WISH ...

WISH ...
42


__ADS_3

Jamal merasa berada di atas angin, dia kelewat senang karena mendapatkan pengacara yang sangat mudah ditipu. Bahkan pengacaranya itu menjanjikan hal yang sangat dia inginkan.


Namun, Jamal harus menghadapi kenyataan kalau dirinya tak boleh bermimpi ketinggian. Pipit datang dan membawa setumpuk bukti kalau dia berada di pihak yang salah. Dia yang melakukan pengkhianatan, dia yang membawa lari banyak uang, dan dia juga yang saat ini dengan keras kepalanya memaksa untuk kembali.


Pengacara yang disewa Jamal meminta maaf, dia hanya mendengar pernyataan sepihak. Dia juga mundur dari pertarungan, dia bahkan rela membayar kembali uang yang sudah Jamal berikan kepada dirinya. Tentu saja Jamal menolak, dia marah-marah. Berteriak kalau bukan ini yang dia inginkan. Dia bersikeras menyuruh pengacaranya untuk tetap menuntut. Tapi dengan tegas, pengacara itu menolak. Dia mengatakan dirinya tak bisa lanjut setelah tahu kebenaran yang terjadi.


Pipit menyela saat Jamal sibuk berteriak meluapkan kekesalannya, bukannya diam, Jamal malah menyalahkan semua pada Pipit. Dia bertanya mengapa wanita itu tak menerima saja dirinya dengan tangan terbuka. Mengapa harus bersikeras mendorong dia menjauh. Mendengar hal tak masuk akal,jelas saja Pipit tertawa terbahak-bahak. Wanita itu malah mengatakan siapa memangnya yang mau menerima sampah. Jamal semakin emosi mendengarnya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Kalau begitu saya permisi, saya minta maaf sekali lagi, Bu Pipit," kata si pengacara berniat undur diri. "Dan ini uang anda saya kembalikan," katanya menyerahkan amplop putih yang entah berisi berapa banyak uang di dalamnya.


"Anda tak bisa meninggalkan saya begini! Saya akan menyebarkan ini ke internet, mengatakan kalau anda tak becus dan bekerja setengah-setengah!" ancam Jamal melihat pengacaranya berniat pergi meninggalkan dia sendirian di sini. Sudah pasti dia akan diusir begitu pengacara yang datang bersama dia pulang.


"Maafkan saya," kata si pengacara menunduk. "Terserah anda mau melakukan apa, saya tak masalah. Pilihan paling buruk, saya harus meninggalkan dunia hukum," lanjut si pengacara tersenyum getir. Kalau namanya menjadi jelek, maka tak akan ada orang yang mau mempercayakan kasus kepadanya. Bahkan kalau itu sebuah kasus yang tak penting.


"Bisakah anda ikut dengan asisten saya ke tempat lain?" sela Pipit tersenyum bisnis. "Ah, itu pun kalau anda memiliki waktu. Saya tak memaksa sama sekali," kata wanita itu lagi.

__ADS_1


"Akan saya lakukan!" kata si pengacara dengan cepat. Dia menduga kemungkinan kalau nyonya di depannya ini akan meminta dia untuk meminta maaf dengan lebih tulus, makanya dia dilarang untuk meninggalkan kantor ini.


"Hei, hei, aku yang membayar kamu. Dan kamu malah mendengarkan musuhku?" teriak Jamal tak terima. Suara Jamal seolah tak terdengar, tak ada yang mempedulikan dirinya, bahkan tak ada yang mau mendengarkan apa yang dia katakan.


"Ini sudah yang ke berapa kalinya, ya?" gumam Pipit. "Ke dua? Ke tiga? Atau mungkin yang ke empat?" lanjut wanita itu. "Ha-ah, aku terlalu malas menghitung hal tak penting rupanya," dengus Pipit pada dirinya sendiri.


"Kamu sudah gila bicara sendiri?" ketus Jamal mendongak sombong. "Kalau gila pergi ke rumah sakit jiwa ana, biar Laura aku yang urus!" lanjut pria itu berharap kalau yang dia katakan barusan menjadi kenyataan.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan?" tanya Pipit menoleh sedikit ke samping.


"Tentu saja, saya paham!" kata pengacaranya menimpali.


"Akan saya pastikan anda puas dengan semua penyelesaian yang saya buat!" timpal pengacara Pipit dengan keyakinan penuh.


"Huh, pasti kalian bakalan menendang aku lagi, kan?" dengus Jamal menebak. "Gak perlu, aku bisa keluar sendiri dengan kedua kakiku!" katanya seraya berdiri dari kursinya.


Dua orang pria berbadan besar menekan Jamal untuk kembali duduk di kursinya, wajah sangar dan tenaga yang besar, jelas Jamal kalah kuat dari dua orang yang entah dagang dari mana. "Apa-apaan ini? Biarkan aku pergi!" kata pria itu mencoba memberontak, sayangnya kedua orang yang menahan pergerakan Jamal sama sekali tak bergeming.

__ADS_1


"Anda tak bisa pergi, nyonya kami terlalu baik dala menangani anda selama ini. Jadi, kami yang akan melakukannya mulai sekarang," kata si pengacara menatap Jamal dengan kilat jahat di matanya. Dia tipe pria yang sangat benci dengan pria-pria yang tak setia dan tak tahu malu. Tipe-tipe seperti itu yang membuat nilai pria di mata orang semakin menurun, yang baik disama-samakan dengan mereka-mereka yang jahat. Bahkan mereka diwaspadai, padahal mereka tak pernah melakukan hal buruk apa pun. Jadi, ini saatnya dia menghukum salah satu pria busuk di antara banyaknya pria busuk lain yang belum tertangkap.


"Apa maksudnya itu? Saya ini suami dari orang yang kamu panggil nyonya, jadi saya ini tuan kamu? Apa begini cara kamu memperlakukan majikan kamu?" oceh Jamal berbicara omong kosong.


"Ralat, anda hanya mantan. Dan mantan tak memiliki kekuasaan untuk mengancam!" katanya menimpali. "Nyonya juga tak peduli pada anda, jadi saya bebas melakukan apa pun. Bahkan kalau saya berniat menyekap anda untuk sisa hidup anda. Saya yakin, nyonya tak akan pernah mempertanyakan apa pun pada saya!" lanjut pria itu dengan wajah licik.


Jamal terdiam, dia bertemu lawan yang rumit. Pria di depannya bukan hanya mengatakan omong kosong saja. Entah mengapa, Jamal merasa diperingatkan kalau omongan pria di depannya ini bisa dia lakukan sesuai dengan apa yang dia ucapkan. "Ini negara hukum, jadi anda tak bisa berbuat macam-macam!" kata Jamal menggertak.


"Tak ada hukum yang berlaku kalau tak ada bukti yang ditemukan!" kata si pengacara kelewat santai. Si pengacara malah terlihat seperti penjahat nyata di mata Jamal.


Jamal bergidik takut, dia biasa mengancam yang lemah. Belum ada yang pernah mengintimidasinya seperti ini sebelumnya. "Aku akan berteriak kalau begitu!" katanya tak tahu harus berbuat apa.


"Ho-ho-ho, itu pilihan yang bagus," kata si pengacara santai. "Teriak sampai suara anda habis, saya tak peduli!" desisnya menantang Jamal.


"Apa yang kamu mau? Kamu tak bisa berbuat begini pada saya!" suara Jamal terdengar bergetar, sepertinya pria itu merasa takut dengan ancaman pengacara mantan istrinya.


"Pilih salah satu dari dua pilihan yang saya berikan pada anda!" ucap si pengacara dengan suara lirih. "Pilih dengan benar, karena pilihan anda menentukan apa yang akan anda jalani di masa depan!" katanya lagi. Senyum misterius terkembang di bibir pria itu, dia menatap lurus tepat di mata Jamal. Jamal meneguk ludah susah payah, apa ini akan menjadi perjuangan terakhirnya.

__ADS_1


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2