WISH ...

WISH ...
41


__ADS_3

Jamal menggunakan jasa pengacara, pengacara yang dibayar murah dan terlihat bodoh. Dia merasa memilih orang yang tepat, dia dipandang sebagai korban dan orang yang berdiri di sisi yang benar. Sedangkan Pipit malah dianggap stress berat dan menjadi wanita jahat yang keras kepala yang memisahkan anak dan ayahnya untuk bertemu.


Si pengacara bodoh itu bahkan menceritakan apa yang Jamal katakan padanya. Tantang Jamal yang terbujuk tipuan kawannya, tentang kawannya yang malah membawa semua uang dan ponselnya. Tentang dia yang bekerja susah payah untuk mengumpulkan uang dan kembali. Saat kembali, bukannya disambut, Jamal malah diusir dan dihina. Padahal dia tak salah, dia korban di sini.


Pipit tertawa mendengarnya, dia mengatakan kalau wajar saja pengacara itu tertipu dengan ucapan sampah tak berguna yang satu itu. Wanita itu pun permisi sebentar, lalu pergi tanpa menunggu tanggapan dari keduanya.


Jamal menggunakan kesempatan itu untuk membuat pengacara bodohnya semakin percaya kalau dia orang baik. Dia berterimakasih dengan sangat, punggungnya bergetar. Sayangnya itu tak seperti yang dikira si pengacara, punggung itu bergetar bukan karena menangis dalam diam, tapi karena Jamal sedang menahan tawanya. Dia bisa menikmati semua hal yang dia sukai sebentar lagi. Di depan hukum, Pipit tak akan bisa melawan. Dia juga tak punya bukti kalau Jamal berselingkuh dan membawa lari uang, jadi tak ada yang bisa membantah kalau dirinya saat ini korban yang tak berdaya dan hanya ingin bertemu dengan anaknya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Pokoknya anda tenang saja, saya pasti akan membela anda dan membuat anda bisa bertemu dengan anak anda!" ucap si pengacara yang tak tahu kalau dirinya sedang dimanfaatkan oleh Jamal.


"Terima kasih, tak salah saya mempercayakan kasus saya pada anda. Anda begitu hebat, tuan," kata Jamal memuji. "Padahal saya tak bisa membayar anda lebih, tapi anda bekerja begitu keras untuk saya," kata pria itu lagi sembari tersenyum getir.


"Jangan begitu, justru saya yang merasa senang sudah mendapatkan kasus seperti ini untuk tugas pertama saya," katanya membalas.


"Maaf membuat anda menunggu," sela Pipit yang baru saja kembali, di belakang wanita itu ada satu orang pria dan satu orang wanita yang mengikutinya. "Kenalkan, dia pengacara saya," ucap Pipit menunjuk pria di sampingnya. "Dan yang satunya asisten saya," katanya lagi.


"Mari kita lanjutkan pembicaraan kita yang tertunda tadi!" kata wanita itu seraya tersenyum kecil.

__ADS_1


Jamal merasa was-was, dia merasa apa yang dia rencanakan akan dipatahkan lagi oleh kedua orang yang hadir bersama dengan Pipit barusan. Tapi Jamal mengenyahkan pemikiran negatif itu, dia percaya masih ada kesempatan untuk membuat semua yang dia inginkan menjadi nyata.


Setelah berbincang beberapa waktu, pengacara Pipit menyerahkan lembaran kertas yang bertumpuk-tumpuk cukup tinggi. "Anda bisa membacanya sendiri, ini semua bukti kalau klien anda melakukan penggelapan dan lari tanpa tanggung jawab. Baik pada uang yang dia bawa lari mau pun pada Bu Pipit, klien saya," kata pengacara Pipit dengan wajah serius.


"Dan harus anda tahu, semua uang itu milik bos saya. Jadi, bos saya bisa menuntut klien anda saat ini juga kalau beliau mau!" kata asisten Pipit menambahkan.


"Tapi, tapi ..., saya tak tahu ada hal seperti ini," kata pengacara yang dibayar Jamal. Dia menatap tak percaya ke arah bukti-bukti yang baru saja dia baca. Begitu banyak deretan kejahatan yang kliennya lakukan. Rupanya dia dibohongi dan diberikan cerita palsu.


"Itu semua tak benar! Bisa saja mereka mengada-ada semua bukti itu. Saya tak pernah melakukan hal gila seperti itu, saya bersumpah!" kata Jamal kekeuh. Dia berharap pengacaranya terus bodoh sehingga dia lebih mudah memanipulasi otak pria itu agar terus mempercayainya.


"Selamat, anda sudah tertipu oleh sampah yang setiap membuka mulutnya hanya kotoran yang terdengar dan ke luar dari sana!" ucap Pipit sembari tersenyum tipis.


"Tak apa, yang penting sekarang anda sudah tahu," kata Pipit menimpali.


"Hei, hei, anda tak boleh percaya begitu saja pada mereka. Hanya anda satu-satunya yang bisa menolong saya!" kata Jamal berkeringat dingin. Uang yang dia simpan hanya tersisa sedikit, apa jadinya kalau pengacara bodohnya ini juga memilih untuk meninggalkannya.


"Maaf, Tuan Jamal. Saya terpaksa mengundurkan diri, saya tak bisa melanjutkannya," kata si pengacara tegas.


"Anda sudah menerima bayaran dari saya!" ucap Jamal dengan nada panik. "Anda tak bis berhenti di tengah jalan seperti ini!" katanya lagi.

__ADS_1


"Akan saya kembalikan semua biaya yang telah anda bayarkan," balas si pengacara terlihat tak suka saat diungkit soal bayaran. Dia merasa seakan dirinya dicap satu level dengan kliennya. Menerima uang tapi tak bertanggung jawab sama sekali.


"Saya tak butuh hal itu, saya tak ingin meminta kembali uang saya. Yang saya inginkan jasa anda agar saya bisa mendapatkan hak saya seperti yang anda janjikan beberapa saat yang lalu!" kata Jamal dengan nada suara cukup tinggi. Dia marah, tak ada yang berjalan sesuai keinginannya.


"Saya tak bisa, maaf," kata si pengacara tetap pada pendiriannya. Dia memang menjanjikan hal itu, tapi itu semua sebelum dia tahu kalau kliennya merupakan baj*ngan yang tak bisa tertolong lagi. Selingkuh, membawa kabur uang, dan menuntut untuk kembali saat uangnya sudah habis. Astaga, lebih baik dia tak mendapatkan kasus pertama kalau tahu hal seperti ini akan terjadi. Tadinya dia sudah senang, tapi sekarang dirinya merasa gagal dan tak berguna sama sekali. Apa lagi dengan mudahnya dia ditipu, hanya bermodal cerita yang menyentuh dan membuat dirinya bersimpati. Dia sungguh kesal dengan sirinya sendiri saat ini.


"Aku tak butuh kata maaf kamu!" teriak Jamal emosi. "Kamu hanya harus melanjutkan tuntutan yang akan kamu lakukan sebelumnya!" lanjut pria itu memaksa.


"Sudah selesai pentas dramanya?" sela Pipit santai. "Tolong jangan berteriak di ruangan saya, suara anda terdengar sangat memuakkan!" kata wanita itu lagi.


"Ini semua gara-gara siapa?" pekik Jamal kesal. "Ini gara-gara wanita tak tahu diri macam kamu!" tunjuk Jamal menatap murka ke arah Pipit.


"Bukan urusanku kalau anda merasa kesal, ingat saja kalau ini semua adalah hasil yang anda taburkan," balas Pipit acuh.


"Kenapa kamu tak bisa menerima aku kembali dengan tangan terbuka, hah?" desak Jamal yang sepertinya urat malunya sudah menghilang semua.


"Ha-ha-ha, siapa yang mau menerima sampah dengan tangan terbuka, hmm?" tukas Pipit tertawa keras. Wajah Jamal merah padam, dia kesal, ingin rasanya dia menghancurkan semua yang ada di sini. Tapi dia cukup punya otak untuk menahan diri.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2