WISH ...

WISH ...
6


__ADS_3

Bel tanda kelas dimulai berbunyi, Laura menyimpan buku yang dari tadi dia baca ke dalam tasnya. Itu hanya buku yang harus selesai dia baca dan hapalkan isinya, bukan buku pelajaran untuk mata pelajaran yang sebentar lagi akan berlangsung.


"Eh, eh, ada PR gak sih?" Laura bisa mendengar beberapa kawannya mempertanyakan hal yang sama. Kenapa tak bertanya dari tadi saja, saat bel masuk kelas belum berbunyi. Bertanya sekarang juga pasti akan terlambat untuk menyelesaikan PR jika memang itu ada.


"Gak tahu juga, aku lupa!" kata yang lain menjawab.


"Kok bisa lupa, sih? Ada atau gak nih?" desak yang lain.


"Lah, kamu aja lupa makanya nanya. Masa aku gak boleh lupa?" timpal satunya memasang wajah jutek.


Laura menggeleng pelan, menghela napas panjang lalu menutup kedua telinganya, dia akan berpura-pura tak mendengar ocehan tak bermutu dari beberapa kawannya yang duduk di belakangnya itu.


"Assalamualaikum, selamat pagi murid-murid ibu sekalian," sapaan hangat mengawali pagi mereka saat guru yang mengajar telah datang.


"Selamat pagi juga, bu!" balas mereka serempak. Tentu saja ada juga yang membalas dengan pelan, seperti Laura misalnya. Buat apa teriak, toh gurunya juga tetap mendengar meski mereka hanya bicara seperti biasa saja.


"Baiklah, sebelum pelajaran dimulai. Mari bersama-sama kita berdo'a terlebih dulu!" kata si guru. Kemudian mereka pun mulai berdo'a dipimpin oleh ketua kelas. Setelah selesai, pelajaran pun dimulai. Sang guru menjelaskan, kemudian memberi beberapa soal dan melemparkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada muridnya. Sebagian pertanyaan selalu dijawab oleh Laura tanpa banyak pikir. Gadis itu bahkan balik bertanya kalau misalnya ada yang menurutnya kurang dari penjelasan gurunya.


Sebagian murid ada yang merasa bersyukur satu kelas dengan Laura, mereka tak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka anggap sulit, semua Laura yang urus. Ada juga sebagian yang kesal, karena mereka tak bisa menjawab. Sebenarnya itu salah mereka yang kalah cepat, tapi tetap saja mereka kesalnya dengan Laura yang menurut mereka sok pintar sendiri. Beberapa di antara mereka malah ada yang merasa kalau Laura sok cari perhatian dan merasa serba bisa sendiri. Kalau sudah pintar, tak seharusnya Laura sekolah. Lebih baik langsung lulus saja dan lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Ngapain buang-buang waktu untuk disia-siakan di kelas yang nyatanya sudah dikuasai semua pelajarannya seperti ini.


Lain lagi yang dirasakan dengan para guru, mereka bangga dan sangat menyukai sikap Laura yang serba ingin tahu dan terus bertanya ada mereka. Para guru malah ingin semua murid mereka aktif seperti Laura. Yah, soalnya kebanyakan murid di sekolah pasti ribut saat dijelaskan, dan selalu diam saat diajukan pertanyaan setelah penjelasan. Sangat jarang yang mau langsung mengacungkan tangan menjawab soalan yang diberikan pada mereka.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Bel istirahat berdering nyaring, para murid berhamburan segera ke luar menuju kantin, mengisi perut mereka yang sudah lapar minta diisi. "Kantin, yuk!" ajak Zahrah berhenti di depan meja Laura.


"Palingan gak mau dia, Rah," celetuk Windy yang sudah hapal kalau Laura pasti akan menolak ajakan kawannya satu ini.

__ADS_1


"Buru, Rah. Ntar ngantrinya makin panjang!" sahut Rani.


"Diam dulu napa!" bisik Zahrah pelan.


Laura berdiri dari duduknya, membawa kotak bekal di tangannya. "Ayo, tapi aku gak ikutan beli, ya," kata gadis itu datar.


Rani dan Windy menganga tak percaya, sedangkan Zahrah mengangguk senang dengan cepat. "Kamu mau ikut aja aku udah seneng, kok Ra!" kata gadis itu melingkarkan tangannya ke lengan Laura. Cepat-cepat membawa kawannya itu ke kantin, sebelum yang bersangkutan berubah pikiran. Zahrah sungguh senang, usahanya untuk terus dekat dengan Laura membuahkan hasil. Mungkin saja mereka bisa berteman baik di masa depan. Yah, walau pun sikap Laura masih dingin seperti biasanya.


Laura yang pasalnya selalu menghabiskan waktu istirahat di kelas atau di perpus, baru kali ini melihat betapa ramainya kantin pada waktu istirahat. Rani celingukan, mencari meja kosong untuk mereka. "Kalian duduk di sana, biar aku yang pesan!" kata gadis itu menunjuk meja yang belum ditempati siapa-siapa.


Dua temannya yang lain serempak mengangguk bersama. "Pesenin aja aku yang kayak biasanya," kata Zahrah.


"Aku juga sama!" tukas Windy.


"Kalau kamu?" tanya Rani menatap Laura yang sejak tadi berdiri diam saja.


"Hi-hi-hi, ternyata kamu bisa kaget juga, ya?" ujar Wendy cekikikan.


"Kamu mau pesan apa? Rani nanya itu tadi," kata Zahrah kembali memberitahu Laura.


"Aku udah bawa bekal dari rumah," kata Laura cepat.


"Kamu ke kantin tanpa beli apa pun?" kata Windy jutek.


"Gak apa-apa, ayo kita duduk saja sekarang," ujar Zahrah melerai sebelum Windy kembali berkata pedas. Rani sudah pergi memesan sejak Laura mengatakan kalau dia tak memesan karena membawa bekal makanan.


"Taruh ini di depanmu," bisik Zahrah menaruh minuman untuk dirinya di depan Laura.

__ADS_1


"Buat apa?" tanya Laura tak paham. Dia sudah membawa bekal dan minuman, dia tak butuh minuman lebih. Dia tak sehaus itu sampai bisa menghabiskan minuman lainnya.


"Biar keliatan kalau kamu belanja juga," tambah gadis itu seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Ikutin aja, kalau gak kamu bakalan diusir sama murid lain yang gak dapat tempat duduk," celetuk Rani membantu Zahrah menjelaskan lebih baik.


"Udah paham, kan?" tukas Windy judes. Laura mengangguk tanpa emosi. "Biarin kita-kita makan sekarang!" kata gadis itu lagi. "Heran, padahal cuma ke kantin, tapi rasanya kayak jadi pemandu wisata yang harus jelasin ini dan itu sama turis yang gak tahu apa-apa!" gumam Windy dengan nada pelan.


"Ha-ha-ha, maafin Windy, ya. Dia emang begitu, kalau ngomong gak disaring dan kadang nyakitin. Tapi gak jahat, kok," bisik Zahrah sambil tertawa kecil.


"Eh, eh, aku denger, loh!" kata Windy protes.


"Emang sengaja," timpal Zahrah bercanda.


Laura hanya mengamati saja, dia tak paham apa yang lucu hingga ketiga teman sekelasnya itu terlihat sangat seru tertawa dan mengobrol bersama. Laura merasa hal ini lebih sulit dipahami dari pada rumus matematika tingkat tinggi.


Zahrah tersenyum tipis menatap Laura, dia merangkul Laura dengan tiba-tiba. "Aku senang kamu memilih menghabiskan waktu bersama kami," kata gadis itu tulus.


Laura mengangguk meski tak paham, dia hanya sedikit ingin mengubah suasana dan tempat belajar. Bukannya ingin menyenangkan orang lain. "Kamu juga pasti senang, kan?" tanya Zahrah tiba-tiba.


"Aku tak tahu!" kata Laura jujur.


Zahrah tertawa kecil, cukup senang dengan awal baik ini. "Aku yakin kamu senang, hanya saja kamu belum terbiasa," timpal Zahrah. Benar, segini tak apa. Ini sudah cukup baik sebagai awal persahabatan mereka.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2