WISH ...

WISH ...
27


__ADS_3

Selesai berendam dan berpakaian, Laura memilih untuk berbaring. Niatnya hanya sebentar, tahu-tahunya hari sudah malam saat Laura membuka matanya. Sang ibu jelas marah saat melihat anaknya baru turun dengan tampang habis bangun tidur.


Pipit terus menyindir sang anak, mengatakan kalau Laura sudah merasa hebat dan tak perlu lagi belajar. Padahal masih banyak yang lebih pintar di luar sana dari pada sang anak.


Kepala pelayan menyela, menyelamatkan malam Laura. Akhirnya mereka berdua makan bersama. Saat sedang makan, Pipit malah bertanya apa ada yang ingin anaknya sampaikan.Laura terdiam, dia merasa tak memiliki hal yang ingin disampaikan sama sekali. Jadi dia bingung, apa sebenarnya yang ingin ibunya dengar dari dirinya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Tidak ada, ma," balas Laura setelah diam cukup lama.


"Benarkah?" Pipit memiringkan kepalanya, jelas dia tak percaya dengan apa yang anaknya katakan barusan.


"Ya, benar!" timpal Laura seraya menatap lurus sang ibu.


Sang ibu tersenyum kecil, terlihat sedikit menakutkan karena senyum yang dibuat Pipit terlalu misterius. "Rupanya kamu semakin pintar, ya," tukas wanita itu tak terdengar sedang memuji. Ini sindiran dan Laura sangat jelas mendengarnya.


"Laura tak paham apa yang mama katakan," balas Laura dengan sedikit berani. Dia tak ingin disalahpahami lagi dan lagi.

__ADS_1


"Hah, benar-benar," dengus Pipit membuang pandangannya ke lain arah. "Apakah akan ada hari di mana aku akan dikhianati sekali lagi?" gerutu Pipit setengah mengeluh.


"Siapa yang mama maksud?" tanya Laura tak paham tapi dari apa yang dia dengar barusan sepertinya sang ibu menganggap dirinya akan mengkhianati ibunya sendiri. "Apa saya yang akan mengkhianati mama?" tanya Laura berniat memastikan.


"Lalu kamu pikir siapa?" balas Pipit dengan ketus. "Kamu menyembunyikan tentang orang jahat itu, kamu gak pernah ngomong soal dia yang mendekati kamu di sekolah! Apa kamu lebih senang bersama dengan pria busuk itu? Kamu terbuai dengan pujian dan perkataan manisnya? Kamu ingin berlari dan tinggal bersama dia? Atau kamu mungkin malah muak hidup bersama dengan mamamu yang semakin hari semakin keras? Tak pernah mengerti kamu! Selalu menuntut? Tak memberikan kamu kebebasan! Apakah begitu?" kacau, hilang sudah makan malam yang tenang. Selapar apa pun Laura, dia pasti kehilangan nafsu makannya kalau seperti ini.


Laura tersenyum hingga matanya terpejam, tapi senyuman itu sangat tak tulus, senyum penuh paksaan dari seorang gadis yang baru beranjak dewasa. "Laura tak pernah berpikir seperti itu, ma," kata gadis itu mengaku. "Laura bahkan selalu berusaha keras agar mama tak kecewa, agar mama bangga, agar Laura bisa mendapat sedikit saja pengakuan dari mama," lanjut gadis itu jujur.


"Tapi kenapa?" suara Pipit terdengar gemetar putus asa. "Kenapa kamu tak pernah mengatakan kalau pria gila itu mendatangi kamu, bekerja di sekolah kamu?" lanjut wanita itu tak paham mengapa anaknya menyembunyikan fakta tersebut dari dirinya.


"Ralat, ma. Orang itu hanya bekerja sebagai tukang kebun panggilan. Laura tak merasa Laura harus mengatakan hal tak penting seperti itu pada mama. Dia bukan siapa-siapa yang harus kita perhatikan dan ketahui, apa pun yang dia lakukan, di mana pun dia berada, sudah makan atau belum, itu bukan urusan kita, ma. Makanya saya diam saja, saya juga tak terlalu menanggapi kalau pria itu berbicara," jelas Laura agar ibunya tak lagi salah paham.


"Mama tak perlu meminta maaf, saya yang salah karena saya tak memahami kekhawatiran mama. Harusnya saya memberitahu mama saat saya melihat pria jelek itu bekerja di sana sejak hari pertama saya melihatnya," timpal Laura penuh pengertian.


Pipit tersenyum lega, yang dia takutkan tak akan terjadi. Anaknya tak akan pergi meninggalkan dirinya. Doa takut akan hal itu, tapi dia juga tak bisa bersikap terlalu lunak pada anaknya. Dia takut apa yang dia lakukan hanya akan memanjakan anaknya dan membuat sang anak jadi malas. Makanya dia bersikap keras dan selalu menuntut. Selain untuk menutup mulut nyinyir orang-orang bodoh di sekeliling mereka, Pipit ingin Laura memahami kerasnya dan tak terlalu menatap mudah segala sesuatunya.


"Bagaimana kalau kita makan cemilan saja?" tukas Pipit.

__ADS_1


Laura mengangguk setuju. "Saya suka ide itu," balas anak itu seraya menarik garis tipis di bibirnya.


Sang ibu terlihat senang anaknya menyambut ide yang dia berikan. Pipit menepuk tangannya, kemudian beberapa pelayan berdatangan mendengar isyarat dari majikannya. "Siapkan cemilan dan teh," kata Pipit seraya berdiri dari kursinya. "Kami berdua akan ke balkon," lanjut wanita itu memberitahukan kemana pelayannya harus membawakan apa yang dia minta barusan.


"Terima kasih untuk makan malamnya, siapkan saja dengan perlahan permintaan mama," bisik Laura yang cukup bisa didengar oleh semua pelayan yang berdiri di sana.


"Baik, nona muda," kata mereka serempak. Meski terlihat dingin dan kaku, tapi nona muda mereka sangat baik hati. Sang nona selalu mengucapkan kata terima kasih dan tolong saat berbicara dengan mereka. Meski mereka pekerja di sini, sang nona tak pernah sombong dan semena-mena. Malah lebih terkesan kalau sang nona sangat sopan pada mereka yang notabenenya bawahan di sini.


"Nona sungguh seperti peri es dari dalam buku dongeng," pekik salah satu di antara mereka dengan suara tertahan. Tentu saja mereka berani berkata seperti itu setelah kedua majikannya meninggalkan tempat ini.


Pelayan yang paling senior di antara mereka menepuk tangan dengan cukup keras, meminta perhatian agar mereka bisa bekerja dengan cepat. "Baiklah, setengah dari kita tinggal di sini dan membereskan meja. Sisanya, ikut saya menyiapkan apa yang nyonya minta!" katanya mengintruksi.


"Baik!" balas mereka serempak. Segera saja mereka bekerja seperti yang diintruksikan. Setengah dari mereka tetap berada di ruang makan dan membersihkan meja. Setengahnya lagi mengikuti pelayan yang paling senior tadi dan menyiapkan cemilan beserta teh untuk sang nyonya.


"Siapkan cemilan berbagai rasa! Nyonya tak suka makanan yang terlalu manis, tapi buatkan yang cukup manis untuk nona kita!" kata si pelayan memerintahkan. Dia juga ikut bekerja tentunya, bukan hanya main perintah saja. Dia juga memiliki tugas di sini.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2