
Saat pagi hari, Zahrah minta ditemani ke kantin, gadis itu lupa sarapan di rumah katanya. Laura menolak, dia ingin belajar sedikit lebih lama untuk ulangan yang akan diadakan sebentar lagi. Zahrah mengerti, dia mengatakan kalau Laura tak perlu meminta maaf, dia bisa pergi sendiri.
Setelah selesai ulangan, ketiga kawan Laura yang lain terlihat lemas karena sudah menguras otaknya untuk berpikir. Zahrah yang tak bertenaga pun akhirnya mengoceh sembarangan. Dia meminta Laura untuk menyumbang sedikit otaknya pada mereka di saat-saat ulangan begini.
Laura menanggapi dengan serius, bertanya apa bisa melakukan hal seperti itu. Akhirnya ketiga temannya menjadi sedikit bersemangat karena melihat Laura yang terlalu polos dan menanggapi semuanya dengan serius.
Pulang sekolah, lagi dan lagi Laura harus menunggu jemputan yang terlambat datang. Gadis itu didekati oleh Jamal, Jamal terus mencoba mengobrol dengan Laura yang sedikit acuh dan sangat waspada kepadanya.
Jamal menyinggung soal kertas yang dipegang Laura, begitu tahu itu hasil ulangan anaknya dan mendapat nilai tinggi. Pujian tak henti-hentinya diucapkan oleh Jamal. Laura puji sebagai anak yang teramat sangat jenius. Laura mengelak, meminta kembali kertasnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Ini," kata Jamal menyerahkan kertas tersebut. "Biarkan pria tua ini bersikap egois, nak. Biarkan aku mengatakan kalau ayah bangga padamu, nak!" ucap Jamal memulai aktingnya dia bahkan berpura-pura mengusap air mata bahagia karena sang anak kelewat jenius dari pada anak seusianya.
"Lakukan sesuka anda," timpal Laura. Bohong kalau Laura bilang dia tak suka mendengar kata-kata yang sangat ingin dia dengar, tapi dia ingin mendengar itu dari ibunya, bukan dari orang lain.
"Maaf, nona. Saya terjebak macet tadi," ucap supir Laura yang baru saja datang membukakan pintu untuk majikannya.
Laura memilih diam tak membalas, dia duduk dengan tenang di kursi belakang. "Jalan," kata gadis itu datar, dia.juga tak berpamitan pada Jamal sama sekali.
"Sekali lagi maaf, nona," ucap si supir terlihat takut. "Tolong jangan katakan pada nyonya kalau saya lagi-lagi telat," lanjut si supir memasang tampang memelas.
"Hanya kali ini, jika anda kembali telat sekali.saja, mama akan tahu semuanya!" tukas Laura dengan tampang datar.
Si supir meneguk ludah susah payah. Di mana lagi dia bisa mendapat gaji yang tinggi dan pekerjaan yang gampang seperti ini. Dia juga bisa jalan-jalan sebentar sambil memamerkan mobil bosnya, tentu saja dia mengakui kalau mobil yang dia bawa itu mobilnya sendiri. "Terima kasih, nona. Akan saya ingat!" katanya bersungguh-sungguh. Dia harus mengubah kebiasaanya, kalau.mau pamer lakukan secukupnya dan tetap ingat tugas. Jangan sampai karena kesenangan kecil,.dia jadi kehilangan pekerjaannya, sumber pendapatannya, dan terlebih mobil yang bisa dia pamerkan saat dia bekerja.
"Kita sudah sampai, nona," kata si supir membukakan pintu mobil untuk Laura.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Laura segera masuk rumah.
"Selamat datang, nona muda!" sapa kepala pelayan menyambut kedatangan majikan kecilnya.
"Ya," balas Laura menanggapi.
"Anda ingin mandi dulu, beristirahat, atau makan dulu?" tanya pelayan tua itu penuh perhatian. Di bahkan ingin membawakan tas majikannya, tapi Laura menolak dan memilih membawa sendiri.
"Aku belum lapar, jadi aku akan mandi dan beristirahat saja di kamar," tukas Laura yang terbiasa jarang makan sepulang sekolah.
"Baik, nona. Akan segera saya siapkan air mandi untuk anda," kata si kepala pelayan. Dia langsung menyuruh pelayan lain bergegas menyiapkan keperluan nona mereka. Tak sampai semenit, semua telah disiapkan. Laura bisa langsung berendam dan menikmati air hangat segera.
"Biar kulakukan sendiri, kalian boleh pergi dan lakukan tugas kalian yang lain!" kata Laura memberi titah. Laura tak suka dilayani saat mandi, dia punya tangan dan kaki, dia juga sudah dewasa, meski masih di bawah umur, jadi dia bisa melakukan ini sendiri.
Laura berendam cukup lama, hingga air yang hangat mulai mendingin. Gadis itu ke luar dari bak mandi dan segera berpakaian setelahnya. "Aku akan berbaring sebentar," gumam Laura pada dirinya sendiri.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Menyenangkan?" suara sang ibu terdengar sedingin es. "Waktu yang sangat berharga kamu habiskan hanya untuk memejamkan mata?" tambah Pipit menyindir. "Luar biasa sekali, ya?" katanya lagi. "Merasa hebat? Sudah pintar? Tak perlu lagi belajar?" desak Pipit menyeringai kecil.
"Maaf, ma. Laura hanya sedikit lelah dan tanpa sadar tertidur terlalu lama," kata gadis itu mengakui kesalahan yang padahal sama sekali tak ada salah-salahnya kalau dilakukan.
"Kamu memang mendapat nilai tertinggi di sekolah, tapi jangan merasa tenang, nak. Di luar sana masih banyak yang lebih pintar dari kamu!" timpal Pipit tak peduli dengan perkataan maaf dari sang anak.
"Kamu merasa kesal? Mamamu terlalu jahat?" desak Pipit dengan nada datar.
"Tidak, ma," balas Laura. "Mama melakukan itu semua untuk kebaikan Laura sendiri," lanjut gadis itu dengan wajah menunduk.
__ADS_1
"Nyonya, dari pulang sekolah nona belum ada makan, bahkan minum setetes air pun belum, apa bisa nona muda makan dulu baru anda melanjutkan apa yang ingin anda sampaikan pada nona, nyonya?" kata si kepala pelayan memberanikan diri untuk maju.
"Ya, sudah. Duduk! Makan ya g cepat dan kita lanjutkan lagi pembicaraan kita!" tukas Pipit mendengus, tapi sebenarnya dia tak tega kalau anaknya kelaparan hanya karen mendengarkan ocehannya yang panjang.
"Makan yang banyak, nona," bisik si kepala pelayan dengan sangat lirih. "Nyonya seperti itu karena terlalu menyayangi anda, meski dengan caranya sendiri," lanjut wanita tua itu.
Laura tersenyum teramat tipis. "Terima kasih," balas Laura dengan suara yang sangat-sangat lirih.
"Jangan terus berbisik-bisik seperti tak ada orang yang akan mendengar kalian!" ketus Pipit tak suka.
"Maafkan saya, nyonya. Saya hanya menyuruh nona muda makan yang banyak agar cepat besar," kata si kepala pelayan.
"Laura sudah cukup besar, bibi mau membuat dia sebesar apa memangnya?" tanggap Pipit dengan nada tak suka.
"Saya hanya ingin nona muda sehat dan bahagia, nyonya," balas si bibi dengan tulus.
"Lalu aku?" tanya Pipit sedikit kekanakan.
"Tentu saja anda berdua akan berbahagia bersama, nyonya," kata si bibi membenarkan ucapannya.
"Huh, mulut anda terlalu manis, bi," dengus Pipit, tapi wajahnya terlihat senang mendengar harapan dari bawahannya barusan.
"Apa ada yang ingin kamu katakan pada mama?" tanya Pipit begitu mereka berdua ditinggalkan oleh pelayan. Laura mendongak, menatap sang ibu. Dia ingin tahu apa yang mau ibunya dengar dari dirinya. Apa yang harus dia sampaikan sebenarnya. Laura merasa sama sekali tak memiliki hal seperti itu.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1