WISH ...

WISH ...
38


__ADS_3

Waktu istirahat sekarang Laura habiskan dengan memakan bekalnya sana berbincang sedikit lebih lama dengan ketiga kawan baiknya. Tentu saja Laura masih membawa catatan kecil atau buku, tapi gadis itu sedikit lebih jarang membukanya. Dia lebih banyak berinteraksi dengan ketiga kawannya sekarang.


Seperti saat ini, Laura menanyakan apa mereka bersedia datang kalau diundang ke acara ultahnya. Windy dan Rani mengatakan mereka akan datang meski tanpa undangan sekali pun. Zahrah sedikit mengejek, mengatakan kalau keduanya itu sedang memikirkan aneka makanan yang ada di pesta Laura nanti. Makanya mereka setuju datang meski tak diberi undangan.


Bukannya marah, keduanya malah tertawa. Mereka tak tersinggung sama sekali. Laura jadi belajar hal baru lagi yang tak akan pernah dia dapatkan dari buku-buku yang selama ini dia baca.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Jadi kapan rencananya?" tanya Rani tak sabar.


"Mungkin setelah ulangan," balas Laura. Dia ingat ibunya mengatakan seperti itu kemarin.


"Uwah, gak lama lagi, dong," timpal Windy. Di otaknya sudah terbayang makanan apa saja yang bisa dia nikmati nanti.


"Tapi, mama kamu gak ngasih syarat yang susah-susah, kan?" tanya Zahrah mencicit pelan, takut kalau pertanyaannya menyinggung perasaan Laura.


"Ya?" tanggap Laura menatap lurus ke arah Zahrah, dua temannya yang lain juga ikut-ikutan menatap dirinya.


"Maksud aku tuh, mama kamu gak minta nilai kamu harus plus-plus berapa gitu baru dia mau buatin pesta sebagai gantinya," ucap Zahrah menjelaskan.


"Mama gak bilang apa-apa, sih," balas Laura tak yakin. "Apa aku tanya saja nanti?" tukas gadis itu. Yah, agar dia yakin kan harus bertanya dan mendengar jawaban dari sang mama.


"Astaga, ya jangan cari masalah kalau emang gak," sela Rani dengan cepat. "Nanti si Tante langsung deh ngasih syarat gara-gara kamu nanya, terus kalau kamu gak bisa menuhin itu, pestanya gak jadi dibuat. Gagal deh makan-makan," keluhnya nyerocos panjang kali lebar.


""Pokoknya jangan lupa undang kita bertiga, oke!" kata Windy menimpali. "Kita-kita pasti datang dan bantuin ngabisin makanan!" lanjut gadis itu terkikik pelan.


"Pasti," balas Laura. Keempatnya kembali ke kelas karena sebentar lagi bel masuk berbunyi, mereka akan lanjut berbincang saat istirahat kedua datang.


"Siapa aja yang diundang?" bisik Rani ingin tahu.


"Hmm, mama bilang semuanya," balas Laura.

__ADS_1


"Satu kelasan gitu?" tanya Windy menyela.


"Ya," balas Laura singkat.


"Beuh, gila. Banyak banget pasti itu," ujar Windy, Rani mengangguk setuju.


"Apanya? Tamu?" tanya Laura.


"Makanannya, Ra," sela Zahrah yang berjalan di belakang Laura. Laura kini diapit oleh Windy dan Rani, makanya Zahrah tersisih ke belakang. "Mana mungkin mereka mikirin tamu," tukas Zahrah melanjutkan.


"Itu sih sudah pasti!" balas Windy dan Rani serempak. Keduanya ber-tos ria sambil tertawa cekikikan.


"Tuh, apa aku bilang!" dengus Zahrah yang sudah paham dengan kelakuan kedua temannya. "Btw, kamu mau kado apa?" tanya Zahrah. Mereka baru berteman dan Zahrah tak tahu banyak tentang Laura, selain gadis itu yang selalu membawa-bawa buku ke mana pun dia pergi.


"Eh, iya. Kalau ke acara ultah kan harus bawa kado," tukas Rani seolah baru sadar kenyataan itu. "Kamu mau apaan?" tanya gadis itu dengan tatapan mata penuh semangat.


"Bisikin aja ke kita-kita, ntar kita-kita bakalan beli dan bungkus serapi mungkin. Terus tinggal dibawa deh pas hari-H!" kata Windy.


"Ya, kali kamu mau request kan. Biar pas sama yang kamu mau, terus kamu dapat deh sebagai kado," balas Windy mengangkat bahu ringan.


"Aku terserah aja, yang penting kalian datang," tukas Laura seadanya.


"Astaga, baik banget anak satu ini," puji Rani sedikit berlebihan. "Temen siapa sih ini? Udah cantik, baik hati pula?!" katanya semakin memuji Laura.


"Jangan marah kalau kita datang tanpa bawa apa-apa, ya," goda Windy mulai kumat usilnya.


"Udah-udah, gak usah ngoceh terus. Tuh kelas kita udah keliatan di depan, buruan masuk sebelum guru datang," sela Zahrah menyela. Kalau tidak begini, urusannya bakalan panjang. Laura pasti akan membalas dengan serius, padahal kedua kawannya yang lain hanya main-main saja.


"Datang saja, tak apa tak membawa kado atau apa pun itu," kata Laura sebelum mereka masuk ke kelas. Tuh kan, benar. Apa Zahrah bilang. Laura selalu serius, padahal niat mereka hanya bercanda.


"Kamu sendiri yang bilang, ya?" kata Rani sambil terkikik.

__ADS_1


"Jangan cemberut kalau kita-kita datang tanpa membawa apa pun nanti!" tambah Windy ikut-ikutan. Duo rese ini selalu kompak kalau sudah bercanda dan menjahili orang.


"Ya," balas Laura singkat dan acuh, seolah tak masalah kalau dia tak mendapatkan hadiah sama sekali.


"Jangan dengerin mereka, Tak," sela Zahrah menyerobot ke depan. "Mereka cuma bercanda," kata gadis itu lagi. Zahrah menarik Laura agar duduk di kursi mereka. Kalau dibiarkan terus berlanjut, Laura pasti akan kembali dibecandain seperti tadi lagi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Pipit menjemput anaknya sebelum kelas selesai, lebih baik dia menunggu dari pada hal tak diinginkan terjadi. Memang beberapa hari ini Jamal tak terlihat, pria sampah itu tak muncul lagi di rumah mereka sejak terakhir kali membuat keributan. Tapi itu juga yang membuat Pipit gelisah. Dia tahu betul bagaimana watak pria tak tahu malu itu kalau sudah bertekad, dia tak akan pernah mau menyerah sampai dia berhasil.


Dan untuk mencegah Jamal melakukan rencana jahat yang entah apa itu, di sinilah Pipit berada, menunggui anaknya pulang bahkan setengah jam sebelum jam pulang sekolah tiba.


Pipit membunyikan klakson dua kali seraya melambai saat anaknya melihat ke arahnya. "Capek?" tanya wanita itu saat sang anak sudah naik.


"Tidak, ma," balas Laura dengan suara tenang.


"Baiklah, karena anak mama mengatakan kalau dia tak capek, bagaimana kalau kita melihat-lihat dress?" tanya Pipit pada sang anak.


"Terserah mama saja," kata Laura masih tetap menjadi anak penurut.


Pipit tersenyum lebar, padahal dalam hati dia merasa sangat bersalah. Anaknya seperti selalu mengikuti apa yang dia inginkan, gadis itu seakan tak bisa memutuskan sendiri apa yang dia ingin lakukan.


"Setelah belanja, kamu mau ke mana, sayang?" pancing Pipit ingin tahu. "Mau makan? Atau jalan-jalan?" tanya wanita itu lagi.


Laura menatap sang ibu, dia tampak berpikir meski hanya sesaat. "Makan," kata Laura memutuskan.


Satu kata itu saja sudah membuat Pipit senang, anaknya bisa juga memutuskan sendiri tanpa dirinya. "Baiklah, mari kita makan setelah ini. Di mana kita akan makan? Kamu mau makan apa?" masih banyak pertanyaan yang Pipit ajukan dan semua dijawab Laura. Meski jawabannya singkat, tapi Pipit sangat senang mendengarnya.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2