WISH ...

WISH ...
14


__ADS_3

Jamal kembali, membuat Pipit tak bisa tidur memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi karena kehadiran pria sampah itu lagi.


Di pagi hari, Pipit meminta semua pelayannya pergi meninggalkan dirinya dan juga Laura berdua saja. Dia dan anaknya perlu bicara empat mata. Meski sedikit takut dengan tanggapan anaknya, dia harus jujur dengan apa yang terjadi kemarin. Belum lagi dia tak tahu apa yang bisa Jamal lakukan saat anaknya di sekolah. Pria tak tahu malu itu bis saja mendatangi Laura dan membuai anaknya dengan perkataan semanis madu yang penuh dengan harapan.


Pipit menangis dalam diam, dia bersyukur anaknya tak terpengaruh meski tahu ayah kandungnya kembali. Bahkan gadis itu berjanji kalau dirinya akan selalu berada di pihak Pipit, jadi Pipit tak perlu khawatir dengan apa pun.


Laura terdiam melihat bahu ibunya yang gemetar, belum lagi suara isak tertahan yang sedikit terdengar. Laura berdiri dari duduknya, memberi sang ibu pelukan dengan wajah datar andalannya. "Jangan menangis, ma. Aku tak suka melihatnya," kata Laura dengan suara lirih. Bukannya berhenti, tangis Pipit semakin menjadi. Laura dengan setia menepuk-nepuk punggung ibunya yang teramat ringkih terlihat. Berapa banyak beban yang diberikan sang ayah pada ibunya. Lalu setelah semua baik-baik saja, kenapa sang ayah harus kembali dan mengacaukan semuanya lagi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Dan benar saja apa yang ditakutkan oleh Pipit, pria yang tak tahu malu yang baru saja mereka bicarakan tadi, kini sudah menunggu kedatangan Laura. Berbekal foto lama yang tak sengaja masih tersimpan di ponselnya, Jamal memerhatikan setiap wajah murid perempuan dengan seksama.


"Bersabarlah sedikit, setelah ini kamu bisa masuk ke rumah mewah itu dengan menggunakan kata 'Anak'," kekeh pria itu berbisik pada dirinya sendiri.


"Ho-ho-ho, itu dia. Tiket masuk untuk meluluhkan pendirian kesayanganku yang mulai memberontak karena keras kepala," gumam Jamal begitu menemukan Laura. Pria itu mengintai dari balik dinding, agar tak terlihat oleh siapa pun.


"Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan tiket keberuntunganku agar semua berjalan seperti sebuah kebetulan," kata pria itu dengan langkah lebih ringan. Dia yakin rencananya kali ini akan berjalan lancar. Apa susahnya menghadapi anak remaja yang pastinya begitu haus akan kasih sayang, dia hanya tinggal bermulut manis dan mengambil hati anak itu.


"Ngomong-ngomong, siapa namanya, ya?" kata Jamal dengan kening mengernyit. "Ah, bodo amat!" tukasnya malas berpikir, padahal dia baru berpikir beberapa saat saja. "Aku hanya tinggal memanggilnya 'Anakku sayang' saja," lanjut Jamal tak peduli. Dia bersiul riang, memikirkan keberhasilan yang sesaat lagi akan dia dapatkan. Bahkan Pipit sekali pun tak akan bisa mengatakan apa-apa, meski dirinya datang dan tinggal di rumah itu dengan nyamannya.


Seperti biasa, Laura menghabiskan waktu istirahat bersama dengan Zahrah dan yang lainnya. "Kamu kenapa, Ra?" tanya Zahrah yang melihat temannya itu lebih pendiam dari biasanya.

__ADS_1


"Iya, kamu sedikit aneh hari ini," timpal Rani menambahkan.


"Aku gak apa-apa," kata Laura membalas.


Zahrah menggaruk pipinya yang tak gatal, sedikit bingung bagaimana mengatakan apa yang dia ingin utarakan pada Laura, tentu saja agar temannya itu tak tersinggung. "Emm, kamu memang biasanya diam. Tapi ini ... lebih diam dari pada yang biasanya!" kata Zahrah ragu. "Bahkan buku yang kamu bawa aja gak kamu baca sama sekali," lanjut gadis itu melirik buku yang ada di tangan kawannya itu.


"CK, cerita kalau ada masalah!" ketus Windy yang sepertinya cukup menerima kehadiran Laura di antara mereka bertiga.


Hening seketika, Windy sedikit risih dibuatnya. "Apa? Apa?" tanya gadis itu dengan nada ketus. "Ngeliatinnya biasa aja kali," lanjutnya mendengus seraya membuang tatapannya ke lain arah.


"Rupanya si Windy perhatian sama Laura, ya?" tukas Zahrah senang.


"Keliatannya aja ketus, padahal aslinya baik," timpal Rani memuji.


"Maaf, harusnya aku di kelas saja tadi," ujar Laura menanggapi.


"Eh, gak gitu, kok. Si Windy mulutnya emang rada jutek, padahal aslinya dia cuma malu aja," kata Zahrah tak enak hati.


"Iya, jadi gak usah terlalu diambil hati omongannya si Windy!" tambah Rani.


"Huh, orangnya masih di sini loh! Bisa-bisanya kalian ngomong gitu di depan aku?" ketus Windy berpura-pura ngambek.

__ADS_1


"Kan lebih bagus ngomongin di depan kamu, Win. Dari pada di belakang dan kamu gak tahu, hayo?!" ucap rani terkekeh kecil. Rani dan Zahrah ber-tos ria, keduanya tersenyum lebar bersama. Laura memperhatikan interaksi ketiga kawannya itu, dia melihat tangannya sendiri, lalu melihat Rani dan Zahrah lagi. Begitu terus berulang kali.


"Sekarang kenapa lagi?" tanya Zahrah yang sadar kalau dirinya diperhatikan dengan seksama dari tadi. "Tangan kamu kenapa?" tanya gadis itu melirik tangan Laura yang terlihat baik-baik saja.


Laura menggeleng pelan, senyum teramat tipis terlukis di wajah kakunya itu. "Sepertinya yang tadi kalian lakukan seru," kata gadis itu pelan.


"Hah, yang mana?" tanya Rani bingung. Memang mereka habis ngapain, apa yang seru, kok dia gak sadar.


"Itu, yang seperti ini." Laura menirukan saat Zahrah dan Rani tos berdua, tetapi dia tos dengan tangannya sendiri alias sama saja dengan bertepuk tangan.


"Oh, kompak? Tos?" kata Rani paham. "Apanya yang seru, coba?" kekeh gadis itu merasa lucu dengan tanggapan Laura barusan. "Kamu bahkan bisa melakukannya ratusan kali dalam sehari," tambah Rani berniat bercanda dengan Laura.


"Benarkah?" tanya Laura serius.


"Astaga, tentu saja tidak, Ra," timpal Zahrah menyela. "Si Rani cuma bercanda barusan!" lanjutnya lagi.


Laura paham, dia mulai melupakan soal ayahnya yang datang kembali. Belum tentu juga ayahnya mendatangi dirinya seperti yang ibunya takutkan. Yang Laura tak tahu, ayahnya sudah menunggu waktu yang tepat untuk bertemu secara kebetulan, dan tentu saja semua itu hanya rekayasa buatan Jamal sendiri.


Selama berteman dengan Zahrah dan dua kawannya yang lain, Laura sedikit demi sedikit mulai terbuka. Meski gadis itu sendiri tak sadar akan hal itu, tetapi ekspresi Laura sedikit banyak telah berubah lebih manusiawi. Laura sudah mulai tersenyum walau hanya sedikit, sudah mulai penasaran dan belajar hal lain selain dilingkup pelajaran sekolah. Gadis itu belajar berbaur, dia juga belajar bertanya dan mengungkapkan apa yang dia pikirkan meski masih terasa ragu. Semoga saja Zahrah bisa terus berteman dengan Laura, jadi Laura bisa belajar cara berkawan dengan yang lainnya.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2