
Sepulang sekolah, Laura mengurung diri di kamar dengan alasan mau langsung istirahat. Nyatanya gadis itu malah belajar dan melewatkan waktu makan meski perutnya terasa perih karena lapar.
Kepala pelayan yang khawatir pun membawakan makanan yang mudah dicerna untuk sang nona. Begitu dia sampai di sana dan nonanya membukakan pintu, si pelayan tanpa sadar segera masuk tanpa permisi karena terkejut melihat wajah pucat nona yang dia layani. Wanita itu bahkan sedikit meninggikan suaranya, wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran yang sangat pada Laura.
"Apa nona tak istirahat?" tanya wanita itu. "Padahal tadi nona bilang ingin langsung ke kamar untuk istirahat?" lanjut wanita itu. "Kenapa malah belajar, nona?" tambahnya lagi.
"Saya tak bisa tidur, bi," balas Laura beralasan.
Si bibi pelayan menatap khawatir nona kecilnya itu. "Kalau begitu sekarang nona istirahat sebentar sambil memakan makanan yang bibi bawakan, ya," kata wanita paruh baya itu membujuk.
Laura mengangguk patuh, tak tega untuk menolak. Gadis itu menutup buku yang tadi dia baca dan segera menyantap makanan yang dibawakan untuk dirinya.
"Anda bisa makan pelan-pelan, nona," kata si bibi khawatir kalau pencernaan nonanya terganggu karena makan terlalu cepat. Laura mendongak sebentar, kemudian melanjutkan makannya, tapi lebih pelan dari sebelumnya.
"Sembari menemani nona makan, izinkan wanita tua ini bercerita tentang apa yang sangat saya inginkan dari dulu, nona," kata si bibi di tengah-tengah Laura sedang menikmati makanannya.
Laura mengangguk pelan, mempersilakan sang bibi pelayan bercerita tentang apa saja yang dia inginkan. Pelayan itu pun tersenyum kecil sebelum mulai bercerita. "Hmm, mari kita mulai dengan kisah masa kecil saya yang bisa dibilang penuh dengan warna walau sedikit terbilang susah," katanya memulai.
"Apa anda sudah tahu kalau saya anak pertama dan memiliki banyak adik yang harus saya jaga ketika orang tua saya sedang bekerja?" Laura mengangguk, dia memang pernah mendengar tentang itu sebelumnya.
__ADS_1
"Tak mudah bagi saya menjaga mereka semua, terlebih tak ada yang mau mendengarkan saya. Maklum saja, adik-adik saya bisa dikatakan cukup nakal dan jahil untuk anak seusia mereka dulu," kata wanita paruh baya itu mengenang masa lalu.
"Saat saya membuka buku, buku pelajaran saya sudah penuh dengan coretan pensil warna. Saat waktunya tidur siang, ada saja yang membuat berbagai alasan karena masih ingin bermain. Dan ketika waktunya bermain, mereka semua malah sibuk berlarian. Saya sangat kelelahan mencari mereka satu-persatu waktu itu." senyum tipis terlukis, jelas itu bukan wajah yang menampakkan ketidaksukaan. Justru sebaliknya, itu seperti kenangan yang berharga yang tak akan bisa tergantikan dengan apa pun.
"Lalu, saat ayah saya pergi meninggalkan keluarga kami untuk selamanya. Waktu saya bersama adik saya berkurang sangat banyak, bahkan untuk membacakan dongeng saja saya tak bisa." cerita itu terus meluncur dengan lancar, menemani Laura yang masih menyantap makanannya.
"Bagaimana pun sebagai anak pertama, saya harus membantu ibu saya mencari nafkah. Dan kebetulan saya diterima bekerja di sini. Saya sungguh bersyukur bisa bekerja di sini hingga saat ini, saya bisa membiayai adik-adik saya bersekolah, hingga mereka tak harus menjadi pembantu seperti saya," kata wanita itu tersenyum dengan tulus.
"Oh, bukan maksud saya mengatakan kalau menjadi pembantu itu buruk, nona. Saya hanya ingin adik-adik saya menjalani kehidupan yang lebih baik dari pada saya," katanya lagi meralat dengan cepat. Laura hanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Mengapa bibi masih bekerja?" tanya Laura setelah dia selesai menghabiskan makanannya.
"Tentu saja agar saya bisa melihat nona yang manis ini tumbuh dewasa!" ucap si bibi membalas seraya mengelus pelan wajah Laura.
"He-he, bohong kalau bibi berkata tidak. Tapi bibi cukup keras kepala karena selalu berhadapan dengan mereka dulu. Jadi sekarang giliran mereka yang mengalah, mereka hanya menyuruh bibi beristirahat kalau sudah sangat lelah. Mereka bisa menghidupi bibi sekarang, begitu kata mereka," ujar si bibi menjelaskan.
"Mereka tak sedih?" tanya Laura lagi.
"Tentu saja mereka sedih, tapi mereka menyerah karena bibi bersikeras tetap bekerja dan terus berada di samping nona!" balas si bibi.
__ADS_1
"Apa nona bisa menebak, mana bagian sulitnya dan mana kenangan indahnya dari cerita bibi tadi?" giliran si bibi bertanya dengan pelan.
"Bibi yang menjaga adik-adik bibi bisa dibilang kerepotan tapi terlihat cukup bahagia. Bibi yang bekerja keras, terlihat kesusahan, tetapi bibi tulus menjalani untuk membantu keluarga. Dan bibi yang terus disuruh berhenti tapi menolak karena terus si sisi saya ..., mungkin itu bagian tersulitnya," kata Laura menebak.
Si bibi tersenyum kecil, mengusak rambut Nina majikannya dengan penuh kelembutan. "Benar!" kata si bibi cepat. "Sekilas saya terlihat mengeluh, tapi saya menjalani semuanya dengan sungguh-sungguh. Lagi pula saya juga banyak tertawa bersama dengan mereka, jadi tak merasa kesulitan sama sekali. Tapi, saat saya harus memilih mengikuti keinginan adik-adik saya atau kekeraskepalaan saya, itu yang membuat saya kesulitan. Hingga saya mengikuti apa yang hati saya sangat inginkan, yaitu terus melihat nona bertumbuh dan menjadi wanita cantik serta bahagia!" kata si bibi menatap jauh ke depan dengan penuh pengharapan. Wanita paruh baya itu berharap nonanya akan sangat-sangat bahagia di masa depan, dan semoga saja dia bisa melihat itu dengan mata kepalanya sendiri nanti.
"Bahagia?" gumam Laura lirih. Bukannya dia tak tahu arti dari kata bahagia, hanya saja dia bingung apa dia bisa merasa bahagia. Padahal dia sendiri tak tahu apa yang hatinya inginkan. Selama ini dia selalu menuruti keinginan ibunya, jadi hatinya seolah membeku dan tak berfungsi lagi.
"Ya, nona. Bahagia!" kata si bibi menggenggam hangat tangan Laura. "Satu tindakan atau hal kecil yang bisa membuat nona tersenyum bahagia dari lubuk hati nona!" lanjut wanita itu.
Laura mengangguk kaku. "Mungkin kalau mama bahagia, baru saya bisa ikut bahagia," timpal Laura dengan nada pelan.
"Saya rasa nyonya sudah teramat bahagia memiliki anak yang sangat rajin dan penurut seperti anda, nona," kata si bibi penuh keyakinan.
Laura melepas genggaman tangan si bibi, dia kembali membaca bukunya lagi. "Belum! Masih belum!" kata gadis itu dengan nada datar. Kembali membangun tembok tinggi yang sulit dihancurkan dari luar.
Si bibi ingin mengatakan sesuatu. Namun, tak jadi. Akhirnya wanita itu pamit untuk kembali ke dapur. "Kalau begitu saya permisi, nona," katanya tak melepas tatapan matanya dari punggung sang nona yang terlihat ringkih. Dia merasa iba, meski Laura tercukupi oleh materi, tetapi gadis itu dituntut untuk lebih cepat dewasa dan keras pada dirinya sendiri.
"Saya harap anda bisa tersenyum bahagia suatu hari nanti, nona!" kata si bibi memanjatkan harapan. Dia sangat berharap nonanya itu bisa tersenyum tulus dan nyonya mereka tak lagi bersikap keras pada nona mereka.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...