuaca atau mungkin pembawa acara cuaca dulu kali ya. Apa lagi humor yang dikeluarkan terlalu receh dan garing untuk disebut lucu.
Saat bosnya mandi, Jamal duduk si kursi yang sudah sangat usang, cat yang mengelupas menjadi bukti akan hal itu. Jamal mengeluh, tapi sedikit menerima keadaan sekarang. Dia hanya harus merendahkan sedikit taraf hidupnya agar bisa berhasil menjalankan rencana jahatnya yang lain.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Kini giliran Jamal yang mandi, kamar mandinya sangat-sangat kecil menurut Jamal, belum lagi itu bersatu dengan toilet. Sungguh tak enak melihatnya, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
Jamal mandi secepat kilat, dia risih harus berlama-lama di dalam sana. "Ayo, kita makan," ajak Didi.
"Selamat makan," ucap Jamal sudah terbiasa.
"Ha-ha-ha, ya, selamat makan," timpal Didi tertawa lepas.
"Kamu dari mana sebelum ke sini?" tanya Didi padahal Jamal belum menyuapkan suapan pertama sama sekali.
"Jauh, di luar negeri," balas Jamal tak jadi menyuapkan nasi.
__ADS_1
"Ayo sambil makan, agar tak terasa tahu-tahu makanan kita sudah habis!" tukas Didi sedikit bersemangat. "Luar negeri, ya?" tanggap pria itu. "Aku berharap bisa ke sana meski hanya sekali, pengen liat apa bedanya Indonesia dengan di sana," cengir Didi sedikit terlihat polos.
"Gak ada bedanya, semua sama. Ada matahari, ada bintang, ada awan. Paling yang beda cuma makanan dan iklim aja," tanggap Jamal dengan santai.
"Kamu ngapain di sana? Kerja? Jadi TKI?" tanya Didi sedikit ingin tahu.
"Buka usaha, tapi sayangnya gagal karena ketemu penipu," jawab Jamal.
"Yang sabar, anggap aja ujian dari Tuhan. Kamu pasti disuruh sukses di kampung sendiri," timpal Didi sedikit menghibur.
"Saya juga merasa begitu," kata Jamal menimpali disertai seringai kecil.
"Nah, mari kita semangat mengumpulkan uang untuk masa depan yang lebih cerah!" tukas Didi penuh semangat.
Selesai makan, Didi mengeluarkan kasur busa yang sering dipakai teman-temannya saat menginap di rumahnya. "Kamu tidur di sini, ya. Kamar di sini cuma satu, atau kamu mau satu kamar sama aku?" Didi memberikan kasur busa yang dia bawa tadi pada Jamal.
"Di sini aja, saya bisa nonton sambil tidur di sini," kata Jamal memilih tidur di depan.Mana mau dia tidur di kamar yang sama dengan seorang pria, siapa yang tahu kalau-kalau bosnya ini mengorok saat tidur dan itu pasti akan sangat menganggu.
"Nonton sambil tiduran boleh, tapi kalau udah ngantuk jangan lupa matikan televisinya, ya!" kata Didi mengingatkan. "Biar gak boros listrik," tambah pria itu.
"Akan saya ingat, selamat malam, bos," kata Jamal segera berbaring dan memejamkan mata.
"Astaga, pasti dia sangat lelah hingga memilih tertidur langsung padahal baru jam segini," kata Didi menggelengkan kepalanya pelan. Didi pun masuk ke dalam kamarnya dan memilih merebahkan tubuhnya juga, dia pun sama lelahnya seperti Jamal.
__ADS_1
Begitu mendengar suara langkah kaki menjauh, Jamal membuka matanya perlahan. Memastikan kalau bosnya yang tak memiliki selera humor sama sekali itu sudah pergi. Jamal menghela napas panjang, dia menatap langit-langit rumah yang cukup banyak sarang laba-labanya. Sebenernya kapan terakhir kali rumah ini dibersihkan, dari pada rumah seorang manusia, rumah ini lebih terlihat seperti rumah penyihir yang tak terurus.
"Apa aku main culik saja, ya?" gumam Jamal. Di otaknya muncul berbagai ide, tapi dia harus memilih beberapa yang lebih baik. Soalnya sudah beberapa kali dia gagal dan dia tak mau gagal lagi kalau bisa.
"Atau aku buat jebakan untuk Pipit?" Jamal berpikir cukup serius. "Tapi wanita itu pasti sangat waspada dan tak cukup mudah menjalankan rencana padanya. Dia sangat waspada dan sangat antipati padaku!" dengus Jamal merasa kalau ide keduanya sangat buruk. Tak bisa dijalankan karena Pipit tak akan dengan mudahnya percaya pada dirinya.
"Jalan satu-satunya aku harus mendekati Laura dengan sangat perlahan," kata Jamal lagi dengan sangat lirih. "Tadi aku tak punya banyak kesabaran untuk melakukan itu!" dengus pria itu kesal. Jamal terus berpikir dan berpikir, memutar otaknya dengan sangat keras, dia akhirya mencapai kesimpulan bahwa targetnya memang Laura. Jelas anak itu lebih mudah ditipu meski waspada. Tapi jelas Laura tak sewaspada Pipit terhadap dirinya. Tak lama kemudian, Jamal jatuh tertidur dengan sendirinya. Dia lupa kalau tadi dia masih mempermasalahkan ini dan itu tentang rumah ini, sekarang dia tertidur dengan nyenyaknya di rumah yang terus dia protes tadi meski dari dalam hati.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Beberapa hari kemudian, saat sarapan bersama. Pipit memasang tampang sangat serius. Dia terus menatap Laura dengan tatapan penuh pengharapan yang teramat tinggi. "Ada apa, ma?" tanya Laura yang terus dihujani tatapan tanpa henti.
"Ah, mama hanya ingin tahu apa mama bisa mengharapkan anak mama menjadi yang terbaik hari ini?" kata Pipit mengingatkan kalau hari ini ada ulangan di sekolah.
"Laura akan berusaha sebaik mungkin, ma," timpal Laura dengan wajah datar.
"Bukan hanya usaha, sayang. Mama lebih suka hasilnya dan itu harus memuaskan agar bisa menutup mulut orang-orang yang nyinyir pada kita!"
Laura mengangguk kaku, dia hanya ingin mengabulkan semua yang ibunya harapkan meski itu cukup sulit. Ibunya tak pernah merasa cukup, Laura selalu kurang Dimata wanita itu.
"Bagus!" tukas Pipit terlihat senang.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...