WISH ...

WISH ...
36


__ADS_3

Sehabis makan malam, Pipit mengajak anaknya jalan-jalan sebentar. Dia membayar untuk bisa naik ke menara berdua saja dengan anaknya, tak boleh ada pengunjung lain selain mereka selama beberapa jam ke depan.


Pipit mengusulkan untuk membuat acara pesta ulang tahun Laura di sini, di tempat yang mereka datangi saat ini. Laura menolak, dia kasihan kalau harus membuat para pelayannya bolak-balik hanya karena hal yang bisa mereka lakukan di rumah mereka. Jadilah mereka mengadakan acara di rumah saja, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi yang tak diketahui Laura sama sekali, yaitu acara kali ini pasti lebih dan lebih meriah dari pada acara-acara ulang tahun Laura yang sebelum-sebelumnya.


Pipit mengajak Laura pulang, Laura terlihat sangat mengantuk. Pipit pun menyuruh sang anak untuk tidur saja selama dia menyetir. Laura menolak, mengatakan dia masih bisa bertahan hingga sampai di rumah. Nyatanya, tak sampai beberapa menit kemudian. Mata gadis itu terpejam, Pipit pun mengurangi kecepatan berkendaranya agar tak mengganggu tidur sang anak.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Sayang, kita sudah sampai," bisik Pipit lirih setelah dia memarkirkannya mobilnya.


Laura mengerjapkan matanya seraya melengguh pelan, gadis itu menatap ke luar jendela. "Ah, aku ketiduran," gumamnya tak percaya. "Maaf, aku hanya merepotkan mama," kata gadis itu lagi, jelas kalau dia sedang menyesal saat ini.


"Mama tak merasa direpotkan sama sekali, sungguh!" timpal Pipit dengan cepat. "Coba mama kuat, mama tak akan membangunkan kamu dan malah akan menggendong kamu sampai ke dalam," kata Pipit dengan nada sedikit jenaka.


"Mama tak boleh melakukan itu, nanti mama sakit. Laura itu udah besar, pasti berat," tukas Laura.


Pipit tertawa kecil. "Sudah, sudah. Ayo, kita masuk dan lanjutkan lagi tidur kamu," kata wanita itu merasa gemas sendiri dengan anaknya.


"Maaf mengganggu, nyonya," kata si bibi pelayan menghampiri majikannya.


"Ada apa, bi?" tanya Pipit seraya mengernyitkan keningnya.


Si bibi melirik anak majikannya, terlihat ragu apa harus menyampaikan hal yang ingin dia utarakan di depan nona kecil mereka. "Sayang, masuk ke kamar kamu. Cuci kaki, lalu tidur lagi," kata Pipit yang paham. "Kita bicara di ruang baca saja, bi," tambah Pipit.


Laura segera ke kamar setelah ibunya memberi perintah, kata yang selembut itu pun dikira Laura sebagai titah yang tak boleh dibantah.

__ADS_1


"Jadi? Apa ada yang terjadi selama saya dan Laura pergi?" tanya Pipit begitu dia duduk di kursinya.


"Orang yang sebelumnya datang lagi, nyonya. Dia membuat keributan," kata si bibi menyampaikan.


"Ha-ah, kenapa manusia satu itu susah sekali diberi peringatan?" desah Pipit lelah, dia tahu siapa yang dimaksud oleh pelayannya itu. Sudah pasti Jamal, entah keributan apa yang pria itu ciptakan. Untung saja rumahnya terbilang sepi dan berjarak cukup jauh dari para tetangga, kalau tidak pasti sudah ada gosip yang beredar tentang dirinya di kompleks ini.


"Lalu, apa lagi?" tanya Pipit menatap pelayannya dengan seksama.


"Tak ada, nyonya. Kami mengusirnya dan dia langsung berteriak marah. Bahkan dia mengancam akan memecat kami karena dia tuan rumah di sini," cicit si pelayan di akhir kalimat.


"Jangan dengarkan!" bantah Pipit cepat. "Dia hanya orang gila yang tak memiliki otak dan tak tahu malu! tukas wanita itu lagi.


"Saya sudah mengingatkan pelayan lain seperti yang nyonya katakan barusan. Soalnya ada beberapa pelayan baru yang sepertinya ragu-ragu karena mendengar ancaman orang itu," tukas si bibi menyampaikan dengan jujur.


"Baik, nyonya. Akan saya lakukan sesuai dengan yang anda perintahkan!" kata si bibi patuh.


"Dan jangan sampai ini terdengar oleh Laura, aku hanya tak ingin anak itu tahu masalah rumah. Dia harusnya bersenang-senang, bukannya memusingkan urusan orang dewasa," desah Pipit memikirkan anaknya.


"Sesuai keinginan anda, nyonya," balas wanita tua itu lagi.


"Pergilah, ada yang harus aku pikirkan untuk saat ini," kata Pipit yang memilih tetap di ruang baca sedikit lebih lama.


"Kalau begitu saya permisi, nyonya!" Pipit mengangguk sebagai tanggapan.


"Apa yang harus aku lakukan padamu, pria gila?" gumam Pipit terlihat pusing memikirkan.mantan sampahnya yang terlalu kepala batu dan tak tahu malu.

__ADS_1


"Awas saja kalau dia berani macam-macam pada anakku!!!" desis Pipit yang hanya memikirkan keselamatan anaknya, dia tak pernah memikirkan kemungkinan kalau dirinyalah yang akan diusik.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Seminggu sudah berlalu, hari-hari yang dilewati terlalu damai dan tenang. Namun, entah mengapa. Pipit merasa lebih gelisah, dia merasa seakan-akan ada badai yang bisa terjadi kapan saja. Badai besar yang dibuat oleh seseorang yang tak tahu malu, yang terus menuntut untuk diizinkan kembali.


"Mama kenapa?" tanya Laura menatap sang ibu dengan raut sedikit cemas. "Apa mama sakit? Atau mama lelah karena banyak pekerjaan?" tanya gadis itu lagi. "Sebaiknya mama beristirahat, biar Laura diantar sama supir saja," tambahnya bersikap teramat pengertian.


"Aw, sayangku. Kamu yang terbaik yang mama miliki!" tukas Pipit tersenyum manis menatap anak semata wayangnya. "Bisa-bisanya gadis kecilku yang cantik ini sangat memperhatikan mamanya," ucap wanita itu sembari memuji anaknya. "Mama gak kenapa-napa, sungguh!" lanjut Pipit menyangkal kalau dia sedang sakit atau kelelahan.


"Tapi, mama terlihat tak baik-baik saja," ujar Laura memperhatikan ibunya dengan seksama. Jelas ibunya terlihat sangat lelah, tapi kenapa ibunya tak ingin mengaku. Apa mamanya itu tak ingin membuat dirinya khawatir.


"Mama sehat, oke. Mama bisa mengantar kamu ke mana pun! Bahkan ke bulan sekali pun, mama bisa pergi?!" timpal Pipit sedikit dilebih-lebihkan.


"Buat apa ke bulan?" gumam Laura tak percaya dengan apa yang baru saja ibunya ucapkan. Baginya itu pernyataan yang berlebihan dan terlalu kekanakan.


"Untuk memetik bintang mungkin? Atau memotret bulan?" balas Pipit sedikit bercanda.


"Tau serius, kalau mama lelah, mama bisa istirahat saja di rumah," kata Laura tak terlalu menanggapi candaan ibunya.


"Mama baik-baik saja, mama hanya memikirkan hal lain dan sedikit melamun tadi. Bukannya lelah atau merasa tak enak badan seperti yang kamu kira," aku Pipit. Memang benar kalau tadi pikirannya sedikit teralihkan karena kegelisahan yang dia rasakan. Dia suka ketenangan dan kedamaian, tapi entah mengapa dia tak terlalu suka yang kedamaian dia rasakan beberapa hari belakangan ini. Hanya saja, Pipit tak ingin memberitahukannya pada sang anak apa yang dia pikirkan hingga melamun di pagi hari yang indah ini.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2