WISH ...

WISH ...
11


__ADS_3

Sepintar apa pun Laura menyembunyikan dengan rapat kedekatannya dengan Zahrah dan dua teman sekelasnya yang lain, akhirnya hal itu sampai juga pada sang ibu, Pipit. "Mama mendengar hal konyol dan mama harap itu tak benar, Laura!" kata Pipit di suatu sore saat keduanya bertemu di meja makan.


Laura menaruh sendok dan garpu yang dia gunakan, tak jadi menyuapkan makanan yang baru saja ingin dia nikmati. Melihat sang anak memperhatikan dirinya dengan penuh, Pipit pun kembali bersuara. "Kamu


menghabiskan waktu bersama anak-anak yang tak penting dan mulai bermain bersama mereka!" kata wanita itu seraya menyeka mulutnya dengan serbet.


"Saya tak bermain, ma. Laura belajar," kata Laura jujur. Meski dia sering berkumpul bersama Zahrah dan yang lainnya, tetapi dia tak lupa belajar.


"Fokus kamu terbagi karena mereka, Laura!" hardik Pipit seraya menghempas serbet yang tadi barusan dia gunakan. "Bagaimana kalau nilai kamu terganggu? Bagaimana kalau mereka membuat kamu lupa belajar dan malah sibuk bermain? Bagaimana kalau kamu melupakan apa yang selalu mama pinta dan katakan padamu?!" lanjut Pipit menuntut dengan mata yang memicing tajam.


"Itu tak akan terjadi, mama. Saya terus belajar. Hanya saja saya mengganti suasana dan tempat, terlalu membosankan belajar di tampat yang sama setiap hari, mama," balas Laura dengan nada datar tanpa emosi.


Pipit menunduk, wanita itu mendesah panjang. "Benar, kamu gak mungkin lupa dengan apa yang mama katakan setiap ada kesempatan," kata wanita itu pelan. "Mama bersikap keras seperti ini padamu hanya karena tak ingin kamu diejek oleh orang lain," kata wanita itu lagi. "Mama tak ingin kamu dicap sebagai anak bodoh, anak nakal, anak yang liar, hanya karena sosok ayah yang tak bisa kita miliki," tambahnya lagi. "Kamu mengerti, kan sayang?" tanya Pipit dengan nada lemah.


Laura mengangguk pelan, ekspresi wajahnya tak berubah sama sekali meski dia merasa kasihan pada sang ibu yang memiliki banyak beban pikiran. "Laura tahu, ma," kata gadis itu menimpali dengan nada pelan. "Laura ingat semua perkataan mama. Jadi, mama jangan khawatir," kata gadis itu.


"Benar, itu baru anakku yang baik dan penurut," kata Pipit menghela napas lega. "Mari kita makan lagi, sayang," ajak wanita itu sembari tersenyum lebar, senyum kepuasan, bukan senyum penuh kasih yang selalu Laura inginkan.


"Aku sudah kenyang, ma," balas Laura cepat. "Aku kembali ke kamar dulu," kata gadis itu lagi.

__ADS_1


"Semangat, sayang," kata Pipit senang karena anaknya semakin rajin belajar tanpa diminta.


Begitu Laura pergi, wajah Pipit kembali datar. "Apa yang harus aku lakukan dengan para pengganggu yang ingin mengacaukan anakku, ya?" gumam wanita itu dengan mata berkilat tajam..Yang pasti rencana yang dia buat tak ada baik-baiknya, Pipit sudah berniat menjauhkan anak-anak pengganggu itu dari anaknya yang baik hati lagi penurut. Entah apa rencana yang telah dipikirkan oleh Pipit, yang pasti itu akan menjadi masalah untuk Zahrah dan dua temannya yang lain.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di tempat lain, dengan jarak ribuan kilo meter, di sebuah rumah yang terlihat sibuk dan sedikit ribut. Seorang pria berpakaian rapi serta berkacamata, berdiri dengan tenang. "Sudah selesai?" tanya pria itu.


"Maaf kalau kami mengganggu waktu anda, tuan!" kata orang-orang yang ada di depan pria itu.


"Tak masalah," katanya seraya melambaikan tangan. "Jadi, apa yang aku miliki?" tanyanya ingin tahu.


Pria berkacamata itu pun melepas kacamatanya. "Aku bangkrut? Begitu?" katanya tak percaya. Dia memulai usaha dengan sungguh-sungguh, dia berangan-angan kalau semua akan berhasil. Dan apa yang didapatkan olehnya saat ini. Dia ditinggalkan bersama tumpukan hutang dan banyak masalah melilit lainnya. Salahkan dirinya dalam memilih kekasih, apa ini karma atas perbuatan yang dia lakukan. Tapi ayolah, omong kosong dengan semua karma. Dia hanya sedang sial, itu saja.


"Anda harus menjual semuanya untuk menutupi hutang dan membayar gaji para pegawai, tuan," kata orang yang melaporkan ini dan itu pada orang yang dipanggilnya tuan. Sepertinya dia adalah salah satu bawahan yang dipercaya oleh orang yang dipanggil tuan tadi.


"Lakukan nama yang baik," katanya mendesah panjang. "Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini, Reza," kata si tuan dengan nada yang terdengar sedikit getir.


"Saya bekerja sebagaiman saya dibayar, tuan. Anda tak perlu berterimakasih pada saya," kata si Reza menunduk sekali. Dia hanya bekerja sebatas pekerjaannya, tak ada yang lain dan dia juga dibayar untuk hal-hal tersebut. Jadi tuannya tak perlu mengucapkan kata terima kasih sama sekali menurutnya.

__ADS_1


"Anda akan ke mana, tuan?" tanya Reza ingin tahu. "Jika tuan tak punya tujuan, anda bisa tinggal bersama saya dan memulai usaha baru lainnya dari awal," lanjut Reza memberi masukan.


Orang yang dipanggil tuan itu menyeringai kecil. "Aku akan pulang dan melihat anakku yang cantik," katanya dengan maksud terselubung.


"Kalau begitu hati-hati di jalan, tuan," kaya Reza kemudian dia pamit undur diri.


Si tuan kembali memakai kacamatanya, dia masuk ke dalam rumah dan kembali ke luar beberapa saat kemudian. Dia menggeret koper kecil di tangannya. "Tunggu aku, sayang!" kekehnya sambil tersenyum lebar. Pria itu bersiul di dalam taksi, membayangkan kepulangannya akan disambut dengan sangat hangat. Oh, tentu saja akan ada sedikit drama. Tapi pasti hanya sesaat dan semua akan kembali seperti semula. Jika tak berjalan seperti yang dia bayangkan, dia tinggal menggunakan anaknya yang paling cantik untuk berada di pihaknya. Pasti istrinya tak akan bisa berbuat macam-macam kalau anak mereka berpihak kepadanya.


"Tak akan ada masalah yang tak bisa diselesaikan di dunia ini," katanya seraya terkekeh kecil.


Begitu sampai di bandara, pria itu membeli tiket, kemudian terbang menuju kota asalnya. Dia hanya tinggal menunggu waktu, dan semua kemewahan akan kembali kepadanya. Dia juga mungkin bisa memulai usaha baru dengan bantuan istrinya nanti, tapi untuk saat ini tugasnya adalah meminta maaf dengan sungguh-sungguh agar dia bisa kembali bersama dengan keluarganya dan menikmati uang yang dihasilkan oleh istrinya lagi seperti sebelum-sebelumnya.


"Tunggu aku, Pipit!" gumam pria itu seraya menyeringai kecil. "Berpihaklah pada papamu, anakku tersayang," katanya lagi dengan nada lirih.


Pria yang rupanya suami Pipit yang kabur dengan selingkuhannya itu pun diam sesaat, keningnya mengernyit dalam, sepertinya otaknya sedang memikirkan sesuatu yang sanga sulit. "Ngomong-ngomong, siapa nama anak itu, ya?" katanya bertanya pada dirinya sendiri. Dia mengumpat dalam hati, masa di waktu seperti ini dia malah melupakan hal paling penting. Bagaimana anaknya bisa berpihak padanya, dia saja lupa dengan nama anak itu. Astaga, mengapa otaknya terlalu lemah untuk mengingat hal tak penting dalam hidupnya. Jamal menghabiskan waktu begitu banyak hanya untuk mengingat nama anaknya, sayangnya sampai pesawat sampai di bandara tujuannya, pria itu masih belum bisa mengingat hal itu. Dia pun mengangkat bahu acuh, pasti dia bisa mendapatkan nama anak itu saat mereka bertemu nanti.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2