
“Bagaimana menurutmu?” tanya sang pemimpinnya balik, karena dia juga tidak tahu identitas seperti apa yang bisa membuatnya mendekati Ayana.
“Hmmm, … Bagaimana kalau identitasmu kali ini sebagai dokter saja! ini akan membuatmu mudah untuk mendapatkan darahnya dan dengan begitu kita bisa memastikan apakah benar di dalam tubuhnya ada kekuatan yang kita cari, bukan?” jelas Cade mengusulkan sesuatu yang akan memudahkan pekerjaannya nanti.
“Kau benar! Siapkan identitas itu untukku dan juga beberapa berkas yang bisa membantu untuk menguasai profesi itu dengan cepat. Untuk sisanya aku percayakan padamu,” ujar sang pemimpin yang menyetujui usulan dari Cade.
“Baiklah, aku pasti akan mengurus semuanya dengan sempurna. Kita bisa berangkat besok lusa, jadi gunakan waktu itu untuk mempelajari kehidupan sebagai dokter. Okay?” ujar Cade yang kemudian langsung berlalu meninggalkan sang pemimpinnya itu begitu saja. Karena banyak hal yang harus dilakukan oleh dirinya sebelum menuju tempat tujuan mereka.
“Haaah, … Bocah itu selalu saja berbuat seenaknya. Beruntung dia itu adikku, kala tidak mungkin sejak bayi aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri.” gerutu sang pemimpin sembari menatap tangannya yang mulai mengeluarkan api.
Setelah puas menghirup udara segar dan menikmati pemandangan langit malam, Zein memutuskan untuk kembali bergabung dengan yang lainnya.
Namun, betapa terkejutnya Zein begitu sampai disana dia melihat Ayana yang sudah mabuk berat.
Sepertinya selama Zein meninggalkannya, Jamie, Ailee dan yang lainnya terus memaksa Ayana untuk minum.
Sedangkan Ayana sendiri tidak mampu menolaknya dan sepertinya Ayana bukan gadis yang kuat terhadap alcohol.
“Astaga, apa yang kalian lakukan padanya sampai semabuk ini, Hah?” seru Zein yang langsung menghampiri Ayana yang sudah hampir tidak sadarkan diri itu.
“Hay, Ayana! Bangunlah, berapa banyak yang kau minum tadi?” tanya Zein yang berusaha menyadarkan Ayana yang telah mabuk berat itu.
“Jamie, berapa minuman yang tadi kau berikan padanya?”
Tersangka pertama yang ada di pikiran Zein adalah Jamie, karena itulah Zein langsung memberinya tatapan tajam dan juga pertanyaan dengan nada dinginnya.
“Zein, bukan aku yang memberikannya minuman. Aku baru saja kembali dari kamar mandi dan kekasihmu itu sudah terlihat seperti itu,” jelas Jamie yang tidak mau disalahkan atas perbuatan yang tidak dia lakukan.
“Lima, … Tidak, tidak sepertinya enam! Atau tujuh, … Atau delapan ‘yah? Akhhh, … Aku lupa menghitungnya. Zein, Ayo minum lagi bersamaku!” ujar Ailee yang berusaha menjawab pertanyaan dari Zein, tetapi dia sendiri juga terlihat sudah mabuk berat.
“Ailee! Ayo, kita minum satu gelas lagi! Hehehee, ….” seru Ayana dengan tiba-tiba yang membuat Zein dan Jamie menjadi terkejut.
“Haish, … Sudah berapa kali dia menakuti seperti ini!” gumam Zein dengan raut wajah kesalnya menatap kelakuan Ayana yang terus membuat dirinya ketakutan.
__ADS_1
“Astaga, dia mengejutkanku saja!” Jamie pun ikut mendengus kesal, kerena telah dikejutkan oleh Ayana.
“Sudahlah, aku akan membawanya pulang dulu. Kau juga bantu Ailee pulang kerumahnya, Jamie!” ujar Zein yang berusaha membantu Ayana berdiri dari tempat duduknya.
“Hah? Kenapa harus aku?” sahut Jamie yang merasa enggan untuk melakukannya.
“Karena aku lebih mempercayaimu daripada yang lainnya,” ujar Zein penuh penekanan.
“Dan kalian semua! Pulanglah sebelum mabuk berat, bantu rekan kalian yang sudah tidak sadarkan diri pulang kerumahnya. Mengerti?” pesan Zein kepada para karyawannya sebelum dirinya meninggalkan tempat itu.
“Baik, boss! Hati-hati dalam perjalanan anda, boss!” sahut beberapa karyawannya yang masih setengah sadar.
Setelah itu Zein pun langsung membawa Ayana kedalam mobilnya. Beruntung Zein tidak ikut mabuk, jadi dia bisa membawa mobilnya sendiri sampai dirumah. Sementara Ayana sudah tidak sadarkan diri begitu samapi didalam mobil.
“Haish, … Kenapa dia begitu ceroboh ‘sih!” gumam Zein yang sekilas menatap Ayana yang masih tertidur dengan tenang selama dia mengemudikan mobilnya.
Setelah hampir sepuluh menit mengemudikan mobilnya, akhirnya Zein sampai juga di basement apartement mewahnya. Karena Ayana sudah benar-benar tidak sadarkan diri lagi, Akhirnya Zein terpaksa menggendong tubuh mungil Ayana itu sampai didalam apartemen nya.
Dengan bersusah payah, akhirnya Zein berhasil membawa masuk Ayana dan membaringkannya di atas sofa.
“Hah, … Hah, … Ternyata dia cukup berat juga dengan tubuh mungilnya itu. Haaaah, ….”
Sesaat Zein berusaha menstabilkan deru nafasnya dan menatap Ayana yang masih tertidur pulas itu. Tidak lama, kemudian deru nafasnya mulai stabil dan Zein memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya, lalu setelah itu pergi tidur.
“Zein, Ayo kita minum satu gelas lagi. Aku belum minum bersamamu, Zein. Heheee, ….”
Ayana tiba-tiba bangun dari tidurnya, kemudian berseru memanggil Zein dan mengajaknya untuk minum.
“Astaga, jantungku yang sangat berharga,” geram Zein sembari memegangi dadanya yang serasa hampir terkena serangan jantung itu.
“Hay, bisakah kau tidak mengagetkan aku sehari saja. Kau tahu betapa a, _ ... Waaahhhh, … Apa yang kau lakukan sampai melayang diatas sana, Hah?” seru Zein yang lebih terkejut lagi begitu berbalik dan melihat Ayana yang sudah melayang-layang hampir menyentuh langit-langit apartemennya.
“Zein, aku sangat senang hari ini! Diriku seperti sedang terbang saja di udara sekarang! Rasanya sangat bebas dan nyaman,”
__ADS_1
Ayana terus meracau tidak jelas sembari mengeluarkan kekuatan air dan anginnya secara bersamaan.
“Hay, kau memang sedang terbang saat ini, Ayana! Cepat turun sekarang juga!” teriak Zein yang frustasi dengan kelakuan Ayana yang semakin parah saja saat mabuk.
“Tidak mau! Aku sangat senang hari ini, Yeaahh, ….”
Ayana ikut berteriak dan semakin menambah intensitas kekuatan anginnya. Kemudian, dia berputar-putar diatas sana hingga membuat semua perabotan rumah Zein yang berada di sekitarnya ikut terbawa terbang.
“Aishh, …ini semakin membuatku gila saja!” gerutu Zein yang semakin marah melihat keadaan apartemennya yang kacau balau oleh perbuatan Ayana.
“Kalau kau tidak mau turun sekarang juga, maka perjanjian kita batal. Kau keluar dari rumahku dan hidupku sekarang juga. Mengerti!” bentak Zein yang sudah tidak bisa bersabar lagi dengan kelakuan Ayana yang sedang mabuk itu.
Mendengar ancaman dan bentakkan dari Zein, Ayana pun langsung turun dan kembali menyembunyikan kekuatannya.
Dia menunduk sembari menghampiri Zein, tetapi Zein yang telah telanjur marah hanya diam dan meninggalkan Ayana begitu saja masuk kedalam kamarnya.
Bersambung,.......
...****************...
Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗
Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 10 pagi ‘yah!😍😍
Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰
Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰
Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat.
Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓
Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!
__ADS_1
Agar tidak ketinggalan kisah seru antara Zein si Ceo tampan dengan tokoh animasi ciptaannya yang berubah menjadi manusia. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!
Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘