
“Baiklah, kalau begitu silahkan anda berdua ikut kami ke kantor untuk memberikan kesaksian,” ujar salah satu polisi tersebut yang tidak bisa berbuat banyak.
Karena saat ini belum menemukan bukti yang cukup kuat untuk menjadikan Zein dan Jamie sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan yang terus terjadi. Ketika keduanya hendak di giring masuk ke dalam mobil polisi tersebut, Zein dengan Jamie pun segera menepisnya dengan kasar.
“Jangan perlakukan kami layaknya seorang tersangka! Untuk menuntut kalian balik dan memastikan kalian tidak bisa bertugas lagi adalah hal yang sangat mudah untuk aku lakukan,” berang Zein dengan raut wajah kesalnya.
“Kami akan datang sendiri menggunakan mobil mewah yang kami miliki! Kami tidak akan pernah sudi menaiki mobil seperti ini,” ketus Jamie yang menatap benci pada sekelompok polisi itu.
“Hubungi kontak ini, jika kau sudah menentukan jadwal untuk kami memberikan kesaksian.”
Zein menyerahkan sebuah kartu nama miliknya pada salah satu polisi itu dengan sikap yang sedikit kasar. Jujur saja, dia masih tidak terima dengan sikap kurang ajar para polisi itu karena menuduh Jamie dan dirinya sebagai pembunuh.
Jika saja mereka bisa mengetahui identitas di balik sosok pria berjubah itu, maka Zein akan dengan lantang memberitahu siapa pembunuh aslinya.Tanpa membuang waktu lagi, Zein meninggalkan para polisi itu yang diikuti Jamie di belakangnya.
“Ceo N-Grey Animation, Zeinder Marcellino! Aku akan buktikan bahwa kau pelaku dari pembunuhan berantai ini,” gumam salah satu polisi sembari menyeringai menatap kepergian Zein dan Jamie.
...****************...
Beralih sejenak pada sosok dua pria berjubah yang tak lain dan tak bukan adalah Zuko dan Cade. Keduanya tampak terluka cukup parah karena terlalu memaksakan kekuatan mereka agar bisa menembus batas pelindung yang di buat oleh Ayana dengan menggunakan seluruh kekuatan elemen yang gadis itu miliki.
Cade yang pada awalnya memang sudah terluka akibat serangan dari Ayana yang saat itu tidak bisa terhindari lagi, akhirnya menyebabkan lukanya semakin parah karena membantu Zuko menembus batas perlindungan itu.
Pada akhirnya Zuko memutuskan untuk kembali ke laboratorium rahasianya untuk memulihkan diri dan mengobati Cade yang sudah tidak sadarkan diri. Sejak awal, Zuko tidak pernah menyangka bahwa Ayana bisa merasakan kekuatan energi mereka dari jarak sejauh itu.
__ADS_1
Rencana awal yang ingin menjadikan jantung Zein dan Jamie sebagai salah satu korban persembahan yang akan dia persiapkan, malah hampir saja membuat jantung mereka yang berhenti berdetak.
Setelah membaringkan tubuh Cade yang sudah tidak sadarkan diri selama dalam perjalanan, Zuko mencari sebuah obat yang dia simpan di tempat rahasianya.
“Uhuuk, … Uhuuk, … Byurr, ….”
Setelah beberapa kali sempat terbatuk, akhirnya Zuko memuntahkan darah segar dari mulutnya. Di saat yang bersamaan dia berhasil menemukan obat yang dia cari. Tanpa buang waktu, Zuko langsung menenggak sebotol kecil obat yang ada di tangannya.
“Sial, hampir saja aku mati di tangan mahluk yang aku panggil sendiri! Uhuukk, …” umpat Zuko yang masih terbatuk darah beberapa kali meski telah menelan obatnya.
“Akan aku pastikan kau mati di tanganku gadis sialan!” sambung Zuko sebelum pandangannya teralihkan pada Cade yang masih tak sadarkan diri.
Zuko lalu megambil sebuah obat lain dan menyuntikkannya pada tubuh Cade. Perlahan Cade pun membuka matanya, walaupun masih belum bisa menggerakkan seluruh anggota butuhnya. Setidaknya Cade masih bisa di selamatkan dari kejadian tidak terduga itu.
“Haruskah aku merasa lega karena berhasil bertahan hidup setelah menembus pertahanan yang begitu kuat dari gadis itu,” ucap Cade yang masih bisa tertawa dalam dirinya begitu lemah.
“Gadis itu memiliki kekuatan yang sangat kuat! Jika kita berhasil merebut kekuatannya, maka tanpa memanggil mahluk lain kita sudah bisa menguasai dunia ini,” ujar Cade lagi yang membuat Zuko kembali menatapnya.
“Maka dari itu, kali ini kita tidak boleh gegabah dan mengacaukan semua rencananya.” Zuko mengingatkan bahwa kejadian kali ini tidak boleh terulang kembali.
...****************...
Di apartemen milik Jamie, ….
__ADS_1
Ayana masih saja memejamkan matanya dengan begitu tenang. Ternyata setelah kepergian Zein, Ailee membantu Ayana untuk berganti pakaian dengan meminjam salah satu baju Zein yang tertinggal di sana. Bahkan Ailee juga memberikan selimut ketika menyadari suhu tubuh Ayana yang terasa begitu dingin.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Zein yang langsung menghampiri Ayana dan Ailee yang duduk di samping sofa.
“Dia belum bangun sama sekali! Karena bajunya ada noda darah, makanya aku menggantinya dengan baju milikmu yang tertinggal di lemari Jamie,” terang Ailee dan Zein pun hanya mengangguk mengerti tanpa berkata apapun lagi.
“Zein, siapa Ayana sebenarnya? Kenapa dia bisa melawan sosok aneh pria berjubah itu?” tanya Jamie yang tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.
“Benar, Zein! Apa kau tahu betapa terkejutnya aku ketika melihat Ayana tiba-tiba melompat dari jendela apartemen ini? Sedangkan yang kita ketahui apartemen ini ada di lantai 25 dan begitu aku memastikan keadaan tubuhnya, sama sekali tidak ada jejak orang jatuh dari lantai setinggi ini,” cecar Ailee yang sudah cukup menahan rasa ingin tahunya.
“Jika aku memberitahu kalian siapa Ayana sebenarnya, bisakah kalian berjanji satu hal padaku?” pinta Zein setelah cukup lama terdiam menatap kedua sahabatnya itu.
“Tolong jangan jauhi Ayana, karena dia berbeda dari kita! Kalian cukup ingin bahwa Ayana hanya gadis baik hati yang begitu tulus dan polos dalam segala hal di dunia ini,” lanjutnya menatap kedua sahabatnya penuh harap.
“Tentu, Zein! Sejauh ini kami bisa merasakannya dengan jelas, bahwa Ayana menyayangi kami dengan tulus sebagai temannya! Jadi, meski dia berbeda kami akan tetap memperlakukan dia seperti biasanya. Kami hanya cukup ingin tahu siapa Ayana sebenarnya dan darimana dia berasal?” terang Jamie yang langsung di angguki oleh Ailee.
Zein menatap haru pada kedua sahabatnya itu. Jujur saja, Zein merasa sangat beruntung mendapatkan sahabat sebaik Jamie dan Ailee. Mereka berdua adalah sahabat yang selalu ada di saat dirinya sedang kesusahan maupun bahagia.
Mereka ‘lah sosok yang bisa Zein jadikan sebagai pengganti kehadiran orang tuanya yang telah tiada dan saudara yang akan selalu ada kapan pun dia butuhkan.
“Sebenarnya Ayana adalah tokoh animasi yang kita luncurkan beberapa waktu yang lalu,” ungkap Zein yang tidak ingin menyimpan rahasia itu dari Jamie dan Ailee.
“Mungkin kalian tidak akan pernah bisa mempercayainya dan aku bisa memahami itu, _....” Zein tampak menggantung perkataannya.
__ADS_1
Bersambung, ......