You Are My Anime

You Are My Anime
Korban Terus Berjatuhan


__ADS_3

Cup, …


Sebuah kecupan manis Zein daratkan pada bibir Ayana. Dan sontak saja membuat Ailee dan Jamie yang melihatnya menatap tak percaya pada Zein. Sebab Zein yang mereka kenal selama ini sangat anti dengan yang namanya sentuhan, apalagi dengan dengan seorang wanita.


“Wow, … Pemandangan yang aku lihat barusan bahkan lebih menarik dari film yang aku rekomendasikan untukmu, Ayana!” celetuk Ailee tanpa sadar.


“Jangan berlebihan! Kau dan Jamie pasti sudah melakukan lebih dari sekadar ciuman, bukan?” balas Zein yang hanya asal bicara, dia tidak tahu saja kalau Jamie dan Ailee bahkan sudah saling berbagi kehangatan satu sama lain.


“Yakh, … Jangan membuat gossip yang tidak-tidak, Zein!” teriak Ailee yang takut aibnya terbongkar.


“Hay, kenapa kau begitu marah? Aku hanya asal bicara saja barusan, tapi melihat reaksimu sepertinya, _…”


Sedangkan Jamie malah diam-diam menertawakan kelakuan Ailee yang seperti kebakaran jenggot, mendengar Zein yang asal bicara tapi pembicaraan itu memang benar sudah terjadi. Ailee pun menjadi semakin merasa kesal, dia menarik kembali camilan yang dia bawa dan beranjak ke arah dapur milik Jamie.


“Sudahlah, biar aku saja yang menyiapkan camilannya! Kalian berdua buat makan malam saja!” ketus Ailee yang melewati Jamie begitu saja.


Jamie hanya terkekeh melihat betapa menggemaskannya Ailee ketika marah seperti itu. Berbeda dengan Zein dan Ayana yang saling melempar tatapan bingungnya. Padahal apapun yang telah Jamie dan Ailee lakukan, dia sama sekali tidak akan tertarik untuk mengetahui kehidupan pribadi keduanya.


“Zein, aku akan mempersiapkan bahan masakannya dulu!” seru Jamie memberitahu.


“Okay!” sahut Zein yang mendudukkan tubuhnya di samping Ayana, kemudian memeluk tubuh mungil kekasihnya itu.


Sedangkan di dapur, Jamie langsung memeluk tubuh Ailee dari belakang. Terlihat Ailee yang sedikit terkejut dengan aksi Jamie yang tiba-tiba memeluknya, bahkan sesekali menciumi bahunya. Meski begitu Ailee tidak menolaknya, dia tetap membiarkan Jamie menghirup aroma tubuhnya.


“Jangan marah seperti itu! Kau tahu bagaimana Zein, meski dia sudah mengetahuinya bahwa kita pernah tidur bersama dia pasti tidak akan peduli. Palingan hanya mendesak kita berdua untuk segera menikah, sebelum ada nyawa yang tubuh di dalam sini!” bisik Jamie sembari mengelus lembut perut Ailee yang masih rata.


“Apa kau pikir aku akan langsung hamil hanya karena kita satu kali tidur bersama?” tanya Ailee.


“Mungkin saja,” jawab Jamie masih mengelus perut Ailee.

__ADS_1


“Apa yang akan kau lakukan jika aku benar hamil?” tanya Ailee lagi.


“Saat itu juga kita berdua akan menikah!” jawab Jamie dengan keyakinan dan percaya dirinya.


“Sudah sana masakan sesuatu untuk makan malam! Aku sangat lapar sekarang, karena aku tadi melewatkan makan siangku,” ujar Ailee yang mengalihkan topik pembicaraan karena merasa sangat malu.


“Baiklah!”


Jamie pun melepas pelukannya, lalu mengecup bibir Ailee sekilas. Kemudian, dia berjalan menuju kulkasnya. Begitu dia membukanya, tidak ada satu bahan makanan pun yang tersisa. Kulkasnya tampak begitu bersih bahkan es batu pun tidak ada di dalamnya.


“Astaga, aku lupa sudah beberapa hari ini aku selalu pesan makanan lewat online,” gumam Jamie merutuki kebodohannya sendiri.


“Ada apa?” tanya Ailee yang akhirnya mendekat ketika mendengar Jamie bergumam dan menghela napas panjang.


“Aku lupa sudah beberapa hari belum belanja,” jawab Jamie berharap Ailee mau menemaninya pergi berbelanja.


“Kalau begitu selamat menikmati berbelanja dengan Zein!”


“Astaga, apakah ekspetasi ku tadi terlalu tinggi?” gumam Jamie.


Benar saja, setibanya di ruang tamu Ailee langsung mengusir Zein untuk pergi belanja bersama dengan Jamie. Sedangkan Ailee sendiri akan menonton film bersama dengan Ayana sambil memakan camilan yang sudah dia siapkan. Alhasil, Zein dan Jamie diusir keluar untuk belanja di supermarket terdekat.


...****************...


Sementara di tempat lainnya, seperti yang Ayana duga sejak awal Zuko memerintahkan beberapa pengikutnya untuk mengawasi pergerakan Ayana. Dari sisi apartemen lainnya, Zuko dan Cade terus memperhatikan apa yang Ayana lakukan di dalam apartemen Jamie.


Sontak hal itu membuat Zuko menjadi semakin marah, karena meskipun dia sudah membunuh manusia yang tidak bersalah dengan mengambil jantungnya. Dan apa yang dia lihat sekarang, Ayana tidak melakukan pergerakan apapun meski telah mengetahui bahwa pembunuhan itu adalah perbuatannya.


“Sialan, beraninya dia mengabaikan peringatan yang begitu jelas aku tunjukan kepadanya,” geram Zuko sampai membuat retak dinding beton yang dia pukul dengan tangannya.

__ADS_1


“Dia mahluk yang sangat special! Bukan hanya penampilannya saja yang menarik, kekuatan dan karakternya juga sangat menarik,” ujar Cade yang harus mengakui semua kelebihan Ayana.


“Sudah berapa banyak persembahan yang kita persiapkan untuk ritualnya?” tanya Zuko memastikan.


“Untuk jantungnya kita sudah mendapatkan sepuluh, kemarin enam dan tadi empat. Jadi, kurang tiga lagi. Sedangkan untuk gadisnya sudah lengkap, tersisa hanya tiga bayi laki-laki yang baru lahir dan seorang wanita hamil yang akan di jadikan wadah untuk mentransfer kekuatan mahluk itu,” terang Cade dengan santainya seolah mereka tengah mengumpulkan sebuah batu kerikil.


“Baguslah, masih tersisa tiga! Jadi, jika ditambah dua oleh jantung dua pria yang selalu bersamanya itu maka hanya tersisa satu jantung lagi,” ujar Zuko yang telah merencanakan sesuatu di lihat dari seringainya.


“Apa rencanamu kali ini?” tanya Cade yang penasaran.


“Kita ambil jantung kedua pria yang baru saja keluar dari apartemen itu,” jawab Zuko disertai seringai jahatnya.


“Baiklah, sebelum mereka kembali! Aku akan mencari korban selanjutnya, kau tetap di sini atau ikut pergi?” ujar Cade yang tidak tahan ingin membunuh seseorang lagi.


“Tentu saja! Aku akan ikut, bagaimana kalau membunuhnya tepat di depan dua orang itu?” Zuko menyarankan hal yang lebih menyenangkan menurut mereka.


“Ide yang sangat bagus,” ujar Cade yang sangat menyetujui ide gila dari kakaknya.


Rencana keduanya pun di mulai, dimana Zein dan Jamie yang tengah dalam perjalanan pulang setelah selesai membeli beberapa bahan makanan di supermarket yang memang hanya berjarak beberapa meter saja dari apartemen tersebut.


“Hay, kenapa kau membeli dagingnya sedikit sekali? Apa kau tidak tahu kalau pria yang lebih sering makan banyak daging nanti anaknya akan laki-laki,” protes Zein ketika menyadari Jamie hanya mengambil beberapa potong daging saja.


“Yakh, … Kau tahu sendiri ‘kan kalau kau tidak begitu menyukai yang namanya daging! Jadi, kalau kau makan banyak daging kau harus membelinya pakai uangmu sendiri,” balas Jamie.


“Aish, … Kau, _....”


“Aaaaakh, ….” Tiba-tiba sebuah teriakan yang begitu keras dan menyakitkan terdengar oleh keduanya.


Bersambung, .....

__ADS_1



__ADS_2