WISH ...

WISH ...
28


__ADS_3

Makan malam ibu dan anak itu hancur sudah, mereka berdua sama-sama tak memiliki selera untuk melanjutkan makan malam yang berantakan ini. Semua karena sang ibu yang terlalu berpikir berlebihan, Pipit takut kalau anaknya sengaja menyembunyikan fakta tentang mantan suaminya yang berada di dekat sang anak.


Untungnya semua terselesaikan tanpa memerlukan waktu yang panjang, Laura mengatakan kalau dia tak peduli dan memang mereka tak harus memerhatikan pria jelek itu.


Untuk menyelamatkan makan malam yang berantakan, sang ibu mengusulkan untuk menikmati beberapa kudapan malam di balkon. Tentu saja tak ketinggalan minuman yang cukup hangat untuk hari yang sedikit dingin seperti malam ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Sepertinya akan hujan," bisik Pipit menatap langit yang terlihat sangat gelap.


"Apa, ma?" tanya Laura. "Laura gak terlalu denger," lanjut gadis itu.


"Bukan apa-apa, hanya saja sepertinya akan hujan sebentar lagi," tukas Pipit menimpali.


Laura mengangguk pelan. "Sepertinya begitu, tak ada bintang satu pun di langit," kata Laura memperhatikan langit yang luas dan berwarna hitam pekat tanpa satu pun taburan bintang di atas sana.


"Haruskah kita pindah?" ucap Pipit menanyakan pendapat sang anak.


"Tak perlu, ma. Di sini lebih segar," kata Laura jujur.


"Tapi akan sangat dingin kalau hujan tiba-tiba menguyur," timpal Pipit takut kalau anaknya kenapa-napa karena terlalu banyak terkena angin malam.


"Kalau sudah hujan, baru kita pindah," tukas Laura dengan nada datar.

__ADS_1


Pipit terdiam, ini salahnya. Dia terlalu keras, dia membuat anaknya seperti robot tanpa ekspresi sama sekali. "Apa yang sebenarnya sudah kulakukan, Tuhan," desah Pipit menghela napas panjang.


"Mama kenapa?" tanya Laura mendekati ibunya. Dia cemas, dia khawatir, ibunya tiba-tiba mendesah sangat lelah seperti barusan. "Kalau mama lelah, kita batalkan saja, ma," kata Laura pengertian walau tetap saja nadanya sangat datar terdengar.


"Maaf, maaf, mama salah!" kata Pipit memeluk sang anak untuk pertama kalinya.


"Ya?" Laura terlalu terkejut hingga dia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Matanya melotot karena sedikit shock, baru kali ini sang ibu memeluknya. Entah kapan terakhir kali mereka berdua berpelukan seperti sekarang. Laura bahkan tak yakin kalau mereka pernah melakukan hal seperti itu dulu.


"Ma, mama baik-baik saja, kan?" tanya Laura yang mau tak mau merasa resah dengan keadaan ibunya.


"Maaf, maaf sayang! Maaf sudah bersikap terlalu keras. Mama akan berubah, sedikit demi sedikit. Mama pasti bisa berubah, ya kan?" Pipit terisak, mengingat berapa banyak kata-kata kejam yang dia ucapkan pada anaknya. Berapa banyak kata pecutan yang dia lontarkan, dan berapa banyak beban yang dia berikan di pundak gadis kecilnya ini.


"Ma, mama kenapa?" tanya Laura yang tak kunjung juga mendapat jawaban. "Apa mama sakit?" tanya gadis itu lagi. "Ayo kita masuk kalau mama lagi gak enak badan," lanjut gadis itu seraya menepuk-nepuk punggung ibunya yang menangis tersedu-sedu.


"Ini semua kan untuk Laura, jadi mama hak perlu merasa bersalah," balas Laura penuh pengertian.


"Tidak, sayang. Harusnya mama tak usah peduli dengan pendapat orang. Harusnya mama lebih perhatian, bukannya meminta kamu belajar dan belajar," timpal Laura yang sepertinya sangat menyesal.


"Minggu ini kita liburan! Kita belanja! Makan di luar, bermain sepuasnya, lupakan soal tugas dan pelajaran!" lanjut Pipit yang berniat menebus kesalahan-kesalahan yang sudah dia lakukan selama ini.


"Tapi, ma. Ada ulangan hari senin. Gak mungkin kalau saya gak belajar," timpal Laura yang sudah terbiasa mengisi harinya dengan belajar sebanyak mungkin.


"Lupakan itu, lagi pula nilai kamu pasti tetap akan bagus. Siapa yang peduli kalau turun sedikit? Kita akan jalan-jalan pokoknya!" tukas Pipit sangat ingin menghabiskan waktu bersama dengan anaknya, sudah lama mereka tak ke luar berdua.

__ADS_1


Laura mengangguk di bawah tatapan penuh harap ibunya, seperti biasa, dia tak bisa menolak keinginan sang ibu. "Mari kita lakukan seperti yang mama inginkan," tukas gadis itu setuju.


Di balik pintu, beberapa pelayan yang hendak masuk mengantarkan makanan dan minuman yang diminta Pipit tadi, menangis terharu. Mereka bersyukur, nyonya mereka akhirnya melunak. Ke depannya, mereka berharap bisa melihat senyum nona mereka yang lebih lebar. Bukan hanya sekedar garis tipis yang singgah sesaat.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Minggu datang dengan cepat, Laura sudah bersiap dengan baju yang dipilihkan oleh sang ibu. Tepatnya, Pipit memberikan sebuah kotak berupa hadiah yang didalamnya terdapat satu setel baju cantik untuk anaknya gunakan di kencan mereka yang pertama. Ya, kencan. Pipit mengatakan kalau mereka berdua akan berkencan dan menghabiskan waktu dengan bahagia untuk beberapa jam kemudian. Lupakan semuanya, hanya tertawa dan lakukan apa saja yang mereka inginkan.


Pipit juga membebaskan anaknya untuk membeli apa saja yang Laura inginkan. Kalau ada yang Laura sukai, gadis itu boleh mengatakan pada sang ibu atau langsung saja masukkan dalam keranjang belanja.


"Kita sebenarnya akan ke mana, ma?" tanya Laura yang terlihat sangat imut berbalut baju pilihan ibunya.


"Rahasia!" kekeh Pipit bercanda. "Kencan yang indah itu adalah kencan yang penuh dengan kerahasiaan, sayangku!" kata Pipit menggoda anaknya.


Laura diam saja, dia tak lagi bertanya atau menanggapi. "Hah, baiklah, baiklah. Mama akan mengatakannya!" kata Pipit menyerah. "Kita akan cari tempat makan dulu. Setelah itu belanja, nonton film di bioskop, lalu keliling-keliling. Menikmati sore dengan beraneka macam jajanan pinggir jalan, kata anak buah mama ini wajib dilakukan. Lalu makan malam di restoran yang bisa dibilang mewah. Atau kamu memiliki tempat yang ingin kamu datangi, sayang?"


"Kita bisa ke sana kalau kamu mau!"


Laura menggelengkan kepalanya pelan. "Lakukan seperti yang sudah mama rencanakan saja, Laura suka dengan itu," kata sang anak yang terbiasa mengikuti kehendak mamanya.


Pipit menatap sedih sang anak, dia yang salah, jadi dia yang harus memperbaiki ini semua. Memang awalnya ini kesalahan Jamal yang membuat dirinya stress dan berakhir bersikap keras pada sang anak. Tapi selebihnya adalah kesalahannya sendiri, dia yang terus bersikap otoriter, dia yang banyak menuntut, dia juga yang tak pernah puas dengan apa pun yang anaknya dapatkan. Padahal dia bisa saja menutup mata dan telinga, tak memedulikan apa pun pendapat orang tentang mereka berdua. Tapi Pipit malah melampiaskan semua pada Laura, membuat anaknya terbebani dengan banyak tuntutan.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2