WISH ...

WISH ...
17


__ADS_3

Jamal yang merasa kesal, semakin bertambah kesal karena dia didatangi oleh pegawai tempat dirinya menginap. Padahal dia bukannya akan melarikan diri, dia hanya belum membayar penuh biaya selama dia tinggal di sini. Pria itu membanting pintu kamar setelah dia menyelesaikan pembayaran, dia bahkan tak mau repot-repot dan membuang waktu dengan basa-basi yang menurutnya tak penting.


Pria itu memutar ulang otaknya, mencari kesalahan apa yang dia lakukan dalam percakapan singkatnya dengan sang anak tadi. Hingga kesimpulannya, semua kekasaran sang anak adalah hasil dari didikan Pipit yang tak becus menjadi seorang ibu.


Harusnya malam ini dia sudah kembali ke rumah besar itu, harusnya dia menjadi tuan di sana dan memiliki kuasa yang tinggi. Pipit juga harusnya menerima dirinya dengan tangan terbuka. Yang dia lakukan tak salah, dia hanya bosan dan bermain-main untuk sementara. Rumah pasti menjadi tujuan akhirnya. Jamal hanya tak mau mengakui saja, kalau sebenarnya dia suka kehidupan yang baru-baru ini dia jalani. Dia bebas, dia merasa seperti raja yang bisa melakukan apa saja. Dia tak akan kembali kalau seandainya dirinya tak dikhianati dan bisnisnya berjalan dengan baik.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Semua kacau hanya karena satu anak yang tidak bertindak sesuai dengan keinginanku!" desis pria itu semakin kesal. Uang yang dia bawa semakin menipis, setiap menitnya dan semua yang dia lakukan membutuhkan uang. Besok dia harus membayar lagi, belum lagi untuk makan dan hal lainnya. Hidup yang indah ini tak akan berarti tanpa melihat keindahan nyata dari dunia malam .Dan tentu saja, itu membutuhkan lebih banyak pengeluaran untuk dilakukan.


"Yah, tapi bukan berarti sepenuhnya gagal juga sih," ucap Jamal seraya menyeringai kecil. "Aku jadi mengetahui siapa nama anakku tersayang, he-he-he," lanjut pria itu terkekeh jahat.


"Satu rencana gagal, rencana lainnya akan dilakukan. Aku hanya harus bersabar untuk tak ke luar beberapa hari ini," gumam Jamal meyakinkan dirinya kalau semua baik-baik saja. Pada akhirnya, semua akan berjalan sesuai dengan yang dia harapkan. Setelah itu, uang bukan masalah lagi untuk dirinya.


Untuk menghemat pengeluaran, Jamal hanya memakan roti saja. Tak apa menahan diri beberapa waktu, yang penting ke depannya dia bisa melakukan apa pun yang dia mau lakukan dengan bebas. Setelah dengan terpaksa makan malam hanya dengan roti saja, pria itu cepat-cepat tidur. Dia berencana untuk menemui Pipit besok. Kalau dia tak bisa menemui di rumah, dia bisa mencegat di jalan atau malah langsung datang ke tempat kerja wanita itu saja sekalian.


"Semoga keberuntungan yang lebih besar berpihak kepadaku besok!" kata Jamal sebelum memejamkan matanya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


Matahari pagi menampakkan sinarnya yang lembut dan hangat, Laura sudah bangun sejak tadi, bahkan sebelum matahari muncul di ufuk timur. Setelah selesai mandi dan bersiap, gadis itu membuka buku pelajarannya. Menunggu dan terus belajar hingga waktu sarapan tiba.


Tak jauh berbeda dengan anaknya, Laura. Pipit juga telah memakai pakaian yang sangat rapi. Bedanya, wanita itu membuka dokumen serta mengecek email-nya kembali.


Ibu dan anak itu pun turun ke meja makan. Laura dengan buku di tangannya, dan sang ibu, dengan tab yang sejak tadi menjadi fokusnya.


"Pagi, ma," sapa Laura.


"Pagi, sayang. Ayo kita sarapan," balas Pipit seraya menutup tab-nya.


Laura mengangguk, keduanya pun mulai sarapan. "Kalau pria tak berguna itu mencoba mendekati kamu lagi, teriak saja sekalian. Biar dia ditangkap, Laura," kata si ibu setengah kesal mengingat apa yang anaknya katakan kemarin.


"Bagus," timpal Pipit tersenyum puas. "Kalau kamu sudah selesai, ayo mama antar," tukas wanita itu ketika melihat anaknya telah menyelesaikan sarapannya.


"Nona, ini bekal anda!" tukas si kepala pelayan sedikit berlari mengejar nonanya yang hendak pergi. "Baca pesan yang bibi tulis saat nona sendiri," bisik si bibi saat dia berhasil mendekati sang nona.


Laura mengangguk paham. "Terima kasih, bi," kata gadis itu. "Saya berangkat dulu," lanjut Laura sedikit menundukkan kepalanya.


Setelah mengantarkan Laura ke sekolahnya, Pipit segera memutar kemudi dan bertolak ke kantornya. Dia ada rapat pagi ini, makanya dia sedikit terburu-buru tadi. Tapi meski terburu-buru, Pipit masih sempat-sempatnya mengingatkan Laura untuk tak menghiraukan Jamal kalau-kalau pria itu nekat datang lagi.

__ADS_1


Baru saja Pipit hendak memarkirkan mobilnya, sosok pria yang paling dia benci muncul dengan tiba-tiba di depan mobilnya. "Kita harus bicara, sayang!" kata pria itu tak tahu malu. "Jangan terus menghindar, bagaimana pun kamu harus mendengar penjelasan aku, Pit!" katanya lagi sedikit meninggikan suaranya. Jamal sengaja melakukan itu, semakin banyak yang melihat, Pipit tak akan memiliki pilihan lain selain berbicara dengan dirinya di tempat lain.


Pipit mendesah lelah, dia menarik napas panjang sebelum turun dari mobilnya. "Katakan sekarang, waktu yang kumiliki tak banyak!" kata wanita itu dengan tegas.


Jamal termangu sesaat, apa wanitanya itu pernah terlihat semenarik ini. Mengapa dia baru melihat sisi Pipit yang seperti ini sekarang, saat dia sudah melakukan hal kecil yang membuat istrinya kesal. "Yakin?" tukas Jamal melirik sekitar, mengisyaratkan kalau mereka akan jadi tontonan karyawan lain yang bekerja di kantor yang sama dengan Pipit.


"Kalian bisa pergi, bubar dan kerjakan pekerjaan kalian masing-masing!" titah Pipit dengan nada memerintah. "Hanya keamanan saja yang boleh tinggal di sini!" lanjut wanita itu. Tak sampai beberapa menit, perintah Pipit terlaksana tanpa banyak suara.


Jamal terkekeh pelan. "Hebat, wanitaku rupanya sudah menjadi bos besar. Perintahnya pun didengarkan dan dilaksanakan dengan cepat!" kata pria itu, entah dengan maksud memuji atau menyindir, Pipit juga tak terlalu peduli.


"Jangan buang waktuku dengan perkataan yang penuh dengan omong kosong!" tukas Pipit tegas. "Katakan yang ingin anda sampaikan!" lanjut wanita itu berbicara dengan formal. "Jangan jangan panggil saya dengan panggilan yang menjijikkan lagi!" tambah Pipit menatap tak suka dan penuh permusuhan kepada Jamal.


"Baiklah, baiklah. Aku akan langsung ke intinya!" kata Jamal mengalah. "Biarkan aku kembali, aku ingin menjadi sosok ayah yang baik bagi anak kita, Laura," ucap Jamal seolah dirinya bersungguh-sungguh.


Pipit tersenyum mengejek, hampir saja dia tertawa terbahak-bahak mendengar omong kosong yang tak masuk akal dari si mulut sampah yang tak berguna di depannya ini. "Tak ada yang namanya 'Anak kita', anda harus mengingat itu, tuan!" kata Pipit keras kepala. "Saat anda memilih pergi, anda sudah tak dibutuhkan lagi! Jadi, tolong jaga harga diri anda yang tersisa, itu pun ... kalau masih ada yang tersisa!" tambah Pipit berkomentar cukup pedas.


"Waktu habis! Saya harap saya tak perlu bertemu dengan anda lagi, tuan. Melihat anda, membuat hari saya terasa buruk!" Pipit meninggalkan Jamal yang melotot tajam kepadanya, kalau tak ada keamanan bersama mereka, sudah pasti pria itu akan berteriak dan menggunakan kekerasan agar keinginannya terpenuhi. S*al, apa lagi yang harus dia lakukan agar bisa masuk dan menguasai semuanya seperti dulu lagi.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2