
Jamal yang bertekuk lutut ternyata tak bisa meluluhkan hati Pipit. Pria itu bahkan tak bisa mengetuk pintu maaf mantan istrinya. Dia diusir, bahkan setelah dia mengatakan kalau dia akan mati. Pipit malah tak peduli, nyawa itu milik Jamal , jadi bukan urusannya kalau Jamal mau meninggalkan dunia ini.
Di ruangannya, Pipit ditawari minuman agar dia lebih tenang. Tentu saja Pipit menerima tawaran tersebut, dia kembali mengingat apa yang dikatakan Jamal barusan. Bukankah lucu, seseorang yang sangat mencintai dirinya sendiri malah membicarakan tentang kematian dengan bibirnya sendiri. Mana bisa percaya omongan sampah seperti itu, dia tak akan merasa kasihan bahkan jika dia melihat langsung bagaimana Jamal mati nantinya.
Di sisi lain, Jamal mengancam akan memecat dua pria yang mengapit dirinya. Keduanya berpura-pura kaget lalu melemparkan Jamal ke luar dengan sangat keras ketika Jamal kembali mengancam mereka. Jamal marah, dia kesal. Semua hal memalukan dan kesialan ini terjadi karena salah Pipit , ini semua salah wanita itu. Jamal tak pernah sadar diri, kalau itu adalah hasil dari benih yang dia tanam. Dia bahkan tak bisa menggapai lagi kepercayaan mantan istrinya yang telah dia khianati sekali.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
__ADS_1
Belum kelar masalah Jamal dengan Pipit, pria itu diusir secara paksa dari tempatnya menginap selama ini. Jamal tak bisa membayar tagihannya untuk hari ini, jadi pilihannya hanya satu, dia keluar dari sana.
Koper dan ransel Jamal dilempar ke jalanan, dua pria berbadan kekar mencegah pria itu berbuat onar. Dengan perasaan kesal yang menumpuk, Jamal segera pergi dari sana, dari pada dia lebih dipermalukan lagi nantinya.
"Lihat saja, kamu akan menyesal dan memohon-mohon padaku!" kata Jamal geram. Dia menendang udara kosong, meluapkan kekesalan yang sedang dia rasakan saat ini.
"Akan kubuat kamu menyesal jutaan kali, Pipit!" desis pria itu. Karena kelelahan berjalan tanpa tujuan, Jamal duduk di halte yang sudah sangat sepi, mungkin karena ini sudah cukup larut. "Untuk sementara aku akan mengalah dan bertahan seperti ini. Tapi nanti, saat tiba masanya pembalasan, akan kubuat kamu menangis darah. Akan kuperas semuanya, akan kuambil apa pun yang bisa aku ambil dari kamu!" kata Jamal penuh dendam.
__ADS_1
Pagi menjelang, Jamal terbangun dengan perasaan ringan. Sayangnya, badannya terasa pegal di sana-sini. Mungkin itu disebabkan karena dirinya tidur sambil duduk sepanjang malam. Jamal kembali menyeret kopernya, pria itu mencari toilet umum untuk sekedar mencuci wajahnya.
Selesai dengan urusannya, Jamal segera melesat ke apotek. Dia membeli obat yang bisa membuat seseorang tertidur hanya dengan meminumnya. Tentu saja dia beralasan kalau dia beberapa hari ini tak bisa tidur kalau ditanya buat apa dia membeli obat tersebut.
Obat didapat, Jamal segera bertolak ke taman, dia mencari tempat yang sepi dan mulai menumbuk semua obat yang tadi dia beli. Itu dibelinya dengan menggunakan uang lembaran terakhir yang ada di dompetnya. "Ini harus berhasil! Agar aku mendapatkan banyak uang!" kata Jamal dengan mata berkilat licik.
Sisa uang kembalian dia belikan sebungkus roti dan dua minuman botol. Salah satu minuman yang dibelinya, dia campurkan dengan obat yang telah dia haluskan sebelumnya. Matanya berkilat jahat melihat sebotol susu yang sudah tercampur dengan obat tidur. "Hanya seteguk saja, dan kamu akan bermimpi indah, sayang!" kata pria itu terkekeh pelan.
__ADS_1
Jamal berjalan dengan santai, uangnya sudah habis. Hanya tinggal jam tangan dan baju-baju yang dia bawa yang bisa dia jadikan uang kalau rencananya kali ini berakhir dengan kegagalan juga.Tapi dia cukup berharap kalau kali ini dia akan beruntung dan semuanya berakhir sesuai dengan yang dia rencanakan.
Dan di sinilah Jamal berada, di halaman belakang sekolah Laura.Pria itu menyelinap masuk dan berpura-pura sebagai tukang kebun pengganti hari ini. Dia terus menunggu dan mencari keberadaan Laura, gadis itu kunci keberhasilan yang akan menyukseskan rencananya kali ini.