WISH ...

WISH ...
25


__ADS_3

Jamal memutar otaknya mencari rencana yang terbaik di antara semua rencana yang dibangun oleh otaknya. Pria itu terus bergumam dan berbisik pada dirinya sendiri, hingga akhirnya dia jatuh tertidur. Yah, siapa yang tahu kalau memeras otak sangat melelahkan seperti itu.


Di sisi lain, pagi ini Pipit mengharapkan anaknya untuk menjadi yang terbaik. Mendapatkan nilai sangat sempurna dan menutup mulut-mulut orang yang selalu nyinyir kepada mereka berdua . Laura mengatakan akan berusaha, dia terlihat sangat ingin mengabulkan apa saja yang ibunya inginkan. Dia tak ingin melihat wajah kecewa ibunya lagi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Ra, ke kantin, yuk," ajak Zahrah yang baru saja datang. "Aku lupa sarapan tadi, he-he," kata gadis itu lagi.


"Maaf, aku mau belajar, aku gak bisa temanin kamu ke kantin," balas Laura.


"Gak perlu mimta maaf lagi, gak apa-apa. Santai aja, Ra. Aku bisa pergi ke sana sendiri, kok. Semangat belajarnya!" tukas Zahrah seraya melambaikan tangan.


Laura balas melambai meski singkat, gadis itu kembali membaca buku yang ada di tangannya. Sebentar lagi akan ada ujian yang dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana para siswa memahami pelajaran. Dan ibunya Laura menginginkan anaknya mendapat nilai tertinggi di antara semua murid yang ada di sekolah. Laura pun tak ada niat untuk mengecewakan sang ibu, makanya dia terus belajar meski kata orang dia sudah tak perlu membuka buku. Dia hanya tinggal menjawab dan nilai yang bagus akan keluar dengan sendirinya sebagai hasil. Tapi Laura tetap saja belajar, dia yakin semakin dia belajar, semakin banyak yang dia ketahui dan pahami, dan semakin mudah juga dia mengisi semua soal yang diberikan nantinya.


Tak terasa jam istirahat tiba, ulangan yang diadakan juga telah selesai. Banyak dari mereka yang berjalan tanpa semangat, mungkin karena mereka menguras otak untuk menjawab soalan yang diberikan.


"Ha-ah, otakku sekarat," keluh Rani tak bertenaga. Gadis itu menyeret langkahnya dengan paksa menuju kantin. "Kapan hal ini berakhir?" katanya dengan nada memelas dan putus asa.


"Huh, kamu gak liat kepala aku rasanya seperti keluar asap?" timpal Windy mendengus kesal mendengar keluhan kawannya itu, seakan hanya dia yang menderita sendirian. Padahal mereka semua mengerjakan soal yang sama.


"Kurasa nyawaku setengah melayang tadi," kata Zahrah yang berjalan sambil memegangi tembok, takut-takut kalau dia jatuh nantinya karena terlalu pusing menguras otaknya untuk berpikir.


Laura yang sejak tadi diam tanpa menimpali menjadi sasaran dari tatapan mereka bertiga. "Apa?" tanya Laura yang merasakan tatapan dari Zahrah, Rani, dan Windy.

__ADS_1


"Ra, bisa gak kamu sumbangkan sedikit aja otak kamu ke aku kalau kita lagi ujian kayak tadi?" oceh Zahrah asal.


"Memang bisa?" tanggap Laura dengan serius.


"Aku hanya asal bicara, Ra. Jangan ditanggapi seserius itu juga kali," kekeh Zahrah merasa lebih baik karena melihat respon Laura barusan. Dia merasa kawannya yang satu ini terlalu polos dan naif, percaya saja dengan apa yang dia katakan.


"Pfft, memang asik kalau bercanda dengan Laura. Tanggapan yang diberikan selalu serius tapi juga terlihat lucu," timpal Rani menahan tawanya.


"Yah, cukup untuk mengembalikan semangat aku yang tadinya ilang gara-gara kebanyakan ngerjain soal," tambah Windy.


Laura diam saja, dia hanya mendengarkan. Dia sedikit bersyukur ketiga temannya terlihat lebih baik dari pada tadi sekarang. Mereka pun memilih menghabiskan waktu di kantin hingga bel kembali berbunyi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Oh, tadi wali kelas bilang kalau jemputan aku sedikit terlambat karena ada kemacetan, kan?" gumam Laura mengingat ucapan wali kelasnya saat dia akan pulang.


Bisa saja Laura mengadukan hal ini pada ibunya, supir mereka itu terlalu sering terlambat menjemput dirinya. Padahal sang ibu sudah mengatakan untuk menjemput setengah jam sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Tapi hasilnya, tetap saja sama. Gadis itu terlalu sering menunggu jemputan yang terlambat datang. Dalam seminggu, Laura bisa menunggu sebanyak tiga atau empat hari. Sisa harinya baru jemputannya datang tepat waktu dan mematuhi perintah ibunya.


"Hai, nak," sebuah suara mengejutkan Laura yang sedang berdiri menunggu supirnya datang. Gadis itu menoleh dan mendapati Jamal berdiri tak jauh dari dirinya. "Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya pria itu lagi disertai senyuman hangat.


"Baik," balas Laura singkat memutus kemungkinan untuk mengobrol lebih panjang.


"Apa itu?" tanya Jamal seraya mencuri lirik kertas yang sedang dipegang oleh Laura.

__ADS_1


"Kertas," balas Laura datar.


"Undangan?" tanya Jamal mulai tak sabar. Anaknya ini terlalu datar dan kaku, tak manis seperti anak lainnya.


"Bukan," balas Laura. "Ulangan," tambah gadis itu.


"Wow, boleh pria tua ini melihat nilai yang didapat anak gadisnya?" tukas Jamal merasa ini cara yang diberikan untuk mulai mengambil kepercayaan Laura sedikit demi sedikit.


"Ya," kata Laura tak peduli. Dia menyerahkan kertas yang tadi dia pegang.


"Astaga, ternyata kamu sangat-sangat pintar," puji Jamal seolah berkata dengan tulus. "Sungguh pria tua ini ingin meneriakkan bahwa anaknya sangat jenius, tapi sayangnya pria tua ini sudah tak memiliki hak untuk melakukan itu," tambah Jamal bersemangat di awal, tapi langsung putus asa begitu sadar dengan keadaannya. Dia melirik diam-diam ke arah sang anak, ingin melihat ekspresi apa yang dipasang sang anak. Jamal berharap anaknya sedikit tersentuh dan mau percaya padanya meski hanya sedikit, jadi dia bisa menjalankan rencananya dengan lebih kuasa.


"Tak sepintar itu sampai disebut jenius!" tukas Laura dingin.


"Tidak, tidak. Ini nilai sempurna, kalau bukan jenius, lalu apa namanya?" timpal Jamal terlihat bersungguh-sungguh dan yakin dengan apa yang dia katakan. Tentu saja semua perkataan manis itu hanya untuk membuat kewaspadaan Laura menurun. Walau nilai yang didapat buruk pun, Jamal pasti akan bersikap seolah itu bukan apa-apa. Hidup tak bergantung pada nilai yang didapatkan. Tapi begini juga lebih bagus, dia bisa memuji dan mengambil hati Laura di saat yang bersamaan menggunakan sedikit pujian karena sang anak mendapat nilai yang tinggi.


Laura terdiam sejenak, tangan gadis itu terulur pelan. "Terima kasih," kata gadis itu. "Bisa kembalikan sekarang?" tukas Laura meminta kembali kertas ulangannya.


"Ha-ha-ha, tentu saja. Tentu!" timpal Jamal yang cukup puas mendapatkan kata terima kasih dari bocah di depannya ini. Sedikit demi sedikit, dia akan mengambil hati anaknya dan mengunakan sang anak untuk bisa kembali ke tempatnya semula. Semoga itu tak memakan waktu yang lama.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2