WISH ...

WISH ...
44


__ADS_3

Pipit pergi menemui pengacara yang Jamal sewa, sedangkan pengacaranya sendiri berurusan dengan Jamal di ruangannya. Pria itu begitu bisa diandalkan, dia mendapatkan tanda tangan Jamal di atas surat perjanjian yang menyatakan kalau Jamal tak akan pernah muncul lagi di depan Pipit dan juga Laura. Laura juga akan menjauh dari keduanya dan tinggal di kota lain.


Selesai mendapatkan tanda tangan Jamal dengan berbagai cara dan ancaman yang tak terdengar seperti ancaman. Jamal diseret dan akan dibawa ke tempat yang katanya akan cocok dengan dia. Jamal memberontak, berteriak, dan terus bertanya akan kemana mereka membawa dirinya. Tapi tak ada yang peduli, tak ada yang mendengarkan suaranya. Seolah dia tak ada di sini dan berteriak saat ini, semua tak ada yang melihat ke arahnya sama sekali. Padahal banyak anak buah Pipit yang bekerja di ruangan yang dia lewati sekarang, tapi mereka semua tetap mengerjakan pekerjaannya tanpa sedikit pun melirik ke arah Jamal.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di sisi lain, di ruangan sebelah, Pipit masuk begitu saja lalu duduk dengan santainya di sembarang tempat. "Saya hanya akan bertanya sekali saja," kata wanita itu mengawali percakapan.


"Saya akan meminta maaf dan membuat pernyataan kalua itu yang anda inginkan, bu," kata si pengacara menyesal.


"Lupakan soal itu, bukan itu yang menjadi alasan anda berada di sini sekarang," kata Pipit menimpali.


"Lalu?" tanya si pengacara si pengacara merasa heran, kalau dia tak disuruh meminta maaf, buat apa dia ditahan dan tak diizinkan pulang tadi.


"Santai saja, saya di sini hanya ingin menawarkan kerja sama," kata Pipit menjelaskan.


"Kerja sama yang seperti apa, nyonya?" tanyanya hati-hati.


"Bekerjalah untuk saya, saya butuh orang seperti anda," kata Pipit menawarkan pekerjaan.


"Saya tak pantas nyonya, saya banyak kekurangan. Anda bisa melihat sendiri tadi, saya bahkan tertipu dan hanya mendengarkan cerita sepihak saja. Jadi, tak mungkin anda membutuhkan orang seperti saya," balasnya sadar diri.


"Yah, saya juga tak akan memaksa dan tak pernah suka memaksa. Jika anda menolak, itu keputusan anda. Tapi, mata saya tak pernah salah dalam melihat potensi seseorang. Dan saya merasa anda akan banyak membantu saya di masa depan," ucap Pipit dengan sungguh-sungguh. "Tapi semua terserah anda," katanya seraya tersenyum tipis.


"Bisakah anda memberikan saya waktu untuk berpikir, nyonya?" tanya pria itu. Dia sungguh ingin mengambil kesempatan yang datang padanya, tapi dia tahu apa dia bisa, dia yang banyak kekurangan dan selalu mengutamakan perasaan. Tak mungkin bisa cocok bekerja di perusahaan sebesar ini. Jangankan menjadi bantuan, sudah syukur kalau dia tak mengacau saat bekerja.


"Tentu, saya menunggu kabar baik dari anda," kata Pipit setuju. "Antarkan, tuan ..., emm?" Pipit melirik si pengacara, dia selama ini tak tahu siapa nama pria di depannya ini. Apa karena mantan busuknya itu dia jadi malas mengetahui nama orang-orang yang berada di sekitar pria itu.


"Nama saya Johan, nyonya," katanya sedikit malu. Mereka sudah banyak berdebat, tapi dia malah lupa memperkenalkan namanya sejak awal.


Pipit mengangguk singkat. "Antarkan Tuan Johan kembali," katanya seraya bangkit dari duduknya. Dia harus segera kembali ke ruangannya, semoga saja masalah di sana sudah selesai.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


"Bos, saya akan melaporkan apa yang terjadi barusan!" kata asisten Pipit yang sepertinya sudah menunggu kedatangan atasannya sejak tadi.


"Lanjutkan!" balas Pipit sambil membuka-buka dokumen yang menumpuk di atas mejanya.


"Tuan Jamal memilih untuk menjauh dan sudah menandatangani surat pernyataan. Kalau beliau melanggar, akan ada konsekuensi hukum berat yang menanti," katanya melaporkan secara singkat.


"Bagus," balas Pipit sedikit bernapas dengan lega. Meski wanita itu berpikir akan lebih baik kalau Jamal bisa menghilang untuk selamanya dan tak akan pernah muncul lagi. Tentu saja, dia tak berniat menyumpahi. Itu hanya keinginan dari dalam hatinya saja.


"Batalkan semua jadwal soreku, aku ingin pulang lebih awal," kata Pipit memerintah.


"Tapi ada pertemuan penting nanti sore, bos," ucap si asisten mengingatkan.


"Batalkan!" timpal Pipit bersikeras. "Sepenting apa pun itu, tak lebih penting dari pada anakku!" katanya menambahkan.


"Baik, bos!" si asisten segera melakukan perintah majikannya, memberitahukan pihak lain bahwa pertemuannya akan ditunda dan dipindahkan ke lain hari.


Di sinilah Pipit berada, di depan sekolah anaknya. Menunggu di dalam mobil sambil menikmati alunan lagu yang sengaja dia putar melalui ponselnya.


"Ayo kita pergi," tukas Pipit segera setelah anaknya duduk di sebelahnya.


"Bisakah kita pergi ke toko buku sebentar, ma?" tanya Laura sedikit ragu.


"Tentu, mari lakukan apa yang gadisku inginkan!" timpal Pipit setuju. Ini juga salah satu cara untuk menebus kesalahannya.


Keduanya terlihat akrab, Laura juga lebih ekspresif meski hanya sedikit. Tapi bukankah itu awal yang bagus untuk gadis berwajah dingin ini.


Di sisi lain, Jamal dikawal oleh empat orang pria. Pria sampah itu akan diantar ke tempat yang sangat-sangat jauh dari kota ini. Jamal mengira dia bisa melarikan diri, rupanya dia dikawal dan akan diikuti oleh mereka selama sisa hidupnya. Lalu apa yang bisa dia lakukan, apa dia harus menyerah untuk menikmati semua harta istrinya. Jawabannya tentu saja tidak. "Ada apa?" tanya salah seorang pria yang mengiringi Jamal.


"Saya mau ke toilet," kata Jamal dengan nada sopan.


"Apa tak bisa ditahan sampai di pesawat saja?" dengus yang lain.


"Saya tak yakin," balas Jamal dengan ekspresi wajah dibuat-buat.

__ADS_1


"Kalian berdua, temani dia!" kata seseorang memerintah, sepertinya dia lebih senior dari pada yang lain.


"Ck, ayo cepat!" katanya memasang tampang tak suka.


"Jangan lama-lama!" kata yang lain memperingatkan.


"Akan saya usahakan!" kata Jamal menyembunyikan seringai liciknya. Bodohnya, dua orang yang mengikuti Jamal hanya menunggu di depan pintu. Itu memberi Jamal kesempatan untuk menggunakan otak liciknya merencanakan sesuatu.


"Masa bodoh dengan perjanjian, aku hanya tak boleh ketahuan!" kekeh pria itu mengganti bajunya serta memakai topi dan kacamata. Dia keluar dari toilet, berjalan dengan santai melewati kedua orang yang sepertinya terkecoh dengan penyamarannya. "Sempurna," gumam pria itu bergegas ke luar dari bandara.


Kedua orang yang menunggu terlalu lama menjadi tak sabar, mereka masuk ke dalam dan memeriksa semua bilik. Hanya ada tas ransel yang tertinggal di salah satu bilik tersebut. "Kurang ajar!" desis salah satu dari mereka kesal.


"Baj*ngan itu melarikan diri!" kata yang lainnya melaporkan melalui telepon genggamnya.


Mereka berkumpul dan mulai melakukan pengejaran. Dua di antara mereka meminta izin untuk mengakses kamera cctv, agar mereka lebih mudah menemukan Jamal yang sedang menyamar.


Tak berapa lama, terlihat oleh mereka Jamal yang sedang menyamar. "Ketemu!" katanya menunjuk ke layar.


"Mohon bantuan, kejar orang ini. Dia penjahat yang sangat licik!" kata yang lain. Hanya ada satu di pikirannya, yaitu cara tercepat mengejar Jamal yang berniat melarikan diri dan bersembunyi.


Pengejaran terjadi, Jamal mengumpat saat melihat kalau banyak orang berhambur dari arah bandara. "S*al, apa aku ketahuan secepat itu?" katanya mengumpat. Dia mempercepat larinya.


"Itu di sana!" teriak salah satu dari orang-orang tersebut. Terjadilah adegan kejar-kejaran. Jamal terus berlari dan sesekali melihat ke belakang, memastikan seberapa jauh jarak di antara mereka. Terlalu panik, Jamal tak fokus melihat arus kendaraan. Pria itu diserempet oleh mobil, belum berakhir di situ, dia ditabrak truk yang melintas.


Jamal terkapar, tubuhnya banyak mengeluarkan darah. Segera saja dia dilarikan ke rumah sakit. Namun, seolah ini akhir yang sudah tertulis untuk Jamal. Pria itu meninggal dalam perjalanan.


Pipit yang mendengar kabar itu tak tahu harus berkata apa, dia tak merasakan apa pun. Tapi dia sekilas mengingat apa yang dia inginkan saat mendengar Jamal memilih untuk menjauh dari mereka. Apa artinya Tuhan mengabulkan apa yang dia inginkan. Tapi mengapa, dia bukan hamba yang taat, dia juga banyak melakukan kesalahan dan pengabaian. Apa keinginannya bis dikabulkan meski dia banyak berbuat salah pada anaknya. Berpikir tak akan membuatnya mengetahui apa pun, itu semua rahasia yang Tuhan miliki.


Kini Pipit dan Laura akan hidup bahagia tanpa adanya gangguan dari sampah yang tak tahu malu dan licik seperti Jamal. Pipit berjanji akan bersikap sangat baik dan memanjakan anaknya sebagaimana mestinya. Dia tak akan lagi bersikap egois, tak akan lagi memaksakan anaknya mendapatkan nilai terbaik. Pipit akan puas dengan berapa pun nilai akademi yang anaknya dapatkan di sekolah. Dia hanya ingin menjalani hari yang bahagia bersama sang anak untuk selamanya..


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2