You Are My Anime

You Are My Anime
Kembali Jatuh Korban


__ADS_3

Setibanya di kantor kepolisian Zein dan Jamie di bawa ke ruangan interogasi yang berbeda. Di waktu yang bersamaan Zein dan Jamie kembali di cecar dengan berbagai pertanyaan. Dimana keduanya di paksa untuk mengakui perbuatan yang sama sekali tidak mereka pernah lakukan. Beruntung pengacara yang di percaya oleh Ailee menyusul keduanya tepat waktu.


Baiklah beralih pada Jamie terlebih dahulu yang tentunya tidak akan pernah terima di katakan sebagai pembunuh. Sebab sudah sangat jelas dari keterangan yang dia buat sebelumnya sebagai saksi, bahwa dirinya dan Zein bisa di katakan sebagai salah satu korban selamat dari tragedy pembunuhan berantai malam itu.


“Harus aku katakan berapa kali lagi, Hah! Bahwa kami tidak akan mungkin membunuh mereka yang ada kami juga merupakan korban saat itu,” geram Jamie berusaha menekankan nada bicaranya yang ingin sekali menggunakan nada tinggi, tapi dia masih mencoba untuk menghormati pihak kepolisian setempat.


“Jika anda memang menjadi salah satu target dari pelaku pembunuhan berantai itu. Lalu kenapa hanya anda berdua yang selamat dalam insiden malam itu? Sedangkan yang lainnya berhasil di bunuh bahkan tepat di depan mata kalian sendiri?” Polisi yang bertugas menginterogasi Jamie terus mencoba mendesak Jamie.


“Mana kami tahu apa yang pembunuh itu pikirkan saat lari begitu saja mendengar suara wanita itu!” ujar Jamie yang tidak mungkin mengatakan bahwa mereka selamat berkat kedatangan Ayana yang berhasil mengalahkan pada pembunuh berantai yang bukan merupakan manusia biasa.


“Kenapa anda selalu saja bermain kata seperti ini? Tidak bisakah anda mengakui saja bahwa anda dan Tuan Zein yang merencanakan pembunuhan berantai dan penculikan itu?”


Polisi itu semakin mendesak Jamie untuk mengakui hal yang tidak dia lakukan dengan menaikan nada bicaranya beberapa oktaf.


“Yakh, … Apa kalian mempunyai bukti bahwa kami pembunuhnya? Apakah sidik jari kami ada pada tubuh korban?”


“Lalu jika kami memang pembunuhnya seharusnya pada saat itu kami berdua berlumuran darah segar?”


“Bukankah hasil otopsi kematiannya sudah jelas menunjukan bahwa kematian orang tersebut tidak memungkinkan kami untuk melenyapkan semua buktinya dengan cepat!”


“Apalagi jantung mereka yang di ambil? Makanya kalau bekerja pakai otak jangan asal menuduh saja! Kami bisa saja menuntut kalian balik atas pencemaran nama baik!”


Bukannya takut Jamie malah semakin mencecar polisi itu hingga terdiam. Bagaimana bisa polisi itu membalas perkataan Jamie, kalau semua yang di katakan olehnya memang sangat masuk akal dan sangat bertolak belakang dengan semua hasil penyelidikan yang mereka lakukan.


...****************...

__ADS_1


Kini mari lihat bagaimana proses interogasi Devan langsung pada Zein. Sepertinya tidak begitu heboh seperti yang terjadi pada Jamie.


Ruangan interogasi itu malah terkesan penuh ketegangan, apalagi Zein yang menanggapi semua pertanyaan Devan dengan santainya. Hal tersebut malah membuat Devan semakin emosi di buatnya karena merasa di permainkan, padahal Zein menjawabnya sesuai dengan fakta yang terjadi.


“Kenapa kau membunuhnya?” tanya Devan dengan nada menekankan.


“Kenapa kau bertanya padaku ataupun sekertaris ku? Bukankah seharusnya kau menanyakan pertanyaan itu pada pelakunya?” Bukannya menjawab Zein malah secara tidak langsung memberikan saran kepada Devan.


“Jangan bermain-main! Jawab saja pertanyaanku dengan jelas dan akui semua perbuatanmu?” bentak Devan, tapi tak membuat Zein merasa gentar sedikitpun.


“Pertanyaan yang mana? Dan perbuatan apa yang harus akui? Karena sejak awal kau memang sudah salah menangkap dan menuduh orang lain sebagai pelakunya. Sedangkan pelakunya masih berkeliaran di luar sana mencari mangsa baru,” ujar Zein masih dnegan sikap santainya.


“Apa masih tidak mau mengakuinya juga, _....”


“Ya!” potong Zein dengan cepat dan penuh percaya diri.


“Kau, _....”


“Hentikan interogasi ini dan bebaskan mereka berdua sekarang juga!”


Lagi-lagi Devan tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika suara bentakan dari Atasannya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang interogasi tersebut dengan raut wajah yang terlihat sangat marah.


Dan yang lebih membuat Devan terkejut atasannya memerintahkan untuk membebaskan Zein dan Jamie saat itu juga.


“Tapi, _....”

__ADS_1


“Jangan membantah perintahkan! Segera lepaskan mereka dan minta maaflah dengan benar, karena kau sudah menahan orang yang tidak bersalah!” bentak sang Atasan menatap tajam pada Devan.


“A-apa maksud, _....”


“Telah kembali jatuh korban yang sama di luar sana, sementara kau focus menyalahkan orang yang menjadi saksi kunci dari pembunuhan yang tengah terjadi! Apakah kau masih bisa menyebut dirimu sendiri sebagai seorang polisi, Hah!” terang Sang Atasan dengan begitu jelas hingga membuat Devan seketika terdiam tak mampu berkata apapun lagi.


“Ti-tidak mungkin! A-aku sangat yakin kalau, _....”


“Atas kesalahanmu ini kau akan di tarik dalam kasus ini dan diskors selama satu bulan! Itu menjadi hukuman yang tepat untukmu, karena terlalu bertindak gegabah sebagai anggota kepolisian!”


Final sang Atasan yang harus memberikan hukuman yang tegas atas kesalahan anak buahnya. Devan tidak bereaksi apapun mendengar hukuman yang harus dia terima.


Sebab dia masih tidak bisa mempercayai apa yang di katakan oleh Atasannya bahwa telah kembali jatuh korban dia saat dia percaya bahwa dia sudah menangkap pelakunya.


Begitu juga dengan Zein dan pengacaranya yang masih terdiam memperhatikan perubahan raut wajah Devan. Zein yang sebenarnya telah mengetahui bahwa bukan manusia biasa yang menjadi pelakunya membuat dia sedikit merasa kasihan pada Devan.


Jujur saja, Zein mengakui antusias Devan dalam melaksanakan tugasnya sebagai polisi dengan berusaha menangkap siapa pelakunya. Namun sikap gegabah polisi itu sedikit Zein sayangkan, apalagi dia dan Jamie yang menjadi salah targetnya.


“Tuan Zein, kami sungguh sangat meminta maaf atas kejadian yang membuat anda mengalami kerugian cukup besar! Kami akan membantu untuk memulihkan nama anda di mata masyarakat secepat mungkin,” ujar sang Atasan yang membungkukkan badannya pada Zein sebagai bentuk permintaan maafnya.


“Bicarakan saja lewat pengacaraku! Aku harus pergi, karena berkat kalian aku semakin banyak masalah yang harus aku selesaikan.”


Zein berlalu pergi begitu saja begitu selesai mengatakan itu dengan nada dinginnya. Hingga siapapun akan sadar bahwa dia tidak akan diam saja setelah di tuduh sebagai seorang pembunuh dan bahkan di tangkap ketika sedangkan banyak wartawan di perusahaannya.


Sedangkan sedangkan disisi lain, Cade menatap puas pada korban ritual yang akhirnya sudah lengkap. Tinggal tersisa tiga bayi laki-laki yang baru lahir dan seorang yang akan di jadikan wadah sementara. Dan semua itu akan di urus oleh Zuko tanpa perlu bantuannya, lalu hanya tinggal menunggu waktu gerhana bulan merah terjadi.

__ADS_1


Bersambung, .....



__ADS_2