WISH ...

WISH ...
9


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu, kini Laura memiliki tempat lain selain kelas, taman, atau perpustakaan untuk belajar. Di manakah itu, tepatnya di kantin sekolah. Dia diseret oleh Zahrah, mereka berbagi makanan. Laura memberikan bekal yang dia bawa, Danyang lain berbagi makanan yang mereka pesan. Sesekali Zahrah dan yang lainnya ikut-ikutan membawa bekal dari rumah. Kalau sudah begitu, mereka akan menghabiskan waktu istirahat di taman sekolah. Ketiganya mengoceh tentang berbagai hal, hanya Laura saja yang terus sibuk dengan buku di tangannya.


"Ra, sekali-kali ikutan ngobrol dong bareng kita-kita," kata Zahrah yang merasa kalau Laura selalu diam selama mereka berkumpul bersama saat istirahat.


"Aku gak ngerti harus ngomongin soal apa," aku Laura jujur kelewat polos.


"Ya, kan kamu bisa tuh menanggapi obrolan kita sesekali," kata Windy menyela.


"Nanti kalian terganggu," kata Laura datar. "Lagian aku gak paham kalian membicarakan apa," katanya lagi.


"Kamu gak paham, tapi kamu dengerin terus gitu?" kata Rani tak percaya. Biasanya kalau orang tak paham, mereka akan bertanya, atau malah pergi karena malas mendengar ocehan yang tak dipahami. Ada ya orang yang seperti Laura, tak paham tapi tetap saja duduk dengan tenang mendengarkan. Apa dia tak mendengarkan dan hanya sibuk dengan dunianya sendiri, yaitu membaca buku yang tebalnya melebihi kamus.


Rani menepuk jidatnya pelan, Windy memutar bola matanya kesal, dan Zahrah tertawa kecil melihat Laura yang mengangguk dengan polosnya tanpa pikir panjang. "Kalau kamu gak paham, kamu bisa memulai percakapan baru, Ra," kata Zahrah memberi masukan.


"Tentang hal yang kamu sukai," timpal Rani mulai menyukai Laura yang sepertinya tak terlalu menjengkelkan seperti yang dia pikirkan selama ini.


"Tapi jangan soal pelajaran atau hal semacamnya," tambah Windy melirik penuh permusuhan buku yang sedang dipegang Laura saat ini. "Aku sudah pusing mengikuti pelajaran di kelas, aku gak mau waktu istirahatku dihabiskan dengan obrolan tentang pelajaran lagi," kata gadis itu. Sepertinya dia sedikit muak menghadapi pelajaran selama ini.


"Kalau begitu aku akan diam dan mendengarkan saja seperti biasa," kata Laura sama sekali tak tersinggung.

__ADS_1


"Jangan begitu," timpal Zahrah dengan cepat. "Aku malah berharap kalau kamu mau ngajarin kita-kita meski sedikit aja selama waktu istirahat," katanya lagi.


"Ya ampun, Zahrah. Aku tadi kan udah bilang gak mau dengar soal pelajaran pas jam rehat, masa kamu malah nyuruh kita belajar, sih?" timpal Windy langsung protes. "Bisa meledak kepala aku, Rah," keluh gadis itu dengan wajah berkerut sedikit kesal.


"Kalau aku sih, setuju-setuju aja," celetuk Rani tiba-tiba. "Yah, siapa tahu nilai aku makin tinggi. Terus papa dan mama aku bakalan seneng pastinya," kata gadis itu lagi. Dengan nilai yang sekarang dia dapatkan saja dia diberi hadiah, apa lagi kalau nilainya lebih tinggi. Mungkin selain bisa membuat orang tuanya bangga, dia akan mendapatkan hadiah lebih banyak lagi kan.


"Nah, itu maksud aku!" kata Zahrah. "Dua lawan satu. Suara terbanyak yang menang, Win!" kata gadis itu menatap geli wajah temannya yang semakin tertekuk kesal.


Windy mendengus keras, mengangguk walau tak suka. Apa yang dikatakan kedua temannya ada benarnya. Tak ada salahnya belajar lebih banyak, dia juga yang mendapatkan hasilnya. Yah, meski mungkin dia akan sakit kepala karena banyaknya pelajaran yang dia bebankan pada otaknya yang teramat sedikit kapasitasnya.


"Kamu bisa kan, Ra?" tanya Zahrah menatap penuh harap pada kawannya itu.


Laura mengangguk santai, tentu saja dengan tampang datar andalannya. "Akan kulakukan kalau kalian mau," katanya menanggapi. "Mungkin belajar bersama lebih menyenangkan dari pada belajar sendirian," gumam gadis itu pelan pada dirinya sendiri.


Laura mengangguk pelan, bibirnya membentuk garis melengkung yang sangat-sangat tipis. "Kamu tersenyum?" kata Rani heboh. "Barusan kamu senyum, kan?" tanya gadis itu lagi memastikan kalau dia tak salah lihat. "Astaga, astaga, pertanda apa ini? Apa bakalan ada hujan badai? Atau keberuntungan berlimpah yang bertebaran?" katanya dengan heboh.


"Seriusan? Mana? Ah, aku gak liat," kata Zahrah kecewa.


"Lebay, kayak gak pernah liat orang senyum aja!" dengus Windy ketus.

__ADS_1


"Yang ada di depan kita sekarang itu Laura, Win. Laura!" Rani mengguncang tubuh Windy dan heboh sendiri. "Ini hal langka yang hanya terjadi beribu tahun sekali, Win!" katanya lagi tak kalah heboh dan berlebihan. "Harusnya ini diabadikan, diabadikan!" pekik Rani. Zahrah mengangguk setuju dengan ucapan temannya itu.


Windy menepis tangan temannya yang sejak tadi mengguncang tubuhnya. "Ngomong, ya ngomong aja. Gak usah pakai acara guncang-guncang badan aku, dong!" ketus Windy. "Terus apa tadi? Beribu tahun sekali? Hello, umur kita aja baru lima belasan. Pakai nyebut ribuan tahun, ribuan tahun segala!" dengus Windy yang merasa kalau temannya itu terlalu berlebihan.


"Itukan cuma kiasan, Win," balas Rani ikutan mendengus pelan. Kawannya ini memang tak paham artinya kiasan kali ya.


Ketiganya saling menatap, lalu tertawa bersama. Laura memperhatikan dari samping, sedikit bingung apa alasan ketiga teman sekelasnya ini tiba-tiba tertawa bersama. Dia tak paham dengan segala hal yang berhubungan dengan persahabatan seperti yang dilihatnya sekarang. Apa ini juga salah satu hal yang bisa dia pelajari, mungkin saja itu akan berguna untuknya dan bisa membuat ibunya semakin bangga padanya kalau dia menguasai semua hal tanpa disuruh.


"Ngomong-ngomong, Ra. Aku mau nanya, boleh kan?" ucap Zahrah setelah selesai tertawa bersama kedua kawannya.


"Kamu sudah bertanya barusan," timpal Laura dengan nada datar.


"Yang itu nanya untuk izin, Ra. Hadeh," keluh Windy gregetan. Sebenarnya Laura itu tinggal di bagian bumi sebelah mana sih, kok iya semua serba lurus dan seperti di luar nalar aja. Lihat, lagi-lagi teman sekelasnya itu mengangguk seolah paham. Tapi setelah itu, tetap saja sama akhirnya. Mereka seperti makhluk yang berbeda dunia tapi sedang berbicara dan bertukar pendapat. Lucu sih, tapi lebih banyak ngeselinnya dari pada lucunya.


"Ehem, aku cuma mau nanya, kalau di rumah kamu ngapain aja? Makan apa? Tidur jam berapa? Dan hal-hal kecil apa yang paling sering kamu lakuin?" tanya Zahrah ingin tahu.


"Nanyanya banyak amat, Rah. Naksir, ya?" celetuk Rani bercanda.


"Idih, sembarangan!" ketus Zahrah tak terima. "Aku kan nanya siapa tahu kita bisa ngikutin tuh, ya kan siapa tahu aja kita bisa lebih cepat menangkap pelajaran kalau udah biasa ngelakuin hal yang sama kayak Laura," kelas Zahrah masuk akal. Kedua kawannya mengangguk paham, kemudian menatap lurus dengan tatapan ingin tahu ke arah Laura.

__ADS_1


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2