WISH ...

WISH ...
7


__ADS_3

Laura istirahat ke kantin bersama dengan Zahrah dan kedua kawan Zahrah yang lainnya. Entah kenapa dia mau-maunya saja ikut dan tak menolak seperti biasanya. Begitu sampai di kantin, Laura sedikit terkejut karena kantin ternyata sangat ramai.


Laura tak memesan apa pun, dia hanya duduk diam dan memakan bekal yang dibawakan dari rumah. Zahrah meletakkan minumannya di depan meja Laura agar temannya itu terlihat seperti memesan sesuatu meski hanya segelas minuman saja.


"Gimana kantin, Ra?" tanya Zahrah. "Cukup seru, kan?" lanjut gadis itu.


"Terlalu ramai, gak cocok buat tempat belajar di sini," balas Laura seadanya.


"Astaga, kantin itu tempat orang mengisi perut. Bukannya mengisi otak, Laura!" desah Windy angkat suara.


Zahrah menyenggol lengan Windy. "Gak apa-apa lagi. Malah bagus kan kalau belajar dijadikan hobi, pasti bakalan pinter seperti Laura," kata Zahrah berharap Windy tak asal bicara lagi.


"Pintar iya, tapi terlalu kuper ya jangan!" kata Windy ceplas-ceplos, tak peduli bagaimana perasaan Laura.


"Kuper?" gumam Laura pelan.


"Kurang pergaulan maksudnya," celetuk Rani tiba-tiba.


Laura mengangguk paham. "Rupanya aku seperti itu," ujar Laura berkata lirih.


Windy dan Rani tepuk jidat di waktu yang bisa dibilang bersamaan. "Jadi selama ini kamu gak nyadar?" tanya Windy.


"Kamu terus-terusan belajar, belajar, dan belajar, tanpa pernah berbaur dengan kami, teman sekelas kamu, Ra," tambah Rani.


"Kerja kelompok aja selalu kamu kerjakan sendiri, gak pernah gabung sama kelompok yang udah ditentukan," ujar Windy.


"Hei, hei, ayolah. Kita lanjut makan lagi, ya," tukas Zahrah melerai. "Lagian Laura cuma nanya, masa kalian jawab segitunya," tambah gadis itu mengisyaratkan agar kedua kawannya tak lagi menambahkan komentar yang mungkin bisa membuat Laura sakit hati.


"Maaf, aku gak tahu kalau selama ini ternyata aku membuat kalian kesal," kata Laura penuh sesal, tapi wajahnya tetap saja datar.


"Itu seriusan minta maaf?" bisik Rani . "Kenapa ekspresi wajahnya tetep aja kek tembok?" tambah gadis itu lagi.


"Mungkin emang gitu aja ekspresi yang dia punya, Ran," bisik Windy yang tiba-tiba jadi sedikit melunak setelah Laura meminta maaf.

__ADS_1


Zahrah tersenyum tipis, dia senang kedua temannya sepertinya sudah mulai menerima keberadaan Laura di antara mereka. Meski masih sedikit jutek, tapi Windy sudah mulai berbicara dengan nyaman pada Laura.


"Aku kenyang," kata Windy setelah menghabiskan makanan dan minuman yang dia pesan.


"Iyalah, kenyang! Orang kamu makannya kayak orang yang udah gak makan dari setahun lalu," dengus Rani mencibir Windy.


"Enak aja," bantah Windy cepat. "Aku ini lagi masa pertumbuhan, makanya banyak makan. Bukan gara-gara kelaparan, ya!" tambah gadis itu mendengus tak terima dikatai tak makan selama setahun.


"Ayo kita duluan, Ra," ajak Zahrah seraya bangkit dari duduknya.


"Mereka gak apa-apa ditinggal?" tanya Laura mengernyitkan keningnya.


"Gak apa-apa, paling bentar lagi mereka nyusul," jawab Zahrah santai.


"Woi, mau ke mana?" teriak Windy sedikit lebih keras.


"Astaga, kita ditinggal, dong," timpal Rani ikutan berdiri.


Keduanya saling menatap, lalu mengangguk serempak. "Tunggu, woi!" teriak keduanya bersamaan. Mereka berdua menjadi sasaran perhatian karena berteriak di tengah kantin. Tapi siapa yang peduli dengan tatapan seperti itu, keduanya terus berlari mengejar Zahrah yang sudah cukup jauh jaraknya dari mereka.


"Maaf, nona. Saya sedikit terlambat karena macet," kata supir yang menjemput Laura seraya membukakan pintu mobil untuk nona mudanya.


"Tak apa, saya juga tak menunggu terlalu lama," balas Laura. Gadis itu duduk dengan tenang, menatap ke depan, seulas senyum tipis terpatri tanpa dia sadari saat melihat Zahrah dan dua temannya yang lain berjalan pulang bersama.


"Apa nona ingin menyapa teman-teman nona?" tanya si supir melihat nonanya memperhatikan tiga orang siswi yang berjalan tak jauh di depan.


"Tidak perlu," balas Laura singkat, gadis itu kembali membuka bukunya.


Si supir mengangguk patuh. "Baik, non," katanya menanggapi seraya menghela napas pelan. Dia kira nonanya ini memiliki teman, nyatanya masih saja sama. Nona majikannya itu selalu menghabiskan waktu yang mereka tempuh untuk sampai ke rumah dengan membaca.


"Kita sudah sampai, nona," kata si supir dengan nada hangat.


"Oh, terima kasih," tanggap Laura segera turun dari mobil. Sudah ada pelayan yang menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Selamat datang, nona," kata pelayan yang menyambut kedatangan Laura.


"Ya," balas Laura singkat.


"Apa nona ingin mandi dulu, makan, atau istirahat?" tanyanya sopan.


"Saya akan langsung istirahat di kamar saja!" kata gadis itu membalas.


"Apa mau saya bawakan cemilan, nona?" kata si pelayan menawarkan agar nonanya mau mengisi perut walau hanya dengan cemilan saja.


"Tidak usah, saya masih kenyang," kata Laura kemudian segera berlalu pergi.


Laura menutup rapat pintu kamarnya, dia berganti baju dan segera duduk di meja belajar. Membuka kembali buku pelajaran dan beberapa buku tambahan lainnya. "Ini hal benar yang harus aku lakukan agar mama senang," gumam gadis itu mulai menekuni buku-buku yang sudah dia buka dan menunggu giliran untuk dibaca. Laura terus membaca dan membaca, bahkan dia tak menghiraukan perutnya yang berbunyi minta diisi. Kata-kata sang ibu yang menginginkan dirinya menjadi yang terbaik, selalu terdengar di telinga gadis itu. Makanya dia harus banyak dan lebih banyak lagi belajar agar bisa lebih pintar dari anak-anak seusianya. Bahkan kalau bisa dia harus menjadi yang pertama dalam segala hal yang menyangkut kepintaran otak.


"Bagaimana ini, nona tak turun juga untuk makan?" adu salah satu pelayan terlihat panik.


"Nona gak mungkin pingsan, kan?" kata yang satunya menambah kepanikan pelayan lainnya.


"Bisa jadi nona sakit lagi!" timpal salah satu di antara mereka menebak.


"Sajikan makanan hangat dan mudah dicerna, biar saya yang mengantar ke kamar nona!" kata kepala pelayan menengahi. Jelas dia juga khawatir, tapi tak ada gunanya menebak-nebak, lebih baik langsung bertindak dengan membawakan makanan ke kamar nonanya sekaligus melihat bagaimana keadaan nona mereka.


"Baik!" ujar mereka serempak. Dengan cepat makanan untuk Laura tersaji.


"Kerjakan tugas kalian, jangan bergosip yang tak jelas!" kata kepala pelayan memperingatkan. Semua mengangguk paham, si kepala pelayan tadi pun segera naik ke kamar nona majikannya.


"Nona, ini saya!" kata si kepala pelayan dengan sopan.


"Ada apa, bi?" tanya Laura tanpa beranjak dari duduknya.


"Bisakah nona membukakan pintu?" kata si bibi pelayan bertanya dengan sopan. "Tangan saya sedikit kerepotan untuk melakukan hal mudah itu, nona," lanjut wanita paruh baya itu. Suara derap langkah terdengar dari dalam, tak lama pintu kamar Laura terbuka dengan lebar. Si bibi pelayan bisa melihat wajah nonanya sedikit lebih pucat, dia pun segera masuk tanpa permisi saking paniknya.


"Ya, Tuhan. Apa nona tak istirahat tadi?" pekik si bibi lupa kalau dia hanya pelayan di sini. Wanita itu memperlihatkan kekhawatirannya yang teramat sangat untuk nonanya yang dia layani sejak kecil.

__ADS_1


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2