WISH ...

WISH ...
40


__ADS_3

Rupanya Jamal tak ada kapoknya, dia menyewa pengacara dengan uang yang selama ini dia kumpulkan. Pria itu membuat-buat cerita yang tampak sangat masuk akal, bahkan pengacaranya sampai percaya dengan semua yang pria itu katakan. Pengacara itu pun berjanji dengan sungguh-sungguh akan melakukan apa pun agar Jamal bisa menuntut haknya.


Jamal didampingi oleh pengacaranya memintai izin untuk masuk dan bertemu dengan Pipit. Tentu saja Pipit menolak, dia sedang di tengah rapat. Mana mungkin dia mau, tapi wanita itu langsung berubah pikiran saat nama anaknya disinggung. Akhirnya di sinilah mereka, Pipit berhadapan dengan dua pria di depannya. Pipit sama sekali tak menyembunyikan rasa tak sukanya, waktunya sudah diganggu. Apa lagi yang dia bisa perbuat selain merasa kesal.


Jamal terlihat senang saat Pipit berkata kasar tentang dirinya, dia yakin kalau pengacara bodoh yang dia bayar pasti akan percaya dengan apa yang dia katakan. Mengambil alih semuanya hanyalah tinggal masalah waktu.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Apa lagi yang anda inginkan?" tanya Pipit dengan wajah jutek.


"Aku hanya ingin diizinkan untuk bertemu dengan anakku secara rutin, sayang," kata Jamal dengan tampang memelas, seolah dia tak menginginkan apa pun selain hal yang menyangkut tentang anaknya.


"Ha-ah, jangan buat saya tertawa!" ketus Pipit dengan wajah mengejek. "Dan jangan bawa-bawa nama anak saya di sini! Anda tak pantas?!" lanjut wanita itu jelas menguarkan permusuhan.


"Anda harus mendengarkan dengan baik, Bu. Klien saya hanya meminta haknya sebagai seorang ayah," kata si pengacara menyela sembari mengingatkan.

__ADS_1


"Huh, anda dibayar berapa oleh sampah ini?" tanya Pipit menatap tak suka pria yang datang bersama dengan Jamal. "Apa anda tahu sebusuk dan setak tahu malu apa pria baj*ngan ini?" tanya wanita itu lagi. "Tak mungkin kan anda sudah tahu tapi masih saja membela dia? Kalau iya, anda berarti berada di level yang sama dengan si busuk ini!" tukas Pipit mengutarakan ketidaksukaannya pada Jamal dengan jelas.


"Anda tak boleh menghina saya dan klien saya seperti itu, bu. Anda hanya salah paham pada Tuan Jamal," balas si pengacara menimpali dengan tenang. "Saya yakin anda akan paham kalau misalnya anda mau mendengarkan penjelasan dari klien saya!" kata pria berkacamata itu penuh keyakinan. Dia yakin kalau Jamal pihak yang benar dan Pipit sudah salah karena wanita itu terlalu arogan untuk mendengarkan orang.


"Kesalahpahaman yang bagaimana? Huh, jangan mengada-ada, saya yang tahu dan saya yang mengalami, jadi saya tak perlu mendengarkan penjelasan apa pun!" tukas Pipit. "Jadi, kalian bisa pergi sekarang!" lanjut wanita itu mengusir keduanya. Dia bosan mendengar omong kosong tak penting seperti ini.


Jamal tersenyum senang dalam hati, memang reaksi seperti ini yang dia inginkan. Pengacara bodohnya harus melihat kalau mereka tak bisa berbicara dengan Pipit dan akhirnya menuntut keadilan. Setelahnya akan ada drama panjang dan pastinya dia bisa menang dan menikmati masa emasnya lagi kembali. "Aku salah, aku terbujuk ucapan temanku yang tak seharusnya aku percaya. Aku tak mengharapkan pengampunan, tapi biarkan aku sesekali melihat Laura, anak kita, Pit," lirih Jamal seraya menjatuhkan diri, bertekuk lutut dengan wajah tertunduk dalam.


"Sudah saya bilang jangan sebut nama anak saya dengan mulut kotor anda!" desis Pipit menatap marah Jamal.


"Anda masih membela dia?" tanya Pipit tak bisa mengontrol emosinya. "Pria jahat yang sudah meninggalkan anaknya dan kabur bersama dengan wanita lain? Belum cukup dengan kisah perselingkuhan, dia bahkan menguras semua tabungan yang susah payah saya kumpulkan?" tukas Pipit menunjuk-nunjuk Jamal. "Apa anda tahu itu?" mata Pipit melotot tajam, dia kesal, dia marah, dia ingin menghancurkan semua yang berhubungan dengan Jamal saat ini juga. Di sisi lain, Jamal sedikit takut kalau pengacara yang dia bayar ini akan termakan kebenaran yang diungkit oleh Pipit. Semoga saja kebodohan pengacara yang dia dapatkan dengan harga murah ini lebih parah dari apa yang dia lihat.


"Bu, anda hanya stress berat. Anda hanya mempercayai apa yang anda inginkan, tanpa mau mendengarkan kebenaran yang sesungguhnya," kata si pengacara tak terpengaruh dengan emosi Pipit. Dia masih berkeyakinan kalau Pipit hanya stress dan kliennya pihak yang benar. Dia bisa melihat semua dari seberapa tulus pria itu tadi bertekuk lutut hanya untuk memohon agar diizinkan bertemu anaknya.


Jamal merasa senang mendengar ucapan pengacaranya, dia tak salah memilih pengacara. Kebodohan dan rasa simpati yang dia miliki bisa dia manfaatkan dengan baik. Sepertinya dewi fortuna sedang tersenyum ke arahnya, dia merasa diberkahi dan akan sukses dalam segala rencana yang dia buat.

__ADS_1


"Saya stress? Stress berat?" tanya Pipit tak percaya. "Hanya karena pria tak berguna yang berkhianat seperti dia?" lanjut wanita itu menatap rendah ke arah Jamal. "Jangan bercanda! Lelucon anda tak lucu sama sekali, tuan!" tukas Pipit tertawa garing.


"Tapi itu kenyataan yang saya dengar dari klien saya, bu. Anda hanya salah paham dan sebenarnya suami anda juga korban," kata si pengacara berharap Pipit mau mendengar perkataannya. Dia pun menjelaskan seperti yang Jamal katakan padanya.


Pipit tertawa setelah mendengar semua cerita yang baru saja dikatakan pengacara tadi. Ini bahkan lebih seru dari film-film drama keluarga yang selama ini sering dia tonton kalau dia memiliki waktu luang. Sungguh mantan sampahnya itu mungkin saja berbakat untuk menjadi sutradara sekaligus produser film, kenapa dia malah memilih menjadi penipu dan tukang selingkuh. "Saya jadi paham kenapa anda bisa tertipu dengan tampang busuk ini," kata Pipit menatap kasihan pria yang dari tadi membela Jamal. Rupanya Jamal sudah mencekoki pria itu dengan cerita-cerita karangan yang kelewat keren dan menyedihkan.


"Sudah saya duga, anda tak akan percaya," tukas si pengacara menghela napas panjang.


"Tunggu sebentar, saya akan kembali," kata Pipit. Wanita itu pergi tanpa menunggu persetujuan kedua orang di depannya.


"Terima kasih sudah membela saya sampai segitunya, pak," kata Jamal menundukkan wajahnya, menyembunyikan senyum jahat yang sedang terukir lebar di bibirnya. "Kalau saya saja yang ke sini, saya pasti sudah diusir sejak awal," kata Jamal berpura-pura menangis.


"Sudah, sudah. Anda tak perlu bersedih, tuan. Saya hanya melakukan tugas saya, saya harap keinginan anda untuk bertemu dengan anak anda segera terwujud!" kata si pengacara menepuk-nepuk punggung Jamal yang gemetar. Dia mengira kalau Jamal sedang menangis dalam diam, padahal nyatanya, pria itu sedang menahan tawanya. Karena kebodohan pengacara ini, dia akhirnya bisa melihat titik terang untuk masuk ke rumah besar dan menjadi bos lagi di sana.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2