
Laura meninggalkan Jamal tanpa meminum minuman yang sudah dicampur Jamal dengan obat tidur. Pria itu terus meneriakkan agar Laura meminum langsung di depan matanya, tapi Laura tak mengikuti keinginan Jamal. Gadis itu langsung ke kelas begitu bel masukan berbunyi.
Jelas Jamal kesal, dia menendang udara beberapa kali, dia juga memaki dengan kasar. Pria itu mempertanyakan mengapa tak ada yang berjalan sesuai rencana yang dia miliki. Apa begitu susah untuk membuat keluarganya kembali seperti dulu. Harusnya tidak seperti ini, harusnya mereka berdua menerima dirinya dan tak mempermasalahkan apa pun lagi. Saat sedang kesal-kesalnya, Jamal malah ditegur dan dihardik oleh seseorang yang bisa dianggap atasan di sini. Dia mungkin bisa dibilang kepala tukang kebun, dan orang-orang seperti Jamal bekerja di bawah orang itu.
Jamal menghela napas panjang beberapa kali, menyembunyikan kekesalannya, dan kembali bekerja seraya mengumpati bosnya di dalam hati. Dia kesal, dia juga yakin kalau orang itu akan menjilat dirinya kalau mereka bertemu sebelum Jamal berakhir seperti ini.
Di sisi lain, setelah Laura kembali ke kelasnya. Gadis itu ditanyai oleh Zahrah. Di mana dirinya, padahal Zahrah sudah berkeliling mencari tetapi mereka masih juga tak bertemu. Ketika sedang mengobrol, Rani malah mengusili Laura dengan makanan dan minuman yang Laura bawa sekarang. Rani mengatakan kalau Laura ingin makan di dalam kelas. Tentu saja Laura menyangkal dengan menjelaskan kalau itu pemberian dari orang yang bertanya padanya. Zahrah menyuruh Laura berhati-hati, tak baik menerima makanan dari orang yang tak dikenal. Rani pun berpikiran yang sama. Hingga Windy akhirnya bertindak, ingin merebut makanan tersebut.
Laura mengatakan kalau dia sudah berjanji memakan ini semua, tetapi dia juga meragu karena ketiga temannya berpendapat yang sama.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Sini, biar aku aja yang buang!" decak Windy kesal melihat Laura plin-plan saat ini, tak seperti Laura yang biasanya, yang dingin dan cuek tanpa pikir panjang.
"Beres, kan?" tambah gadis itu seraya membersihkan kedua tangannya, dia menepuk-nepuk tangannya seakan membersihkan debu yang menempel di sana.
"Gak usah dipikirin, kamu gak mengingkari janji, kok. Anggap aja makanan tadi jatuh dan gak bisa dimakan lagi, jadi kamu gak bohong, kan?" tukas Rani menepuk-nepuk pundak Laura.
Laura mengangguk kaku, dia menatap roti dan botol susu yang teronggok di tempat sampah. "Aku gak mengingkari janji dan aku gak salah," bisik Laura teramat pelan.
__ADS_1
"Ya?" tanya Rani memastikan apa yang diucapkan Laura barusan. Padahal dia sudah berdiri di sebelah Laura, tapi masih saja dia tak mendengar apa yang dikatakan kawannya itu.
"Bukan apa-apa, kita harus duduk. Nanti guru masuk," tukas Laura.
"Astaga, iya. Ayo balik ke meja kita!" Rani melesat dan langsung duduk manis, tak mau dihukum oleh guru yang terkenal killer yang sebentar lagi akan mengisi pembelajaran di kelas mereka.
Laura berjalan dengan tenang, lagi pula mejanya berada di barisan depan. Jadi dia tak perlu terburu-buru seperti Rani barusan. "Ra, kalau ada soal yang susah dan aku gak tahu, kasih tahu aku ya? Habis itu besok-besok ajari aku caranya ngerjain soal yang aku gak ngerti itu, oke?" pinta Rani berbisik lirih.
"Ya," balas Laura mengangguk pelan.
"Uwaa, Laura emang yang ter-the-best, deh pokoknya!" sorak Rani mengacungkan kedua jempolnya ke arah Laura.
"Astaga, jahatnya. Temen bukan, sih?!" sarkas Rani ikutan mendengus kesal. "Dia yang bohong, Ra! Jangan dipercaya!!!" lanjut Rani menatap tepat ke arah Laura. Gadis itu berharap Laura lebih percaya kepadanya dari pada kepada Windy yang mulutnya suka seenaknya kalau berbicara.
Laura malah menatap ke arah Zahrah, tatapannya seakan bertanya mana yang harus dia percaya dari dua orang tersebut. "Putuskan sendiri, mana yang menurut kamu berkata benar, Ra?" kata Zahrah seraya terkekeh kecil di akhir ucapannya.
Laura mengangguk paham, menatap Rani dan Windy secara bergantian. "Aku tak percaya pada kalian berdua," kata Laura membuat Rani dan Windy tercengang, sementara Zahrah tertawa tertahan sambil memegangi perutnya.
"Apa lagi itu maksudnya?!" ketus Rani dan Windy secara bersamaan tak terima. Kalau mereka berdua tak dipercaya, artinya Windy berbohong dan Rani yang berucap benar. Tapi menurut Rani, dia juga tak aman karena kata-katanya juga tak dipercayai oleh Laura.
__ADS_1
"Berusaha sendiri, nanti ketika istirahat kita belajar bersama kalau memang ada yang kamu tak tahu!" kata Laura menjelaskan dengan nada datar.
Windy menahan tawanya, artinya meski tak percaya pada apa yang dia ucapkan tadi Laura juga tak akan semudah itu memberikan jawaban pada Rani. Buktinya sekarang, Rani disuruh menjawab semampu gadis itu. Nanti baru mereka belajar bersama kalau memang ada yang sulit.
"Makasih, loh Ra. Aku jadi semangat banget!!!" sindir Rani sembari melotot ke arah Windy. Temen apa yang doyan ngeliat kawannya sendiri kesusahan.
"Gak usah makasih, aku suka belajar," timpal Laura yang anaknya tak peka dengan sendirian dari siapa pun. Bahkan sindiran dari Rani pun dia kira itu ucapan dalam artian sebenarnya.
"Astaga, astaga, darah tinggiku naik," tukas Rani memegang tengkuknya.
"Kamu mau ke UKS?" tanya Laura sedikit mulai khawatir, meski dia tak sadar.
Windy dan Zahrah saling menatap, kemudian keduanya menertawakan Rani dengan pelan. Laura itu terlalu serius, dia menerima saja apa yang orang lain katakan tanpa tahu kalau itu hanyalah sekedar candaan atau sindiran saja.
Rani sedikit kesal, tapi dia juga gemas dengan Laura yang terlalu polos dan percaya-percaya saja dengan semua yang dia katakan. "Sepertinya kamu memang perlu banyak belajar dari kami, Ra!" kata Rani menepuk-nepuk bahu Laura. Gadis itu terlihat sangat putus asa melihat kawannya tak ada harapan. Terlalu gampang percaya dan bisa dengan mudah dibodohi. Percuma jenius kalau tak bisa menafsirkan apa maksud sebenarnya dari ucapan seseorang.
"Aku akan belajar dengan baik!" tukas Laura bersemangat. Yah, walau pun wajahnya tetap saja datar seperti papan.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...