WISH ...

WISH ...
29


__ADS_3

Pipit meminta maaf dengan sangat, dia sadar kalau dia salah, dia ingin berubah meski memerlukan waktu yang mungkin cukup lama. Untuk permulaan, Pipit mengajak Laura kencan di akhir minggu. Di awal Laura menolak, dia mengatakan ada ulangan dan harus belajar. Tapi setelahnya, seperti biasa. Gadis itu mengikuti apa yang ibunya katakan dengan sangat baik.


Laura terlihat sangat imut dan cantik mengenakan pakaian yang ibunya pilihkan, mereka akan mengabiskan sepanjang waktu di luar hari ini. Mulai dari jalan-jalan, makan siang, nonton, menjelajah mencari jajanan pinggir jalan, lalu makan malam, dan menikmati waktu yang tersisa sebelum kembali ke rumah.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Ah, sungguh melelahkan, tapi sangat menyenangkan di waktu yang bersamaan kan, sayang?" tukas Pipit bertanya pada anaknya. Saat ini mereka di perjalanan pulang, Pipit sendiri yang menyetir agar tak ada yang mengganggu waktunya bersama sang anak. Hal kecil yang tak pernah dia lakukan, kini Pipit ingin mengubah semuanya.


Laura menganggukkan kepalanya. "Ya," balas Laura singkat, tak bisa diketahui apa yang sedang gadis itu pikirkan saat ini di otaknya yang kecil itu.


"Mari kita sering-sering melakukan ini, Laura," kata si ibu tak menyerah. Dia sudah bersikap keras selama ini, apa yang tak bisa dia lakukan. Dia bisa menunggu sampai anaknya memperlihatkan rasa senang dan berekspresi dengan bebas.


Lagi dan lagi,.Laura hanya mengangguk mengikuti semua ucapan ibunya. "Terserah mama saja," kata gadis itu. Kalau dilihat sekilas, Laura sangat penurut. Padahal nyatanya gadis itu tak pernah mempunyai pendapat, semua yang dia lakukan hanya mengikuti apa yang ibunya perintahkan. Kalau ibunya menyuruh belajar, dia akan belajar hingga disuruh berhenti. Kalau ibunya ingin jalan-jalan, dia bisa melakukannya dengan baik. Kalau ibunya menyuruh dia tidur, dia akan memejamkan mata meski tak mengantuk. Intinya kehidupan Laura sudah terbiasa disetir oleh sang ibu, makanya anak itu tak pernah mengemukakan pendapatnya sama sekali.


Pipit tersenyum canggung, wanita itu merasa menyesal harus mendengarkan perkataan orang. Harusnya dia tak peduli, harusnya dia lebih memperhatikan anaknya, bukan malah menuntut dalam banyak hal. Hasilnya memang bagus, anaknya begitu penurut, tetapi sang anak seakan tak mempunyai jiwa. Hanya mengikuti apa yang dia katakan, apa yang dia inginkan.


"Mari kita berwisata ke luar kota kapan-kapan," ucap Pipit lagi dengan nada ceria.


"Ya, ma," balas Laura.


Pipit menghela napas pelan, siapa yang ingin dia salahkan. Semua adalah buah yang dia dapatkan dari benih yang dia tanamkan selama ini. Dia akan bersabar dan memperbaiki semua secara perlahan.


"Selamat datang, nyonya, nona," kata pelayan yang menyambut kedatangan kedua majikannya. Ya, Pipit dan Laura baru saja sampai di kediaman mereka.

__ADS_1


"Tolong bawa masuk belanjaan kami," kata Pipit menyerahkan kunci mobilnya.


"Akan saya lakukan, nyonya," balas si pelayan dengan sopan.


Pipit mengajak anaknya masuk, mereka butuh mandi untuk.menyegarkan tubuh. "Siapkan air hangat," titah Pipit yang langsung dilaksanakan oleh pelayannya.


Tak menunggu waktu lama, Laura dan Pipit berendam di kamar mandi mereka masing-masing. Laura hanya berendam sebentar, setelah berpakaian, gadis itu memilih untuk membuka bukunya dan belajar.


"Meski terlambat, aku senang karena aku tersadar dari kesalahan yang aku perbuat," gumam Pipit pada dirinya sendiri. "Mengapa dulu aku begitu egois dan jahat?" tanya wanita itu pada dirinya sendiri.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Selesai mandi dan berpakaian, seorang pelayan menghampiri Pipit. "Apa anda ingin cemilan malam, nyonya?" tanya pelayan tadi.


Para pelayan yang mendengar itu sedikit takut, siapa tahu nyonya mereka akan bersikap kasar lagi pada sang nona. "Mungkin nona sudah tertidur, nyonya," kata si pelayan berharap sang nyonya mengurungkan niatnya mendatangi nona mereka.


"Malah bagus saya bisa melihat wajah damai anak itu," timpal Pipit meninggalkan banyak tanda tanya di kepala para pelayan yang mendengar ucapannya.


"Ada apa dengan nyonya hari ini?" bisik salah satu di antara mereka mempertanyakan sikap nyonya mereka yang sangat bertolak belakang dari biasanya.


"Mana kutahu! Kamu nanya sama aku, terus aku nanya sama siapa?"


"Astaga, aku kan cuma nanya. Gak minta dijawab juga kok," kata si pelayan yang pertama seraya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Jangan berdebat hal yang tak penting, kerjakan saja pekerjaan kalian atau kepala pelayan akan memberi hukuman saat dia tahu kalian hanya sibuk berdebat!" tukas yang lain mengingatkan. Mendengar itu, semua pelayan membubarkan diri. Mereka sedikit kesal, tapi menerimanya karena apa yang dikatakan oleh rekan mereka tadi adalah kenyataan.


"Laura, ini mama. Boleh mama masuk?" tanya Pipit mengetuk pintu kamar sang anak. Hal yang biasanya tak pernah dia lakukan sama sekali beberapa tahun belakangan ini.


"Masuk saja, ma," balas Laura dari dalam.


"Ya, Tuhan. Mama kira kamu sedang berbaring atau tertidur karena lelah. Tapi apa ini, sayang?" tanya Pipit begitu dia masuk ke kamar sang anak. "Mengapa kamu malah duduk di depan meja belajar sambil membuka buku?" lanjut Pipit lagi.


"Laura tak sempat belajar sama sekali tadi, ma. Jadi Laura memilih membaca buku sebelum pergi tidur," balas Laura dengan datar.


"Kalau lelah harusnya kamu tak belajar, sayang. Tapi beristirahat, ya," kata Pipit dengan nada sangat pelan.


"Tapi Laura tak selelah itu," balas sang anak dengan cepat. Belajar adalah kewajibannya yang nomor satu, dia tak boleh melupakan hal itu.


Pipit tersenyum sedih, lagi dan lagi ini semua hasil dari keegoisannya sendiri. Dia tak pernah memikirkan apa yang terjadi pada anaknya dan bagaimana perasaan anaknya dulu, yang dia inginkan hanya menutup mulut orang-orang yang berbicara miring tentang mereka. Dirinya sudah ditinggal suami, dia tak ingin dicap tak becus sebagai ibu karena anaknya bodoh. Harusnya dia tak sekeras itu, harusnya dia tak seegois itu, hasilnya anaknya malah seperti sekarang. Tak kenal rasa lelah dan terus-menerus belajar.


"Biar mama temani, mama juga memiliki beberapa dokumen yang harus mama periksa," kata Pipit dengan cepat menguasai perasaan hatinya yang sedikit terguncang. Kalau anaknya memang ingin belajar, maka dia hanya harus menemani saja sebagai ibu. Karena dia tak pernah melakukan ini sebelumnya, maka Pipit membuat langkah pertama dengan mengerjakan dokumen-dokumen yang belum selesai dia periksa. Yah, meski dokumen itu tak terlalu penting sebenarnya. Yang dia inginkan adalah alasan agar bisa meluangkan waktu bersama dengan anaknya selama mungkin.


Jadilah ibu dan anak itu mengerjakan tugas mereka masing-masing. Laura menyibukkan diri dengan bukunya dan sang ibu, membaca dokumen sambil sesekali mencuri pandang ke arah sang anak.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2